Pemerintah Mynamar meminta bantuan negara asing dan organisasi internasional untuk menangani dampak gempa skala magnitudo 7,7 pada Jumat, 28 Maret 2025.
29 Mar 2025 11:01 WIB · Foto
”Saya ingin mengundang negara mana pun, organisasi mana pun, atau siapa pun di Myanmar untuk datang dan membantu. Terima kasih.” Pidato itu disampaikan Kepala Junta Myanmar Min Aung Hlaing dan disiarkan setelah mengunjungi sebuah rumah sakit di ibu kota Naypyidaw.
Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 dengan kedalaman 10 kilometer yang melanda Myanmar, Jumat (28/3/2025) pukul 12.50 waktu setempat menimbulkan kepanikan di kota Mandalay, dan beberapa kota di sekitarnya. Gempa ini menyebabkan banyak bangunan rusak, beberapa di antaranya roboh, rata dengan tanah.
Dampak gempa ini terasa hingga ke negara-negara tetangga, seperti China dan Thailand.
Belum reda kepanikan warga, 12 menit kemudian datang gempa susulan dengan skala yang lebih kecil, magnitudo 6,4. Episentrumnya berada di 18 kilometer selatan Sagaing.
Tak berapa lama, rumah sakit yang berada di sekitar lokasi gempa dipenuhi warga yang terluka. Banyak korban luka yang terpaksa dirawat di jalanan sekitar rumah sakit. Pemandangan ini terlihat di beberapa kota, seperti Naypyidaw, Mandalay, dan Sagaing. Sebanyak 144 korban meninggal tercatat pada hari pertama gempa. Namun, jumlah ini diyakini akan bertambah besar mengingat sulitnya akses komunikasi di negara yang dilanda perang saudara itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/2e2d184c-aad5-4dd7-8624-b08431c76243_jpg.jpg)
Gempa yang merusak akses jalan raya membuat kesulitan evakuasi pasien untuk mencapai rumah sakit terdekat. Di kota kedua terbesar di negara itu, Mandalay, terlihat banyak bangunan permukiman yang runtuh. Gempa juga merusak bangunan suci keagamaan dan merusak jembatan yang menghubungkan kota itu dengan kota-kota lain.
Organisasi-organisasi bantuan mengatakan sulit menilai skala penuh kerusakan di banyak bagian Myanmar karena listrik dan jalur komunikasi terputus. Selain itu, junta telah berulang kali memutus internet dan memutus akses ke media sosial sehingga mengisolasi negara tersebut.
Empat tahun terakhir, Myanmar dilanda perang saudara. Sebagian besar wilayah Myanmar masih berada di luar kendali junta saat berperang melawan kelompok pemberontak etnis dan pejuang pro-demokrasi setelah merebut kekuasaan melalui kudeta pada tahun 2021.
Situasi ini makin menyulitkan korban gempa mengakses bantuan kesehatan.
Gempa bumi kali ini merupakan gempa bumi ketiga terbesar yang pernah mengguncang Myanmar dalam seabad terakhir. Guncangan itu terasa hingga Bangladesh, Vietnam, Thailand, dan China bagian selatan. Di Thailand gempa merobohkan bangunan 33 lantai yang sedang dibangun. Puluhan pekerja diperkirakan terjebak dalam reruntuhan.
Bencana ini segera mendapat respon dari dunia internasional. Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menyatakan Bangkok sebagai ”daerah darurat” dan meminta penduduk mengungsi dari gedung-gedung tinggi jika terjadi gempa susulan.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan telah mengalokasikan dana awal 5 juta dollar AS dari dana daruratnya untuk membantu operasi penyelamatan nyawa di Myanmar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/29/32b79eff-85a2-4d95-998f-3e6bc2d6d8d1_jpg.jpg)
Dari Amerika Serikat, Presiden Trump mengatakan, Amerika Serikat juga akan memberikan bantuan kepada Myanmar.
Melihat kondisi bencana, Pemerintah Mynamar meminta bantuan negara asing dan organisasi internasional untuk menangani dampak gempa skala magnitudo 7,7 ini.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari