Israel luncurkan serangan darat untuk kuasai Gaza, penduduk dipaksa mengungsi.
05 Apr 2025 07:41 WIB · Foto
Sebuah gedung sekolah tiga lantai di lingkungan Tuffah di Kota Gaza yang menjadi tempat berlindung warga, dibombardir serangan udara Israel, Jumat (04/03/2005). Sebanyak 14 anak-anak ditemukan tewas bersama sedikitnya 30 orang dewasa ditempat itu.
Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang "pusat komando dan kendali Hamas" di wilayah Kota Gaza. Wajah-wajah sedih terlihat dari anak-anak terluka yang dibawa ke rumah sakit terdekat di wilatah Shijaiyah. Sementara ratap tangis pilu terdengar dari kerabat dan orang tua yang kehilangan anak-anaknya dalam serangan itu.
Daerah al_Tuffah yang pagi itu terkena serangan udara nampak porak-poranda, Asap masih mengepul dari reruntuhan. Ditengah-tengah terdapat kerusakan besar hinhga mirip lapangan sepak bola. Rata dan bersih. Warga yang selamat berusaha mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Beberapa wanita duduk termenung, sementara para pria dewasa sibuk melihat ke reruntuhan, berusaha menemukan korban yang mungkin masih hidup dan bisa diselamatkan.
Sebelumnya pada senin 31 Maret 2025, Militer Israel mengeluarkan perintah agar penduduk sipil di Gaza untuk keluar dan mengungsi dari daerah itu. Israel berencana menguasai sebagian daerah Gaza untuk membangun koridor keamanan baru ditempat itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/05/53bdea26-a3c1-4944-aaef-caed5d61cda1_jpg.jpg)
Sejak itu, ribuan pengungsi terlihat bergerak perlahan dari kota yang lebih mirip reruntuhan itu. Sebagian besar dari mereka berjalan kaki dengan membawa barang-barang yang bisa diselamatkan, Hanya sebagian kecil dari mereka yang terlihat menaiki gerobak yang ditarik keledai. Mereka bergerombol dan berjalan beriringan membelah kota Gaza yang hancur,
Banyak anak-anak berjalan tanpa alas kaki, dipundak mereka terdapat tas dan ditangan mereka membawa tentengan. Anak-anak itu berjalan dalam diam, mengikuti langkah orang tuanya.
Militer Israel terus menekan Hamas berkaitan dengan tuntutan pembebasan 59 sandera, yang sebagian masih hidup. Sedangkan Hamas bersikukuh hanya akan membebaskan 59 sandera yang tersisa, dimana 24 di antaranya diyakini masih hidup, sebagai imbalan atas pembebasan lebih banyak tahanan Palestina, gencatan senjata yang permanen dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Dalam gencatan senjata tahap pertama yang berlangsung 19 Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, telah terjadi pertukaran sandera Hamas dengan Ribuan sandera Israel. Setidaknya Hamas telah menukar 33 sandera, baik yang hidup ataupun dalam kondisi meninggal, ditukar dengan ribuan sandera Israel. Kala itu, masyarakat Palestina menikmati situasi kehidupan damai dan “normal” selam 90 hari.
Gagalnya kesepakatan genjatan senjata tahap kedua, yang ditandai dengan serangan militer Israel pada tanggal 18 Maret 2025 lalu, membuat masyarakat Palestina dan penduduk Israel marah. Mereka berunjukrasa menuntut agar kedua belah pihak menahan diri, dan melanjutkan pertukaran sandera. Israel juga memberlakukan blokade bahan makanan, bahan bakar dan bantuan kemanusiaan selama sebulan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/05/6163f2bb-348b-47d7-b754-118f4e174345_jpg.jpg)
Perang dimulai ketika militan yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera 251 orang.
Israel membalas dengan agresi yang telah menewaskan lebih dari 50.000 penduduk Palestina yang sebagian besar adalah penduduk sipil. Dalam peristiwa terakhir, tanggal 23 Maret 2025, Militer Israel bahkan menembaki mobil ambulan di Gaza Selatan dan menewaskan 15 relawan medis yang ada di mobil tersebut. Jenasah dan mobil ambulan itu ditemukan terkubur tanah.
Israel menjanjikan penyelidikan independen untuk mengusut peristiwa itu, setelah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengecam serangan terhadap tenaga medis ini.
Dan, Israel akan terus menyerang sampai semua sandera dibebaskan Hamas..
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari