Potret Nasib Pengungsi di Yaman

Konflik bersenjata antara Pemerintah Yaman dan kelompok Houthi membuat ribuan warga tinggal di pengungsian dengan kondisi seadanya.

08 Sep 2026 13:02 WIB · Internasional

AFP

Oleh Demitrius Wisnu Widiantoro

<p></p><p>Warga Yaman berkendara ke tempat yang aman menuju daerah al-Kadah di&nbsp; Taiz,&nbsp;Yaman, untuk mengungsi, Minggu (6/9/2026).</p><p>(AFP/AHMAD AL-BASHA)</p><p>Pengungsi menurunkan barang bawaan mereka setibanya di tempat tujuan. </p><p>AFP/AHMAD AL-BASHA</p><p>Pengungsi memanggul kasur menuju tempat tinggal darurat mereka. </p><p>AFP/AHMAD AL-BASHA</p><p>Seorang pengungsi Yaman berdiri di luar tenda darurat di Mocha, di pantai Laut Merah Yaman, Senin (7/9/2026)</p><p>AFP</p><p>Tenda pengungsian di  Mocha.</p><p>AFP</p><p>Pengungsi membuat tempat tinggal darurat di bawah sebuah pohon di Mocha, Yaman, Senin (7/9/2026).</p><p>AFP</p><p>Barang bawaan pengungsi digantung di dahan pohon.</p><p>AFP</p>

Warga Yaman berkendara ke tempat yang aman menuju daerah al-Kadah di  Taiz, Yaman, untuk mengungsi, Minggu (6/9/2026).

(AFP/AHMAD AL-BASHA)

Pengungsi menurunkan barang bawaan mereka setibanya di tempat tujuan.

AFP/AHMAD AL-BASHA

Pengungsi memanggul kasur menuju tempat tinggal darurat mereka.

AFP/AHMAD AL-BASHA

Seorang pengungsi Yaman berdiri di luar tenda darurat di Mocha, di pantai Laut Merah Yaman, Senin (7/9/2026)

AFP

Tenda pengungsian di Mocha.

AFP

Pengungsi membuat tempat tinggal darurat di bawah sebuah pohon di Mocha, Yaman, Senin (7/9/2026).

AFP

Barang bawaan pengungsi digantung di dahan pohon.

AFP

Sebuah kendaraan bak terbuka melaju pelan di jalanan aspal. Mobil putih produksi pabrikan mobil dari Jepang itu tampak usang. Di beberapa bagian bodi mobil itu tampak tidak mulus lagi. Bahkan, bemper belakang yang awalnya mengilap itu sudah penyok di beberapa bagian seperti bekas terbentur benda keras.

Bak kendaraan roda empat yang tampak reyot itu penuh dengan muatan. Entah apa yang ada dalam bak itu, yang pasti tumpukannya hampir dua kali tinggi mobil. Di bagian luar tumpukan barang itu, puluhan jeriken air dengan aneka ukuran diikat. Sementara di bagian atas seorang warga menjaga agar toren air tidak terjatuh. Seorang penumpang lain duduk menghadap searah laju mobil.

Mereka adalah warga Yaman yang terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi menuju tempat aman. Warga negara paling selatan di jazirah arab ini mengungsi setelah terjadi bentrokan antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi.

Pengungsi beristirahat di bawah pohon saat mencari tempat yang aman untuk tinggal di Mocha, Yaman, Senin (7/9/2026).

Hari itu, Minggu (6/9/2026), mereka berduyun-duyun menuju ke tempat yang aman di daerah Al-Kadah di Taiz, barat daya Yaman. Setibanya di lokasi, mereka menurunkan barang dan mulai membangun tenda darurat sebagai tempat tinggal.

Berjarak sekitar 100 kilometer dari Al-Kadah, tepatnya di Mocha, tenda-tenda pengungsi juga berdiri di tengah tanah kosong. Tenda putih dari terpal itu berdiri dengan ditopang tarikan tali. Di bagian atap dan dinding tenda darurat ditambahkan potongan dahan pohon yang telah mengering.

Tak jauh dari tenda-tenda itu, sebuah keluarga mendirikan tempat tinggal darurat di bawah pohon. Mereka menggunakan batang-batang rumput dan dahan pohon sebagai dinding. Potongan rumput dan dahan pohon itu ditata sedemikian rupa untuk menutup sisi kiri, kanan, dan belakang ”rumah” darurat mereka. Di bagian atap, mereka memercayakan daun dan ranting pohon sebagai pelindung dari sengatan matahari. Barang-barang mereka tergeletak di tanah atau digantung di dahan pohon.

Mereka semua adalah warga yang melarikan diri dari pertempuran di provinsi Taiz dan pertempuran di dekat pantai Laut Merah. Di dekat Laut Merah pertempuran itu terjadi setelah Houthi berusaha merebut wilayah yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandab. Konflik ini menyebabkan lebih dari 300 orang tewas dan ratusan keluarga mengungsi.

Pengungsi perempuan bersama barang bawaannya.

Pada hari Minggu (6/9/2026), wartawan AFP melihat para pengungsi dengan kasur, ternak, dan barang-barang lainnya mendirikan tempat berlindung di kamp. Seorang pengungsi perempuan dari Maqbanah, Rawdhah Hasan, mengatakan bahwa terjadi adu tembak antarkedua belah pihak. ”Mereka mengepung kami dari segala arah, kami melarikan diri bersama anak-anak kami tanpa sempat memakai sepatu,” tambahnya.

Nimah Saif, pengungsi perempuan lainnya, mengatakan bahwa beberapa orang terluka dan beberapa lainnya tewas. Pengungsi dari distrik Jabal Habashi ini melihat korban tergeletak di tanah. Namun, Nimah dan pengungsi lainnya tidak dapat membantu siapa pun. ”Sekarang, kami terdampar di sini, kelaparan, tanpa ada makanan,” tambahnya.

Badan PBB untuk koordinasi kemanusiaan, OCHA, mengatakan, pada hari Jumat (4/9/2026) diperkirakan 1.790 keluarga telah mengungsi. Seorang juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan keprihatinannya atas bentrokan militer. Tentu bentrokan ini akan berdampak pada politik, ekonomi, dan keamanan yang menghancurkan bagi Yaman dan rakyatnya.

Pengungsi membangun tempat tinggal darurat di Al-Kadah, Taiz, Minggu (6/9/2026).
Tempat tinggal darurat pengungsi di Al-Kadah, Taiz.

Konflik antara Pemerintah Yaman dan kelompok Houthi telah berlangsung lama. Pertempuran selama delapan tahun, antara tahun 2014 dan 2022, menjerumuskan Yaman ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

PBB tahun lalu memperingatkan bahwa 17 juta orang kesulitan mendapatkan makanan. Organisasi negara-negara di dunia itu juga mengatakan bahwa 1 juta warga Yaman lainnya menghadapi kelaparan ekstrem.

Warga Yaman hanya bisa berharap semoga konflik terbaru ini tidak memperburuk kondisi mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto