Polisi Tembak Jurnalis Saat Siaran Langsung

Potret kerusuhan dan keamanan wartawan dalam protes imigran di Los Angeles.

11 Jun 2025 11:01 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Wajah tenang jurnalis Australia Lauren Tomasi yang mengabarkan situasi di Los Angeles, dengan latar belakang polisi berkuda yang sedang menggiring pengunjuk rasa, tiba-tiba berubah menjadi mimik kesakitan. Ini bersamaan dengan terdengarnya suara letusan serta kepulan asap yang berasal dari barisan polisi yang berada tepat di belakangnya. 

Tomasi terlihat kaget, terhuyung mundur dan refleks membungkuk sambil memegang betisnya. Terdengar suara pengunjuk rasa, ”Anda baru saja menembak seorang reporter,” yang ditujukan kepada polisi. 

Tak berapa lama terdengar suara Tomasi, ”Saya baik-baik saja,” menjawab pertanyaan seorang pengunjuk rasa di dekatnya.

Dari rekaman kamera terlihat jelas seorang polisi bersenjata yang saat itu berada di belakang sebelah kiri Tomasi melakukan siaran langsung, mengarahkan senjatanya dan menembak jurnalis 9News ini. 

Tomasi saat melaporkan situasi kerusuhan. Sekuen foto yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.
Seorang polisi yang berdiri paling kiri terlihat mulai mengarahkan senapan ke arah Tomasi. Sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.
Asap mengepul dari senapan yang diarahkan kepada Tomasi. Sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.
Tomasi terlihat kaget. Sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.
Tomasi terlihat memegang betisnya. Sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.
Mimik kesakitan Tomasi. Sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.

Kejadian tersebut terjadi pada saat terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dan Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) serta pasukan garda nasional, Minggu (8/6/2025) waktu setempat. 

Ribuan pengunjuk rasa memprotes tindakan Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat yang melakukan penggerebekan dan penahanan imigran di Los Angeles sejak Jumat lalu atas dugaan pelanggaran imigrasi. 

Unjuk rasa ribuan warga ini segera berubah menjadi bentrokan dan kerusuhan yang berlangsung berhari-hari dan meluas hingga San Francisco. Pengunjuk rasa yang marah membakar mobil dan melempari polisi yang segera direspons tembakan gas air mata, pentungan, serta tembakan peluru karet.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan pasukan Garda Nasional dan marinir AS untuk meredakan kerusuhan ini. Sebanyak 2.000 anggota Garda Nasional serta 700 marinir diberangkatkan kembali ke Los Angeles untuk membantu polisi dan pasukan yang telah dikirim pada tahap pertama kerusuhan. 

Sebuah kembang api meledak di belakang polisi dengan perlengkapan antihuru-hara saat protes operasi imigrasi federal di lingkungan Little Tokyo di pusat kota Los Angeles pada Senin (9/6/2025).
Sebuah bom asap memenuhi udara saat polisi bentrok dengan para pengunjuk rasa selama unjuk rasa memprotes operasi imigrasi federal di Los Angeles pada 9 Juni 2025.
Kembang api meledak di sekitar petugas polisi dengan perlengkapan antihuru-hara saat protes terhadap operasi imigrasi federal di lingkungan Little Tokyo di pusat kota Los Angeles pada 9 Juni 2025.
Para pengunjuk rasa di pusat kota Los Angeles menyuarakan kemarahan mereka terhadap serangan ICE yang terjadi selama akhir pekan, di Los Angeles, pada Minggu, 8 Juni 2025.
Seorang pengunjuk rasa berdiri menentang petugas penegak hukum di Gedung Federal pada Senin, 9 Juni 2025, di pusat kota Los Angeles.
Polisi bentrok dengan pengunjuk rasa di Los Angeles, Senin, 9 Juni 2025.

Seperti dilaporkan Associated Press, lebih dari dua lusin wartawan terluka saat meliput protes terhadap penggerebekan imigrasi di Los Angeles yang menyebabkan kelompok kebebasan pers mempertanyakan apakah penegak hukum secara sengaja menargetkan wartawan yang meliput berita tersebut.

Selain Tomasi yang ditembak bahkan ketika sedang siaran langsung, wartawan lain juga mengalami kekerasan. Seorang reporter New York Post juga mengalami luka besar di dahinya setelah terkena tembakan langsung. Sementara itu, wartawan lain mendapat kekerasan serta semprotan merica, seorang kru CNN sempat ditahan lalu dibebaskan pada Senin malam.

Kelompok advokasi Reporters Without Borders mengatakan telah terjadi setidaknya 31 serangan terhadap jurnalis dengan 27 di antaranya dari penegak hukum, sejak demonstrasi dimulai.

sekuen yang menunjukkan penembakan wartawan Australia Lauren Tomasi saat sedang siaran langsung di Los Angeles.

Komite Perlindungan Jurnalis, Koalisi Amendemen Pertama, dan Yayasan Kebebasan Pers merupakan beberapa kelompok yang menyampaikan kekhawatiran kepada Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem. 

Dalam sebuah surat, mereka mengatakan, ”Petugas federal tampaknya sengaja menargetkan jurnalis yang tidak melakukan apa pun selain meliput berita.”

Para ahli mengatakan, permusuhan yang nyata terhadap jurnalis, atau pengabaian terhadap peran dan keselamatan mereka, menjadi sangat jelas selama demonstrasi setelah kematian George Flyod pada tahun 2020. Indikasi yang meresahkan dari penurunan kebebasan pers adalah meningkatnya ancaman yang dihadapi jurnalis di Amerika Serikat, kata Bruce Shapiro, Direktur Eksekutif Dart Center for Journalism and Trauma di Universitas Columbia.

Petugas Departemen Kepolisian Los Angeles mengusir wartawan saat terjadi protes serangkaian penggerebekan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE), di Los Angeles, pada hari Senin, 9 Juni 2025.

Tidak semua insiden melibatkan penegakan hukum. Pewarta foto AP Jae Hong ditendang dan dipukul dengan tongkat oleh para pengunjuk rasa pada hari Senin, perlengkapan pelindungnya memungkinkannya terhindar dari cedera. Seorang reporter TV Los Angeles dan krunya dipaksa pergi oleh para demonstran, salah seorang berteriak keras, ”Keluar dari sini.”

CNN menayangkan video korespondennya, Jason Carroll, dan krunya dengan tangan di belakang punggung saat digiring menjauh dari unjuk rasa oleh petugas. Mereka kemudian dibebaskan.

Dalam banyak konflik pada masa lalu, wartawan mendapat pelindungan karena pihak lawan ingin mereka merekam cerita dari sisi mereka, kata Shapiro. Sekarang banyak wartawan dianggap tidak penting oleh orang-orang yang punya cara lain untuk menyampaikan pesan, atau menjadi sasaran oleh mereka yang ingin menyebarkan rasa takut, katanya.

Seorang pengunjuk rasa berteriak pada petugas polisi dengan perlengkapan anti huru hara di luar Gedung Federal Edward Roybal pada 9 Juni 2025 di Pusat Kota Los Angeles, California.

”Kami membutuhkan semua orang, mulai dari kantor berita besar, televisi, hingga jurnalis warga. Kami membutuhkan mereka di jalan. Namun, kami membutuhkan mereka untuk tetap aman,” kata Shapiro.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji