Paul Biya memenangi pemilu untuk jabatan Presiden Kamerun kedelapan kalinya.
28 Okt 2025 11:29 WIB · Internasional
AFP/Daniel BELOUMOU OLOMO
Di umur 92 tahun, Paul Biya kembali menjadi Presiden Kamerun setelah pengadilan tinggi negara itu menyatakan kemanangannya dalam pemilu. Biya yang telah memimpin Kamerun sejak tahun 1982 saat ini tercatat sebagai presiden tertua di dunia.
Biya menjadi presiden kedua negara itu sejak merdeka dari Perancis pada tahun 1960. Dan, tahun ini ia kembali memenangi pemilu dan menjadi presiden untuk periode kedelapan. Selain Biya, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud yang saat ini berusia 89 tahun juga merupakan raja tertua di dunia. Saat ini Raja Salman memimpin Arab Saudi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/cfffc255-08e0-4772-a875-0d4e9952ae44_jpg.jpg)
Selain sebagai presiden tertua, Biya juga tercatat sebagai pemimpin negara terlama di dunia. Biya yang lahir pada 13 Februari 1933 dilantik sebagai presiden kedua Kamerun pada 6 November 1982 menggantikan Presiden Ahmadau Ahidjo yang mengundurkan diri.
Saat itu Biya menduduki jabatan perdana menteri sejak tahun 1975. Ia secara konstitusional menjadi pengganti. Sejak penjabat perdana menteri hingga sekarang menjadi presiden, Biya telah 50 tahun memimpin Kamerun. Dan, ini menjadi yang terlama di dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/bcc290c8-19ca-4a57-9ea5-928808785ca7_jpg.jpg)
Dalam hal menjadi pemimpin terlama, Fidel Castro hampir menyamai Biya. Pemimpin politik Kuba yang lahir pada 13 Agustus 1926 ini menjadi pemimpin Kuba saat menjabat sebagai perdana menteri tahun 1959. Pada 1976, Castro memulai jabatan Presiden Kuba. Baru pada Februari 2008 ia melepaskan jabatan presiden karena alasan kesehatan. Castro menjadi pemimpin Kuba selama 49 tahun, beda satu tahun dengan Biya.
Pada rapat umum kampanye pertamanya, Biya menjanjikan pengurangan angka pengangguran, memperbaiki infrastruktur, dan penambahan fasilitas sosial andai terpilih menjadi presiden untuk periode kedelapan. ”Saya sangat menyadari masalah-masalah yang Anda hadapi, juga harapan yang belum terpenuhi yang membuat Anda ragu akan masa depan,” ujarnya dalam pidatonya.
Pesaing terkuatnya, kandidat oposisi Kamerun, Issa Tchiroma Bakary, sempat mengklaim kemenangan pada hari Selasa. Namun, Menteri Administrasi Teritorial Paul Atanga Nji menolak klaim Tchiroma dan menuduh kandidat oposisi mencoba mengganggu proses pemilu.
Negara Afrika Tengah yang berpenduduk hampir 30 juta orang ini telah berjuang menghadapi tantangan dari gerakan pemisahan dan korupsi kronis. Korupsi telah menghambat pembangunan meskipun Kamerun kaya akan sumber daya alam, seperti minyak dan mineral.
Pada pemilu yang diadakan pada 12 Oktober 2025, Dewan Konstitusi Kamerun menyatakan Biya meraih 53,66 persen suara, sedangkan pesaingnya, Issa Tchiroma, meraih 35,19 persen. Pemilihan umum Kamerun menggunakan sistem pemilihan satu putaran yang memberikan kursi kepresidenan kepada kandidat dengan suara terbanyak.
Dengan kemenangan kali ini, Paul Biya akan kembali menjadi presiden Kamerun selama 7 tahun mendatang. Jika ini terjadi, dia mengakhiri masa jabatan di umur 99 tahun. Periode berikutnya ia bisa saja mencalonkan kembali dan ini sah menurut konstitusi negara itu. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto