Bagaimana mengetahui beras berkualitas dan tidak. Kualitas gabah dan penjemuran pengaruhi kualitas beras. Benarkah beras telah tercampur sejak dari hulu?
20 Jul 2025 10:26 WIB · Ekonomi & Bisnis
Beberapa hari terakhir isu beras oplosan menyeruak setelah Kementerian Pertanian menemukan 212 merek beras medium dan premium tidak sesuai standar mutu dan takaran. Beras-beras itu dijual di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, temuan itu berdasarkan hasil uji 268 merek beras medium dan premium di 13 laboratorium independen di seluruh Indonesia pada 6-23 Juni. Sampelnya diperoleh dari 10 provinsi penghasil utama beras di Tanah Air.
Tak hanya beras oplosan, Kementan juga menemukan beras biasa (curah) yang dijual sebagai beras premium. Beras yang biasanya Rp 12.000-Rp 13.000 per kilogram dijual hingga Rp 15.000 per kilogram. Polisi lantas turun tangan menyelidiki kasus ini.
Tata niaga beras sendiri sebenarnya sudah diatur. Badan Pangan Nasional, dalam siaran persnya, menyebut, kelas mutu beras premium diatur Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023.
Merujuk itu, untuk beras premium harus memiliki kualitas. Hal itu seperti butir patah maksimal 15 persen, kadar air maksimal 14 persen, dan derajat sosoh minimal 95 persen.
Selain itu, butir menir maksimal 0,5 persen, total butir beras lainnya (butir rusak, butir kapur, butir merah atau hitam) maksimal 1 persen hingga butir gabah dan benda lain harus nihil.
Adapun Standar Nasional Indonesia (SNI) 6128:2020 beras premium nonorganik dan organik harus mempunyai komponen mutu. Itu adalah butir patah maksimal 14,5 persen, butir kepala minimal 85 persen, butir menir maksimal 0,5 persen, dan butir merah/putih/hitam maksimal 0,5 persen.
Selain itu, ada butir rusak maksimal 0,5 persen, butir kapur maksimal 0,5 persen, benda asing maksimal 0,01 persen, dan butir gabah maksimal 1 per 100 gram.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/15/c2f6a0ac-d2d1-467c-995e-1153dea470dc_jpg.jpg)
Lantas, bagaimana membedakan beras berkualitas baik dan tidak di pasaran? Bagi mereka yang terbiasa belanja mungkin tidak ada persoalan untuk memilih beras berkualitas bagus dan tidak bagus.
Namun, untuk yang jarang belanja, mungkin akan kesulitan. Selain itu, adakah dampaknya bagi kesehatan saat mengkonsumsi beras yang kurang bagus?
Salah satu pedagang di Pasar Besar, Kota Malang, Jawa Timur, Andi (45), Sabtu (19/7/2025), menuturkan, ukuran bulir tidak bisa menjadi patokan kualitas beras.
Beras kualitas bagus tak selalu berbulir besar, bulir kecil terkadang juga berkualitas bagus. Hal itu terjadi karena varietas beras yang berbeda.
”Kalau saya lihat dari bijinya. Memang ada yang campur tetapi tergantung kualitas beras itu sendiri. Beras kualitas bagus warnanya juga beda dengan yang kurang bagus. Yang kualitasnya buruk warnanya tidak begitu cerah. Kadang, yang berkualitas bagus juga ada harum-harumnya,” ujarnya.
Andi mengatakan, ia menjual beras kualitas premium dari distributor. Ia enggan mengungkapkan berapa banyak tonase yang terjual setiap hari. Yang jelas, beras itu bukan hasil kemasan sendiri.
”Tidak pernah kalau mengemas sendiri atau repacking,” katanya.
Kompas kemudian mendatangi pelaku usaha penggilingan padi. Turiyanto (52), pemilik penggilingan padi keliling di Desa Pandanajeng, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, menuturkan, kualitas beras ditentukan kondisi gabah dan proses penjemuran.
”Gabah yang penjemuran optimal bakal menjadi bulir beras berkualitas,” katanya.
Sebaliknya, penjemuran yang kurang bagus akan berdampak bulir gabah tidak bisa bersih sempurna saat digiling. Kulit tidak mengelupas sempurna sehingga bulir beras mudah pecah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/05/14/9f345249-543d-4782-8eb6-e9294d337533_jpg.jpg)
”Kalau dari sawah tidak langsung dijemur itu bisa berdampak kurang baik saat jadi beras. Untuk gabah yang penjemurannya kurang kering, kondisi mesin penggilingan perlu disetel lagi. Dikencangin (tekanannya). Adapun gabah yang penjemurannya optimal tidak perlu setel mesin,” tuturnya.
Penyimpanan gabah terlalu lama juga kurang baik. Kadang, karena jumlahnya banyak, begitu panen, petani tidak langsung menjemur gabahnya. Gabah itu dibiarkan menumpuk dalam karung sehingga temperaturnya naik.
”Begitu pula jika bulir padi tidak terlalu berisi, maka hasil penggilingan berasnya menjadi kecil-kecil, ada bintik putihnya. Namun, ada juga varietas beras lain yang ciri khasnya ada bintik putih. Jadi, memang macam-macam,” katanya.
Menurut Turiyanto, beras kualitas bagus atau tidak, salah satunya bisa dikenali dari fisik. Warnanya cerah, bijinya utuh.
Warna beras menjadi kusam bisa disebabkan penyimpanan yang terlalu lama. Namun, beras yang pecah belum tentu kualitasnya buruk. Bisa jadi bulir pecah akibat mesin giling atau proses perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Terkait beras oplosan, Turiyanto juga punya cara mengidentifikasinya. Dia mengatakan, terlihat dari ukuran bulirnya. Selain itu, rasa beras campur tak seenak beras asli dari satu varietas.
”Jika dalam sebuah wadah yang satu besar dan montok, yang lainnya langsing atau kecil. Itu tandanya dua jenis beras berbeda. Campurannya bisa dua-tiga jenis berbeda,” katanya.
Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menuturkan, beras bercampur itu sebenarnya biasa. Ia memaparkan beberapa alasannya.
Proses itu, kata Sutarto, sudah terjadi saat masih di sawah. Saat masuk penggilingan, beras semakin mudah bercampur.
Sutarto mencontohkan, petani A menanam varietas IR 64, sedangkan petani B menanam IR 32. Saat panen dengan mesin gabah langsung masuk karung kemudian dijual ke penggilingan. Karena IR 64 dan 32 tidak beda jauh, maka dua jenis beras itu kemudian digiling bersamaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/23/99642e0362759cfca26e6ea34ddff858-20250123AGS_12.jpg)
Selanjutnya terkait permintaan konsumen. Ada konsumen yang menghendaki bau wangi, contohnya jenis mentik wangi dari Cianjur. Saat pengemasan, beras itu dicampur supaya rasanya tetap sama tetapi ada bau wangi ketika dimasak.
Ada juga masyarakat yang tidak ingin beras pera. Padahal, varietas-varietas padi ada yang keras, ada yang lembek (pulen). Kalau semua pulen, tidak disukai konsumen. Begitu pula sebaliknya.
”Itu tidak salah. Yang keliru bila beras subsidi dicampur nonsubsidi kemudian dijual lebih mahal. Lalu, beras yang mestinya diakui premium ternyata bukan premium karena brokennya (pecah) lebih, derajat sosohnya kurang. Itu kecurangan namanya,” katanya.
Perpadi, menurut Sutarto, sejak awal selalu mengatakan kepada anggota agar tidak curang. Praktik itu hanya akan merugikan konsumen hingga pelaku penggilingan. Kedua pihak itu kerap berani beli gabah lebih mahal demi menyediakan beras berkualitas.
Sutarto pun meluruskan perbedaan istilah oplosan dengan beras di luar kualitas atau di bawah standar yang telah berkembang di masyarakat. Yang dimaksud beras oplosan jika mencampurkan beras subsidi pemerintah (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan/SPHP) dengan beras lain kemudian dijual dengan harga tinggi. Itu merupakan tindakan negatif.
Adapun jika bicara beras di luar kualitas atau di bawah standar menyangkut tak sesuai aturan, seperti derajat sosoh, kadar air, dan beras pecah yang masing-masing telah ditentukan batasannya.
Soal 212 merek yang dimaksud Kementan, menurut dia, itu beras tidak sesuai ketentuan atau di bawah standar ketentuan pemerintah.
Mengutip artikel yang ditulis Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, serta Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia dan Komite Pendayagunaan Pertanian, Khudori, dalam opini di Harian Kompas/Kompas.id ihwal apakah 212 merek beras di atas diduga melakukan tiga pelanggaran (mengurangi timbangan, menurunkan mutu, dan menjual di atas harga eceran tertinggi), termasuk mengoplos beras SPHP, perlu dipastikan apakah betul terbukti ada campuran SPHP di dalamnya?
Atau itu hanya temuan kualitas yang tidak sesuai atau timbangan yang kurang? Ini perlu diluruskan agar tidak keliru memahami hingga berujung keresahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/10/06/d3e2b6ae-5919-4fc9-830a-c9973531301b_jpg.jpg)
Soal mengurangi timbangan juga perlu diperjelas. Selama penyimpanan kadar air bisa turun yang akan mengurangi berat bersih beras. Alat timbang juga ada toleransi kalibrasi.
”Mengurangi timbangan” juga bukan karena dioplos atau tidak. Beras tidak dioplos pun, katanya, bisa tidak sesuai takaran.
Ihwal broken, saat diuji sebagai pelanggaran mutu, lanjut Khudori, juga perlu ada toleransi karena tidak ada mesin shifter yang mampu secara tepat 100 persen mengatur kadar broken dalam setiap proses.
Tidak semua produsen beras premium dan medium memiliki mesin shifter dengan keakuratan tinggi. Dalam pengemasan, transportasi, dan bongkar juga berpotensi menambah broken atas beras yang sudah dikemas.
Untuk derajat sosoh, selama proses penggilangan juga bisa terjadi peningkatan atau penurunan. Untuk peralatan modern punya miling meter untuk menjaga kisaran derajat sosoh.
Sebaliknya, penggilingan yang belum punya akan mengandalkan visual mata yang tentu berbeda kemampuannya dengan alat terkalibrasi. ”Maka, dalam konteks ini, tentu harus ada tolerasi dalam menilai kisaran derajat sosoh yang dianggap sebagai pelanggaran serius,” tulis Khudori.
Terkait mengoplos, menurut Khudori, di industri perberasan merupakan aktivitas normal. Itu bagian dari proses bisnis. Hanya saja, kata ”oplos” sudah telanjur bercitra negatif.
Padahal, oplos sama dengan mencampur. Itu tidak hanya terjadi pada beras, tetapi juga kopi dan teh, misalnya.
Saat di penggilingan, pembelian gabah dari petani juga berasal dari hamparan sawah yang mana varietas padinya berbeda-beda. Artinya, sejak dari hulu bahan baku beras sudah teroplos.
Aktivitas pencampuran beberapa jenis beras dimaksudkan untuk memperbaiki rasa dan tekstur sesuai preferensi konsumen. Mencampur atau mengoplos yang dilarang adalah menipu.
Misalnya mencampur 70 persen beras Cianjur dengan 30 persen beras Ciherang tapi kemudian diklaim 100 persen beras Cianjur. Itu membuat harganya lebih mahal.
Atau, katanya, mencampur beras dengan bahan tidak lazim atau rusak kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali. Padahal, mutunya sudah menurun. Bisa juga mencampur dengan bahan pengawet berbahaya. Ini semua bisa dikenai delik penipuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/ab4c5c9a96142a0da4aa771a59f3653a-1001052078.jpg)
Lalu, bagaimana sebenarnya tingkat keamanan mengonsumsi beras yang beragam tadi, baik yang dicampur dengan beras lain maupun ketika mengonsumsi beras yang kualitasnya buruk?
Sekretaris di Departemen Gizi, Program Studi Ilmu Gizi Universitas Brawijaya, Malang, Titis Sari Kusuma, mengatakan, dari sisi gizi beras premium yang dioplos dengan beras tidak premium sebenarnya tidak terlalu signifikan bahayanya.
Bahan pangan itu menjadi bahaya bila bahan pencampurnya adalah beras kualitas rendah yang telah rusak, misalnya tumbuh jamur, toksin, atau kutu. Semua itu bisa berdampak terhadap kesehatan.
”Proses membersihkan beras yang terlalu lama disimpan menggunakan zat kimia juga tidak baik bagi kesehatan,” ujarnya.
Menurut Titis, proses dari bulir gabah menjadi beras sebenarnya tidak terlalu banyak melalui pengolahan. Kemungkinan hanya dilakukan pemutihan, dipisahkan kulit (sekam) dengan isi.
Adapun untuk menarik konsumen biasanya diberi pemutih. Namun, pemberian pemutih sendiri telah diatur Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
”Makanya ada SNI, nomor BPOM, dan beberapa di antaranya mengajukan sertifikasi halal guna meyakinkan konsumen bahwa beras yang diproduksi layak konsumsi,” katanya.
Terkait kandungan gizi beras premium bisa turun saat dicampur dengan beras kualitas rendah yang telah lama disimpan, secara umum, baik beras premium maupun jenis lain memiliki kandungan karbohidrat dan vitamin B tinggi.
”Kalau sudah terjadi pencampuran (kualitas tinggi dan rendah), harapan yang tadinya bisa mendapatkan asupan karbohidrat optimal dari beras berkualitas bagus menjadi tidak optimal,” ujarnya.
Duduk perkara definisi, keamanan, dan kualitas beras yang disebut oplosan ini mesti satu suara. Jangan sampai kemudian menimbulkan stigma atau berujung sanksi pidana.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan