Potret Ribuan Warga yang Terusir

Israel luncurkan serangan darat untuk kuasai Gaza, penduduk dipaksa mengungsi.

05 Apr 2025 07:41 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sebuah gedung sekolah tiga lantai di lingkungan Tuffah di Kota Gaza yang menjadi tempat berlindung warga, dibombardir serangan udara Israel, Jumat (04/03/2005). Sebanyak 14 anak-anak ditemukan tewas bersama sedikitnya 30 orang dewasa ditempat itu. 

Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang "pusat komando dan kendali Hamas" di wilayah Kota Gaza. Wajah-wajah sedih terlihat dari anak-anak terluka yang dibawa ke rumah sakit terdekat di wilatah Shijaiyah. Sementara ratap tangis pilu terdengar dari kerabat dan orang tua yang kehilangan anak-anaknya dalam serangan itu.

Seorang gadis muda Palestina yang terluka dalam serangan udara Israel, dibawa untuk perawatan di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, pada hari Kamis, 3 April 2025.
Seorang bocah perempuan Palestina yang terluka dalam serangan udara Israel, dibawa untuk perawatan di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, pada hari Kamis, 3 April 2025.
Yamama Jundia, bocah berusia 13 tahunyang terluka dalam serangan udara Israel, di Rumah Sakit Baptist di Kota Gaza pada hari Kamis, 3 April 2025.
Warga Palestina berduka atas kerabat mereka yang tewas dalam serangan udara Israel, di sebuah rumah sakit di Beit Lahiya, Jalur Gaza, pada hari Rabu, 2 April 2025.
Seorang anak laki-laki Palestina menyelamatkan beberapa barang di tengah kehancuran di halaman sekolah, sehari setelah terkena serangan Israel, di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza pada 4 April 2025.
Warga Palestina mencoba menyelamatkan beberapa barang di tengah reruntuhan sekolah, setelah diserang oleh Israel, di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza pada 4 April 2025.
Yamama Jundia, bocah berusia 13 tahun yang terluka dalam serangan udara Israel, di Rumah Sakit Baptist di Kota Gaza pada hari Kamis, 3 April 2025.

Daerah al_Tuffah yang pagi itu terkena serangan udara nampak porak-poranda, Asap masih mengepul dari reruntuhan. Ditengah-tengah terdapat kerusakan besar hinhga mirip lapangan sepak bola. Rata dan bersih. Warga yang selamat berusaha mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Beberapa wanita duduk termenung, sementara para pria dewasa sibuk melihat ke reruntuhan, berusaha menemukan korban yang mungkin masih hidup dan bisa diselamatkan.

Sebelumnya pada senin 31 Maret 2025, Militer Israel mengeluarkan perintah agar penduduk sipil di Gaza untuk keluar dan mengungsi dari daerah itu. Israel berencana menguasai sebagian daerah Gaza untuk membangun koridor keamanan baru ditempat itu.

Warga Palestina berdiri di tengah reruntuhan sekolah, setelah terkena serangan Israel, di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza pada 4 April 2025.

Sejak itu, ribuan pengungsi terlihat bergerak perlahan dari kota yang lebih mirip reruntuhan itu. Sebagian besar dari mereka berjalan kaki dengan membawa barang-barang yang bisa diselamatkan, Hanya sebagian kecil dari mereka yang terlihat menaiki gerobak yang ditarik keledai. Mereka bergerombol dan berjalan beriringan membelah kota Gaza yang hancur,

Banyak anak-anak berjalan tanpa alas kaki, dipundak mereka terdapat tas dan ditangan mereka membawa tentengan. Anak-anak itu berjalan dalam diam, mengikuti langkah orang tuanya.

Militer Israel terus menekan Hamas berkaitan dengan tuntutan pembebasan 59 sandera, yang sebagian masih hidup. Sedangkan Hamas bersikukuh hanya akan membebaskan 59 sandera yang tersisa, dimana 24 di antaranya diyakini masih hidup, sebagai imbalan atas pembebasan lebih banyak tahanan Palestina, gencatan senjata yang permanen dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. 

Warga Palestina memeriksa kehancuran di halaman sekolah yang hancur, setelah terkena seran
Warga Palestina memeriksa kehancuran di halaman sekolah setelah terkena serangan Israel, di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza pada 4 April 2025.
Warga Palestina melarikan diri dari Shijaiyah, Gaza, pada hari Kamis, 3 April 2025, setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi di daerah tersebut.
Anak-anak Palestina membawa barang-barang saat mereka meninggalkan lingkungan Shijaiyah menyusul peringatan evakuasi yang dikeluarkan oleh tentara Israel, di Kota Gaza, pada hari Kamis, 3 April 2025.
Warga Palestina mencoba menyelamatkan beberapa barang di tengah reruntuhan sekolah, setelah diserang oleh Israel, di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza pada 4 April 2025.
Warga Palestina mengungsi di sepanjang jalan pesisir al-Rashid, menghubungkan Kota Gaza di utara dan Nusseirat di bagian tengah wilayah Palestina pada 4 April 2025.

Dalam gencatan senjata tahap pertama yang berlangsung 19 Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, telah terjadi pertukaran sandera Hamas dengan Ribuan sandera Israel. Setidaknya Hamas telah menukar 33 sandera, baik yang hidup ataupun dalam kondisi meninggal, ditukar dengan ribuan sandera Israel. Kala itu, masyarakat Palestina menikmati situasi kehidupan damai dan “normal” selam 90 hari. 

Gagalnya kesepakatan genjatan senjata tahap kedua, yang ditandai dengan serangan militer Israel pada tanggal 18 Maret 2025 lalu, membuat masyarakat Palestina dan penduduk Israel marah. Mereka berunjukrasa menuntut agar kedua belah pihak menahan diri, dan melanjutkan pertukaran sandera. Israel juga memberlakukan blokade bahan makanan, bahan bakar dan bantuan kemanusiaan selama sebulan. 

Warga Palestina berbondong-bondong mengungsi melewati jalan pesisir al-Rashid, menghubungkan Kota Gaza di utara dan Nusseirat di bagian tengah wilayah Palestina pada 4 April 2025.

Perang dimulai ketika militan yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera 251 orang.

Israel membalas dengan agresi yang telah menewaskan lebih dari 50.000 penduduk Palestina yang sebagian besar adalah penduduk sipil. Dalam peristiwa terakhir, tanggal 23 Maret 2025, Militer Israel bahkan menembaki mobil ambulan di Gaza Selatan dan menewaskan 15 relawan medis yang ada di mobil tersebut. Jenasah dan mobil ambulan itu ditemukan terkubur tanah.

Israel menjanjikan penyelidikan independen untuk mengusut peristiwa itu, setelah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengecam serangan terhadap tenaga medis ini.

Dan, Israel akan terus menyerang sampai semua sandera dibebaskan Hamas.. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari