Periode Desember hingga Maret, perairan Labuan Bajo dan sekitarnya sering dilanda angin kencang. Cuaca dapat berubah secara cepat.
22 Des 2025 09:12 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN
KUPANG, KOMPAS — Hampir semua wilayah di Nusa Tenggara Timur kini berpotensi dilanda hujan deras dan angin kencang. Wisatawan yang berlibur ke pantai dan pulau-pulau kecil, seperti destinasi superprioritas Labuan Bajo, diminta waspada. Wisatawan perlu lebih selektif memilih kapal yang aman.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih mengguyur seluruh wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (22/12/2025) pagi. Dari peta cuaca Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, hujan mengguyur seluruh wilayah Pulau Timor dari Kota Kupang di selatan hingga Kabupaten Belu.
Di sisi utara NTT, mulai dari Labuan Bajo di barat hingga Kepulauan Alor di timur, juga berpotensi kembali terjadi hujan. Beberapa hari lalu, wilayah Flores bagian timur dilanda hujan deras sehingga menimbulkan banjir di sejumlah permukiman.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot’ek mengatakan, periode November hingga April merupakan musim tumbuh bibit siklon dan siklon tropis di wilayah Indonesia bagian selatan. NTT berada dalam wilayah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/07/d4168dac-6347-4cd9-8d42-d494402e3aaf.jpg)
”Pada periode ini, masyarakat tetap perlu waspada terhadap dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis dan siklon tropis seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi,” katanya.
Ia juga menyinggung prediksi adanya siklon tropis pada 1–10 Januari 2026. Informasi tersebut merupakan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kajian itu masih bersifat dini mengingat dinamika atmosfer dengan cepat berubah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selalu mengumumkan prakiraan cuaca paling lama untuk sepuluh hari ke depan. Tingkat akurasi menurun seiring bertambahnya waktu. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus memperbarui informasi cuaca yang disampaikan secara berkala melalui situs web resmi BMKG.
Sementara itu, Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo Stephanus Rudiyanto mengimbau operator di perairan Labuan Bajo, Komodo, dan sekitarnya agar lebih waspada. ”Selalu memantau cuaca sebelum berlayar dan memastikan kelaiklautan kapal,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/18/38d5100b-b6f8-4644-9fe5-df3f3f0e0f1d.jpeg)
Pihak operator dan pengelola kapal diminta berkoordinasi dengan KSOP dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) apabila melihat, mendengar, atau mengalami keadaan kedaruratan. Mereka disarankan untuk berlindung di area yang aman dari gelombang, arus, dan angin kencang. Tidak memaksakan berlayar saat cuaca buruk.
Apabila terjadi perkembangan cuaca buruk, lanjutnya, KSOP dapat menunda keberangkatan kapal dan memberitahukan melalui notice to mariner (NTM). Petugas pelabuhan akan memeriksa kondisi kapal dan alat-alat kesehatan pelayaran.
Selama musim libur Natal dan Tahun Baru, Labuan Bajo menjadi salah satu tujuan wisata yang ramai didatangi wisatawan. Wisatawan biasanya bepergian ke Pulau Rinca, Pulau Padar, Pantai Pink, dan Pulau Komodo. Perjalanan menggunakan kapal.
Destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo terkenal dengan keindahan pantai, lekukan perbukitan, dan daya tarik wisatawan bawah air. Ikon utama destinasi itu adalah binatang komodo, reptil purba yang hidup sampai hari ini.
Aco, nelayan di Labuan Bajo, mengingatkan, periode Desember hingga Maret merupakan musim barat. Angin berembus kencang dari arah barat dan membangkitkan gelombang. Berlayar di perairan Komodo dan sekitarnya harus diwaspadai.
”Angin barat biasanya terjadi sangat cepat. Saat ini mungkin tenang, tetapi satu jam ke depan bisa berubah. Sementara perjalanan wisatawan dari Labuan Bajo ke Komodo dan pulau-pulau lain itu berjam-jam. Harus waspada,” katanya.
Aco menyarankan wisatawan agar memilih kapal yang aman, yakni kapal dengan dek tidak terlalu tinggi. Banyak kapal wisata dimodifikasi dengan dek tinggi demi mengangkut lebih banyak penumpang. Namun, modifikasi itu menggadaikan keselamatan penumpang.
Penulis:
Frans Pati HerinEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji