Industri menjadi sektor yang berpeluang mendorong realisasi energi terbarukan, khususnya surya, di Indonesia. Permintaan PLTS atap untuk industri tumbuh.
07 Feb 2025 07:00 WIB · Ekonomi
Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya atap, sebagai salah satu jenis energi terbarukan, terus tumbuh, salah satunya oleh industri. Tak sekadar meningkatkan daya untuk kebutuhan kelistrikan pabrik, tetapi juga turut menekan biaya operasional hingga mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan PLTS atap ikut mendukung dekarbonisasi Indonesia.
Hal tersebut salah satunya dilakukan PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari. Sejak September 2022, pabrik terigu Bogasari di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menggunakan PLTS atap dengan kapasitas 1 megawatt-peak (MWp) sebagai bagian dari komitmen industri hijau. Sebanyak 2.274 unit panel surya terpasang dengan luas 4.600 meter persegi.
Lebih dari dua tahun berjalan, sejumlah manfaat didapatkan melalui penggunaan PLTS atap tersebut. ”Biaya operasional yang terpangkas sebesar 1,1 persen dari biaya penggunaan listrik keseluruhan. Emisi karbon yang ditekan sebesar 2.382.536 kilogram CO2 ekuivalen,” ujar Vice President Bogasari Plant Cibitung Riefky Dwijaya, Rabu (5/2/2025).
Ia menambahkan, pemanfaatan PLTS atap terbilang efektif karena daya listrik yang dihasilkan, yakni 3.000 MWh, 12 persen lebih tinggi dari yang direncanakan yang sebesar 2.679 MWh. Dalam investasi PLTS atap tersebut, Bogasari bekerja sama dengan PT Cikarang Listrindo. Kebutuhan pembiayaan krusial antara lain pada penguatan struktur bangunan atap dan surat laik operasi PLTS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/09/32d1e6d6-84aa-482a-b459-fc6419fff360_jpg.jpg)
Menurut rencana, Divisi Bogasari akan memperluas penggunaan PLTS atap di sejumlah pabrik lain secara bertahap. Misalnya, pabrik di Jakarta akan dipasang PLTS atap dengan kapasitas 3,9 MWp dan pabrik di Surabaya akan dipasang PLTS berkapasitas 1 MWp.
Namun, diakui Bogasari, masih ada sejumlah tantangan dalam implementasi PLTS atap oleh industri. Salah satunya terkait kapasitas PLTS atap yang masih dibatasi di satu lokasi agar tak mengganggu kestabilan jaringan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Bagaimanapun, industri tetap membutuhkan pasokan listrik PLN sebagai backup karena PLTS bersifat intermiten (bergantung pada cuaca).
Tantangan lainnya ialah tidak semua bangunan industri didesain untuk menopang beban tambahan dari panel surya dan mounting (dudukan) nya. Oleh karena itu, penguatan struktur tetap diperlukan agar penambahan beban akibat pemasangan panel surya tak menyebabkan kerusakan bangunan dan tidak melanggar regulasi terkait bangunan.
Potensi energi surya di Indonesia begitu besar. Salah satunya karena Indonesia negara tropis yang dilalui garis khatulistiwa.
Di samping itu, juga ada tantangan terkait pemeliharaan. ”Kondisi area yang berdebu mengakibatkan pemeliharaan dan pembersihan panel harus lebih intensif. (Itu diperlukan) Agar efisiensi listrik yang dihasilkan oleh PLTS atap tetap optimal,” kata Manajer Energy Management System and Sustainability Bogasari Yoga Nirmolo.
Pemanfaatan energi terbarukan menjadi bagian dari upaya Bogasari mendukung industri hijau. Sejumlah upaya lain ialah melalui penerapan sea water reverse osmosis di pabrik Jakarta dan Surabaya; rain harvesting atau memanen air hujan; instalasi pengolahan air limbah domestik; komposting; penghijauan; dan peralihan bahan bakar yang lebih rendah emisi di dalam pabrik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/26/adfca80a-8270-4226-8d5a-cd9cba9759a3_jpg.jpg)
Perusahaan lain yang juga memasang PLTS atap ialah PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), BUMN pupuk di Indonesia yang memproduksi urea, NPK, dan amonia. Hingga awal 2024, total kapasitas terpasang PLTS atap yakni sebesar 110 kilowatt peak (kWp). Hal itu menjadi bagian dari dekarbonisasi atau upaya penurunan emisi perusahaan (Kompas, 29/2/2024).
Penambahan kapasitas terus dilakukan oleh Pusri, sebagaimana ditugaskan oleh PT Pupuk Indonesia sebagai perusahaan induk (holding) BUMN Pupuk. Paling lambat pada 2026, Pusri menargetkan kapasitas terpasang akan ditingkatkan menjadi 500 kWp.
Peningkatan penggunaan PLTS atap juga dirasakan SUN Energy, perusahaan penyedia solusi energi surya yang mencakup survei, desain sistem, pembiayaan, pemasangan, pengoperasian, hingga pemeliharaan jangka panjang. Hampir dalam satu dekade terarkhir, seiring komitmen transisi energi berbagai negara, termasuk Indonesia, permintaan pemasangan PLTS atap meningkat.
Group Head of Finance SUN Energy Vicky Lono mengatakan, kendati masih ada berbagai tantangan, transformasi pemanfaatan energi surya di Indonesia meningkat. Dari sisi teknologi, biaya produksi dan pemasangan panel surya terus menurun sehingga semakin ekonomis untuk sektor komersial, industri, serta residensial.
Salah satu langkah penting ialah terbitnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 Tahun 2024 tentang PLTS Atap yang Terhubung pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum. Regulasi itu mencakup sistem kuota guna mendorong pemanfaatan energi surya secara lebih terstruktur dan terukur.
”Konsep green industry oleh Kementerian Perindustrian juga turut mendorong adopsi energi surya. Konsep ini mendorong industri mengurangi jejak karbon melalui efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan, termasuk PLTS. Semakin banyaknya pelaku industri yang berkomitmen memenuhi standar green industry, kebutuhan solusi energi surya juga meningkat,” kata Vicky.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/f236e46b-d187-4acb-bf5a-4710cb6b923e_jpg.jpg)
Pada 2024, SUN Energy meningkatkan kapasitas terpasang proyek-proyek energi surya, termasuk di antaranya sejumlah proyek besar di sektor komersial dan industri, hingga mencapai 185 MWp. Selain itu, dilakukan kolaborasi dengan sejumlah lembaga keuangan, seperti Bank Permata, Bank Mandiri, Nanobank Syariah, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), dan SMBC Indonesia, dalam rangka mendukung proyek-proyek SUN Energy.
Merujuk data PLN, kapasitas PLTS atap meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2023, kapasitas PLTS atap mencapai 141 MWp atau meningkat dari 2022 yang 80 MWp. Peningkatan itu tidak terlepas dari tumbuhnya permintaan masyarakat dan sektor industri untuk turut meningkatkan realisasi energi terbarukan di Indonesia.
Pengamat ekonomi energi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, Yayan Satyakti, menuturkan, potensi energi surya di Indonesia begitu besar. Salah satunya karena Indonesia negara tropis yang dilalui garis khatulistiwa. Namun, lantaran bergantung cuaca, dibutuhkan teknologi tambahan, seperti sistem penyimpanan energi (baterai), agar optimal.
Namun, sistem penyimpanan baterai untuk energi terbarkan saat ini masih tahap pengembangan dan harganya pun relatif mahal. ”Energi surya ini berkaitan erat dengan persoalan keandalan. Dengan kondisi intermiten, maka idealnya (energi) disimpan untuk kemudian digunakan di waktu tertentu saat beban puncak (listrik). Namun, sistem baterai ini juga membutuhkan investasi,” katanya.
Di sisi lain, kata Yayan, energi terbarukan juga masih harus bersaing dengan energi fosil yang masih lebih banyak tersedia dengan harga yang lebih murah. Pada akhirnya, keekonomian turut menentukan optimal atau tidaknya pengembangan energi terbarukan, termasuk di antaranya energi surya melalui PLTS.
Melihat dorongan penerapan green industry, sektor industri berpeluang menjadi kontributor utama dalam peningkatan realisasi energi surya di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang mendera, pemanfaatan energi bersih, dalam skala apa pun, turut mendukung dekarbonisasi dan berkontribusi pada target emisi nol bersih (net zero emission) Indonesia pada 2060.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan