Sebagai negara terpadat kedua di dunia, China saat ini menghadapi populasi yang menua dan kekurangan angkatan kerja.
17 Jan 2025 19:00 WIB · Foto
Selama tiga tahun berturut-turut populasi penduduk China terus menurun. Pemerintah China pada Jumat (17/1/2024) mengumumkan populasi penduduk pada tahun 2024 mencapai 1,408 miliar jiwa atau turun 1,39 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Realitas tersebut menjadi peringatan akan krisis demografi yang memburuk. Sebagai negara terpadat kedua di dunia setelah India, China saat ini menghadapi populasi yang menua dan kekurangan angkatan kerja.
Angka yang diumumkan oleh pemerintah Beijing seiring dengan tren yang terjadi di sejumlah negara di seluruh dunia. Di wilayah Asia Timur, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara lain mencatatkan angka kelahiran yang juga anjlok.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/0c57d9e1111be907057bb6febade9c6d-AP25016353701316.jpg)
Tren penurunan ini disebabkan angka kelahiran yang lebih rendah dibandingkan angka kematian. Di sisi lain, satu alasan yang banyak memengaruhi rendahnya angka kelahiran adalah meningkatnya biaya hidup yang menyebabkan banyak anak muda menunda menikah atau mempunyai anak demi mengejar pendidikan tinggi dan karier.
China telah lama menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yang mampu bertahan dari invasi dan bencana alam. Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan Partai Komunis naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1949, tren keluarga besar muncul kembali di China dan populasinya berlipat ganda hanya dalam tiga dekade.
Namun, setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan dan kematian pemimpin China, Mao Zedong, muncul kekhawatiran dari penguasa apakah negara mampu ”memberi makan” bagi populasinya yang besar. Pemerintah lantas mulai menerapkan ”kebijakan satu anak” yang relatif kejam.
Warisan kebijakan satu anak yang kini telah dihapuskan meninggalkan ketidakseimbangan rasio jenis kelamin dengan jumlah pria lebih banyak dibandingkan wanita.
Penyusutan populasi China diawali dari laporan Biro Pusat Statistik Nasional China pada awal tahun 2023 yang menyebutkan selama tahun 2022 jumlah penduduk China berkurang 850.000 jiwa, yakni dari 1,412 miliar jiwa susut menjadi 1,411 miliar jiwa.
Saat ini, lebih dari seperlima populasi China berusia 60 tahun atau lebih tua. Pada tahun 2035, angka ini diperkirakan akan melebihi 30 persen, yang memicu wacana tentang perubahan usia pensiun resmi.
Sementara di sektor pendidikan, dengan jumlah siswa yang saat ini menyusut dan lebih sedikit dari tahun sebelumnya, beberapa sekolah dan taman kanak-kanak yang kosong untuk sementara dialihfungsikan menjadi fasilitas perawatan untuk orang tua.
Pemerintah China telah berupaya untuk menambah angka kelahiran, termasuk memberikan Insentif bagi pasangan yang ingin memiliki anak serta bantuan keuangan untuk biaya perumahan. Namun, kebijakan tersebut hanya memberikan dampak sementara.
Fenomena tersebut memunculkan anggapan bahwa China yang sekarang menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, tetapi memiliki hambatan besar, akan ”tua sebelum menjadi kaya”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/08e31209cf7256f3c22c26c6d2781176-000_36UC6A6.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/0c1a54cab2d191f2f3b492e0c889edc6-000_36U47JE.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/3018f49eaf421dd9482a8bc25c5edc3b-000_36UC72F.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Iwan Setiyawan