Potret kerusuhan dan keamanan wartawan dalam protes imigran di Los Angeles.
11 Jun 2025 11:01 WIB · Internasional
Wajah tenang jurnalis Australia Lauren Tomasi yang mengabarkan situasi di Los Angeles, dengan latar belakang polisi berkuda yang sedang menggiring pengunjuk rasa, tiba-tiba berubah menjadi mimik kesakitan. Ini bersamaan dengan terdengarnya suara letusan serta kepulan asap yang berasal dari barisan polisi yang berada tepat di belakangnya.
Tomasi terlihat kaget, terhuyung mundur dan refleks membungkuk sambil memegang betisnya. Terdengar suara pengunjuk rasa, ”Anda baru saja menembak seorang reporter,” yang ditujukan kepada polisi.
Tak berapa lama terdengar suara Tomasi, ”Saya baik-baik saja,” menjawab pertanyaan seorang pengunjuk rasa di dekatnya.
Dari rekaman kamera terlihat jelas seorang polisi bersenjata yang saat itu berada di belakang sebelah kiri Tomasi melakukan siaran langsung, mengarahkan senjatanya dan menembak jurnalis 9News ini.
Kejadian tersebut terjadi pada saat terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dan Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) serta pasukan garda nasional, Minggu (8/6/2025) waktu setempat.
Ribuan pengunjuk rasa memprotes tindakan Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat yang melakukan penggerebekan dan penahanan imigran di Los Angeles sejak Jumat lalu atas dugaan pelanggaran imigrasi.
Unjuk rasa ribuan warga ini segera berubah menjadi bentrokan dan kerusuhan yang berlangsung berhari-hari dan meluas hingga San Francisco. Pengunjuk rasa yang marah membakar mobil dan melempari polisi yang segera direspons tembakan gas air mata, pentungan, serta tembakan peluru karet.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan pasukan Garda Nasional dan marinir AS untuk meredakan kerusuhan ini. Sebanyak 2.000 anggota Garda Nasional serta 700 marinir diberangkatkan kembali ke Los Angeles untuk membantu polisi dan pasukan yang telah dikirim pada tahap pertama kerusuhan.
Seperti dilaporkan Associated Press, lebih dari dua lusin wartawan terluka saat meliput protes terhadap penggerebekan imigrasi di Los Angeles yang menyebabkan kelompok kebebasan pers mempertanyakan apakah penegak hukum secara sengaja menargetkan wartawan yang meliput berita tersebut.
Selain Tomasi yang ditembak bahkan ketika sedang siaran langsung, wartawan lain juga mengalami kekerasan. Seorang reporter New York Post juga mengalami luka besar di dahinya setelah terkena tembakan langsung. Sementara itu, wartawan lain mendapat kekerasan serta semprotan merica, seorang kru CNN sempat ditahan lalu dibebaskan pada Senin malam.
Kelompok advokasi Reporters Without Borders mengatakan telah terjadi setidaknya 31 serangan terhadap jurnalis dengan 27 di antaranya dari penegak hukum, sejak demonstrasi dimulai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/11/853903f8-58b6-4799-a165-1678980698dc_jpg.jpg)
Komite Perlindungan Jurnalis, Koalisi Amendemen Pertama, dan Yayasan Kebebasan Pers merupakan beberapa kelompok yang menyampaikan kekhawatiran kepada Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem.
Dalam sebuah surat, mereka mengatakan, ”Petugas federal tampaknya sengaja menargetkan jurnalis yang tidak melakukan apa pun selain meliput berita.”
Para ahli mengatakan, permusuhan yang nyata terhadap jurnalis, atau pengabaian terhadap peran dan keselamatan mereka, menjadi sangat jelas selama demonstrasi setelah kematian George Flyod pada tahun 2020. Indikasi yang meresahkan dari penurunan kebebasan pers adalah meningkatnya ancaman yang dihadapi jurnalis di Amerika Serikat, kata Bruce Shapiro, Direktur Eksekutif Dart Center for Journalism and Trauma di Universitas Columbia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/11/8699ac66-987a-4cca-95c0-7d22bf1372d3_jpg.jpg)
Tidak semua insiden melibatkan penegakan hukum. Pewarta foto AP Jae Hong ditendang dan dipukul dengan tongkat oleh para pengunjuk rasa pada hari Senin, perlengkapan pelindungnya memungkinkannya terhindar dari cedera. Seorang reporter TV Los Angeles dan krunya dipaksa pergi oleh para demonstran, salah seorang berteriak keras, ”Keluar dari sini.”
CNN menayangkan video korespondennya, Jason Carroll, dan krunya dengan tangan di belakang punggung saat digiring menjauh dari unjuk rasa oleh petugas. Mereka kemudian dibebaskan.
Dalam banyak konflik pada masa lalu, wartawan mendapat pelindungan karena pihak lawan ingin mereka merekam cerita dari sisi mereka, kata Shapiro. Sekarang banyak wartawan dianggap tidak penting oleh orang-orang yang punya cara lain untuk menyampaikan pesan, atau menjadi sasaran oleh mereka yang ingin menyebarkan rasa takut, katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/11/56f99ddf-1b1d-4333-bf8d-653a527599f3_jpg.jpg)
”Kami membutuhkan semua orang, mulai dari kantor berita besar, televisi, hingga jurnalis warga. Kami membutuhkan mereka di jalan. Namun, kami membutuhkan mereka untuk tetap aman,” kata Shapiro.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji