Perjalanan konklaf hingga menghasilkan Paus ke-267.
09 Mei 2025 17:17 WIB · Foto
Pintu utama Kapel Sistina perlahan ditutup pukul 17.45 waktu setempat ketika 133 kardinal dari 70 negara telah memasuki ruangan utama. Pintu lantas dikunci dan disegel serta dijaga oleh Garda Swiss yang bertanggung jawab terhadap keamanan di Vatikan.
Tepuk tangan bergema saat 45.000 warga yang berkumpul di Alun-alun Santo Petrus melihat prosesi ini dari layar raksasa yang disediakan di beberapa penjuru alun-alun. Ribuan umat segera memulai berdoa dengan rosario di tangan.
Selama pemilihan Paus, pintu Kapel Sistina akan dikunci. Ini dilakukan untuk memberikan jaminan agar proses konklaf berlangsung secara rahasia dan hening, sebuah proses yang dirancang agar kontemplatif dan bebas dari campur tangan pihak luar.
Semua kardinal dan mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan konklaf wajib menyerahkan ponsel mereka serta sinyal di sekitar Vatikan akan dimatikan untuk mencegah mereka saling komunikasi sampai mereka menemukan pemimpin baru untuk gereja yang beranggotakan 1,4 miliar orang tersebut. Semua mata tertuju pada satu titik, ke cerobong asap yang terpasang di atas atap Kapel Sistina di mana beberapa burung camar putih beterbangan di sekitarnya.
Setelah penantian yang menegangkan, akhirnya asap tipis mulai terlihat keluar dari cerobong yang disambut dengan teriakan dan tepuk tangan. Asap tipis itu semakin lama semakin banyak keluar hingga menjadi gumpalan asap hitam yang bergulung-gulung keluar dari cerobong asap.
Asap hitam yang keluar pukul 21.05 waktu setempat menandai akhir penantian hari pertama.
Hari itu, Rabu (7/5/2025), konklaf belum berhasil memilih Paus baru, pengganti Paus Fransiskus yang meninggal pada 21 April 2025 di usia 88 tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/e2ed6a9f-76b9-40af-ad40-e1e7334bab02_jpg.jpg)
Puluhan ribu umat Katolik dari berbagai penjuru dunia masih setia berada di Alun-alun Santo Petrus, Kamis (8/5/2025) atau hari kedua konklaf yang akan memilih Paus ke-267 dalam sejarah Gereja Katolik. Berbeda dengan konklaf hari pertama yang hanya melakukan satu kali sesi pemungutan suara, konklaf hari kedua berlangsung dalam dua sesi pemungutan suara, yakni sesi pagi dan sore.
Asap sebagai tanda hasil pemungutan suara merupakan hasil pembakaran seluruh surat suara yang telah digunakan dalam tiap sesi pemungutan. Tradisi membakar surat suara yang telah berlangsung sejak abad ke-15 ini masih diteruskan hingga kini. Umat Katolik seluruh dunia menantikan kabar dari asap yang dikirim sebagai pertanda.
Pada pukul 11.40 waktu setempat, kembali asap hitam pekat bergulung-gulung keluar dari cerobong yang terletak diatas atap Kapel Sistina. Ini merupakan asap kedua yang menandai telah dua kali gagal memilih Paus baru.
Tepuk tangan dan teriakan kegembiraan bersahutan dari umat yang menantikan prosesi ini. Sebagaimana diketahui, untuk dapat terpilih sebagai Paus, seorang kandidat harus memperoleh setidaknya dua pertiga suara dari seluruh kardinal yang hadir atau sebanyak 89 suara dari 133 jumlah kardinal elektor. Umat masih menantikan satu pertanda asap lagi di hari itu. Mereka melanjutkan penantian sambil doa, sebagian yang lain terlihat mulai meninggalkan Alun-alun Santo Petrus.
Tepuk tangan dan teriakan kembali bersahutan saat dari kejauhan, umat melihat cerobong asap di atas Kapel Sistina kembali mengeluarkan asap tipis. Teriakan itu makin kencang dicampur kegembiraan di antara mereka. Asap putih bergulung-gulung keluar dari cerobong pada pukul 18.00 waktu setempat. Itu pertanda bahwa mereka, umat katolik, mempunyai Paus baru. Kalimat ”Viva ill Papa” bersahutan dengan ”Habemus Papam!”. Kita mempunyai Paus baru….
Konsentrasi beralih dari atap, berpindah ke pintu balkon Santo Petrus Basilika, tempat di mana Paus baru akan menyapa untuk pertama kali kepada umatnya. Mereka berlarian untuk mencari posisi terbaik menyambut Paus baru.
”Damai sejahtera bagimu,” sapa Paus Leo XIV dari balkon Santo Petrus Basilika yang mengenakan jubah merah tradisional dan atribut kepausan 70 menit setelah asap putih keluar. Sorak-sorai dan teriakan ”Viva il Papa” menggema. Lambaian bendera Amerika Serikat juga terlihat di sudut-sudut Alun-alun Santo Petrus. Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat terpilih sebagai Paus ke-267 dan memilih nama Paus Leo XIV sebagai nama kepausannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/d9b3f093-1a0d-495e-b71e-5dffbf0d05ae_jpg.jpg)
”Habemus Papam!”
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan