Ribuan poster wajah orang hilang yang banyak dijumpai di Guadalajara, Meksiko, terancam dibersihkan menyusul akan digelarnya perhelatan Piala Dunia.
27 Feb 2026 15:30 WIB · Internasional
AP/Marco Ugarte
GUADALAJARA, JUMAT — Wajah-wajah orang hilang di Meksiko menghiasi jalanan kota terbesar kedua di Meksiko, Guadalajara. Ribuan selebaran bertuliskan ”Kami merindukanmu,” ”Apakah kamu melihatnya?” dan ”Kami mencarimu” menghiasi gedung-gedung, monumen, tiang lampu, meteran parkir, pot pohon, dan halte bus.
Para pekerja bergegas melewati selebaran-selebaran itu di pusat kota Guadalajara. Para pria bermain basket di lapangan yang dikelilingi selebaran-selebaran tersebut. Dan, arus mobil yang tak henti-hentinya melintas setiap hari. Selebaran-selebaran itu terjalin dalam kehidupan sehari-hari Negara Bagian Jalisco.
Negara bagian ini mendadak menjadi perbincangan karena kasus kematian pemimpin kartel paling berpengaruh di Meksiko, yang dikenal sebagai ”El Mencho”.
Negara Bagian Jalisco termasuk di antara negara bagian dengan jumlah orang hilang tertinggi, dengan 12.500 kasus yang dilaporkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/8b5faf7e63f712b3d7e55266c3abdd14-AP26053795954707.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/b05367a99cff3750f3e7c72aa0870adb-AP26053783137792.jpg)
Kini, keluarga yang memasang selebaran untuk mencari orang-orang terkasih yang hilang mengatakan bahwa mereka menghadapi upaya pemerintah untuk menghapus wajah-wajah tersebut menjelang Piala Dunia FIFA. Guadalajara akan menjadi kota tuan rumah Piala Dunia pada Juni mendatang. Sejumlah anggota parlemen setempat mendorong langkah penertiban terhadap selebaran-selebaran orang hilang tersebut.
”Mereka tidak ingin orang-orang yang datang ke Piala Dunia, orang-orang yang datang dari luar negeri, melihat selebaran-selebaran itu,” kata Carmen López, seorang wanita yang mencari saudara laki-laki dan keponakannya, yang hilang dalam dua insiden terpisah.
Jumlah orang Hilang di Meksiko mencapai 131.000 orang, cukup untuk memenuhi sebuah kota kecil. Menghilangkan orang secara paksa telah lama menjadi taktik kartel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/6408c138a77393a58d4386950121ffd6-AP26053717980274.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/2f1c732181618e2f25ae26c4634221f6-AP26056790150801.jpg)
Bagi banyak orang, kasus penghilangan paksa merupakan lambang kurangnya keadilan dan tingkat korupsi yang tinggi yang terus merajalela di Meksiko, terutama terlihat jelas di negara bagian seperti Jalisco. Banyak keluarga, seperti keluarga López, sering kali mengambil tindakan sendiri, mengoordinasi pencarian jenazah dan memasang selebaran dalam upaya untuk melanjutkan pencarian dan menekan pihak berwenang setempat.
”Sedikit demi sedikit hal itu membunuh sebagian jiwa Anda. Mereka tidak hanya menghilangkan orang yang Anda cintai, tetapi juga Anda sebagai ayah, atau sebagai ibu bersama mereka,” kata Héctor Flores, seorang pemimpin dari salah satu kelompok pencarian di Jalisco, Luz de Esperanza, atau Cahaya Harapan.
Flores mulai memasang selebaran di Guadalajara setelah putranya yang berusia 19 tahun dibawa secara paksa oleh petugas dari kantor kejaksaan negara bagian Jalisco. Penghilangan paksa tahun 2021 itu kemudian diakui oleh pengadilan Meksiko, mendorong Flores untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 500 keluarga yang menyelidiki kasus hilangnya kerabat. Kelompoknya turun ke jalan-jalan ibu kota Jalisco dan memasang 2.000 hingga 5.000 selebaran setiap akhir pekan.
Selebaran tersebut menampilkan wajah-wajah tersenyum dari semua orang, mulai dari gadis remaja hingga pria paruh baya, dan memberikan detail identitas seperti tato serta tanggal dan lokasi tempat mereka menghilang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/049e17b4beba940e9b2e8a12c74a7092-AP26056790154323.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/fb81c0ec6cc5f0d836370c0ae2442899-AP26056850133020.jpg)
Kelompok ini rutin menempelkan poster-poster baru menggantikan poster sebelumnya yang sering ditertibkan secara berkala. ”Ini adalah tindakan pencarian secara langsung, dengan harapan bahwa orang-orang yang melihat poster ini dapat memberi kami informasi yang akan membantu kami menemukan keluarga kami,” kata Flores. ”Ini juga merupakan tindakan untuk meningkatkan visibilitas.”
Anggota keluarga dari kelompok pencari orang hilang kini khawatir akan menghadapi lebih banyak hambatan menyusul kekerasan kartel sekaligus peningkatan keamanan menjelang Piala Dunia musim panas.
Pada Desember, para anggota parlemen mengusulkan perubahan terhadap rancangan undang-undang yang awalnya dimaksudkan untuk melindungi selebaran agar tidak diturunkan. Namun, para politisi lokal mencoba mengubah undang-undang tersebut yang dikhawatirkan akan memunculkan aturan larangan memasang poster orang hilang di ruang publik.
Carmen López, Flores, dan kerabat lainnya mengatakan, pemerintah daerah mencoba untuk menutupi masalah orang hilang menjelang acara olahraga global tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/6580bb0aa01b85efcf6c7561f03d05ad-AP26056850079215.jpg)
”Kami sadar bahwa kota ini tidak terlihat indah karena banyaknya poster orang hilang, tetapi mereka bukan sampah,” kata López yang mengenakan kemeja dengan wajah kedua anggota keluarganya yang hilang. ”Tapi, apa yang harus kami lakukan? Kami melakukan segala daya upaya untuk menemukan mereka.”
Modifikasi tersebut didorong oleh anggota legislatif negara bagian Norma López, anggota partai Morena Presiden Claudia Sheinbaum, dan sejumlah anggota parlemen lainnya. Anggota parlemen negara bagian tersebut dalam sebuah wawancara pada Kamis (26/2/2026) membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah ”interpretasi yang salah”. Ia ingin membela keluarga yang mencari orang-orang terkasih mereka yang hilang. Ia mengatakan, salah satu kerabatnya juga hilang.
Jika disahkan, undang-undang tersebut akan menjadi alat untuk membersihkan poster orang hilang dari ruang publik seperti universitas negeri, gedung legislatif negara bagian, Mahkamah Agung, museum, gereja, dan lainnya tanpa dikenai sanksi.
Lopez mengatakan, hal itu sudah berlaku di tempat lain. ”Usulan saya bukanlah dasar untuk melarangnya,” katanya. ”Kita semua prihatin dengan apa yang terjadi di Jalisco. Hilangnya orang-orang juga membuat saya sedih.”
Pemerintah Meksiko tengah berhitung terkait kemampuan Guadalajara untuk menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia. Sementara Piala Dunia Selam yang dijadwalkan akan diadakan di pinggiran Guadalajara pada Maret mendatang dibatalkan karena masalah keamanan. Awal pekan ini, federasi sepak bola Portugal mengatakan bahwa mereka ”memantau perkembangan situasi” menjelang pertandingan persahabatan melawan tim nasional Meksiko di Mexico City.
Beberapa kelompok pencari orang hilang di Jalisco mengatakan mereka harus menangguhkan investigasi terhadap dugaan penemuan lokasi kuburan rahasia dikarenakan tidak ada jaminan keamanan. Komisi Pencarian Nasional Meksiko untuk Orang Hilang menolak berkomentar terkait hal tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/7b4f46e7497679dc112c416e66d17b59-AP26058103246375.jpg)
Keadaan itu membuat banyak orang merasa bahwa keadilan semakin sulit dicapai. Jumlah orang hilang terus bertambah dari waktu ke waktu. Warga kota yang melewati papan poster-poster orang hilang pun sudah tidak terlalu memperhatikan lagi.
”Sekarang, itu sudah biasa,” kata Jacinto González (47) sambil berlalu melewati ratusan poster orang hilang yang ditempel di dinding. (AP)
Penulis:
PriyombodoEditor:
Maria Susy BerindraPenyelaras Bahasa:
Retma Wati