Guru Besar Ekonomi Minta Prabowo Berbesar Hati Pangkas Anggaran MBG dan Koperasi Desa Merah Putih

Program Makan Bergizi Gratis mengambil anggaran Rp 335 triliun. Sementara anggaran Koperasi Desa Merah Putih mencapai Rp 117 triliun.

18 Mar 2026 08:57 WIB · Ekonomi & Bisnis

Cahyo-Biro Pers, Media, dan Informasi Se

Oleh Nina Susilo

Anak korban keracunan makanan bergizi gratis (MBG) dirawat di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (24/9/2025). Dalam tiga hari terakhir, tercatat hampir 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG. KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG (CHE)24-09-2025
Siswa membawa makanan bergizi gratis untuk dibagikan di kelas mereka di SDN Pejaten Barat 01, Jakarta, Senin (29/9/2025). Komite orang tua murid dan wali murid membantu pendistribusian dan pemantauan makan bergizi gratis (MBG) di SDN Pejaten Barat 01.  Hal itu dilakukan komite orang tua murid dan wali murid agar MBG yang diberikan kepada murid dapat terpantau serta mempermudah tugas guru sekolah dalam pendistribusian kepada murid-murid.KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)29-09-2025 *** Local Caption *** Siswa membawa makanan bergizi gratis untuk dibagikan di kelas mereka di SDN Pejaten Barat 01, Jakarta, Senin (29/9/2025). Komite orang tua murid dan wali murid membantu pendistribusian dan pemantauan makan bergizi gratis (MBG) di SDN Pejaten Barat 01. Kegiatan tersebut sudah dilakukan wali murid bersama komite orang tua murid sejak program MBG berlangsung di sekolah itu. Hal itu dilakukan komite orang tua murid dan wali murid agar MBG yang diberikan kepada murid dapat terpantau serta mempermudah tugas guru sekolah dalam pendistribusian kepada murid-murid. Program MBG menjadi sorotan seusai maraknya kejadian siswa keracunan usai menyantap MBG. Akibat kejadian itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian akan menggelar rapat nasional bersama seluruh kepala daerah, kepala dinas kesehatan, kepala dinas pendidikan, dan sekretariat daerah. Rapat itu untuk mempercepat koordinasi perbaikan tata kelola program MBG agar insiden siswa keracunan tidak kembali terjadi. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)29-09-2025

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah ekonom berharap Presiden Prabowo Subianto berbesar hati mengurangi anggaran program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan belanja alutsista. Program-program ini bisa tetap dilaksanakan dengan lebih terarah dengan anggaran lebih rendah. Defisit anggaran pun bisa diatasi.

Pesan ini disampaikan dalam diskusi daring para ekonom dengan topik ”Mengkritisi Rencana Pelebaran Batas Defisit APBN”. Hadir antara lain Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya, Rahma Gafmi; Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas, Padang, Syafruddin Karimi; Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Bogor, Didin S Damanhuri; pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat; dan pengajar di FEB Universitas Brawijaya, Malang, Noval Adib. Ada pula Awalil Rizky dan M Andri Perdana dari Bright Institute serta Dipo Satria Ramli dari CORE Indonesia.

Rahma menilai, pernyataan para pejabat seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kontradiktif. Narasi ekonomi tumbuh positif disampaikan, tetapi pelebaran defisit anggaran diwacanakan. Skenario pelebaran defisit anggaran menunjukkan adanya tekanan hebat pada APBN Indonesia. ”Tampak jelas kontradiksi narasi versus realitas,” ujarnya.

Apalagi, kesehatan fiskal negara kian rentan dengan gangguan faktor eksternal. Oleh karena itu, ketika fiskal tidak dikelola secara berhati-hati, defisit melebar dan pemerintah akan menarik utang lebih besar lagi.

”Semakin besar utang pemerintah, semakin banyak APBN yang digunakan untuk membayar utang, bukan untuk pembangunan,” tambahnya.

Rahma menambahkan, pemotongan dana transfer ke daerah (TKD) saat ini saja sudah menimbulkan masalah, di antaranya pembangunan melemah di daerah dan perbaikan jalur irigasi berkurang. Hal ini bisa mengganggu swasembada pangan.  

Pembangunan jaringan irigasi di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bertepatan dengan musim garapan petani, Senin (17/2/2025)

Pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), menteri-menteri bidang ekonomi memaparkan indikator-indikator yang serba baik. Mereka mengembangkan narasi bahwa perekonomian domestik baik-baik saja.

Namun, satu paparan yang kontradiktif dengan narasi itu adalah bahwa APBN 2026 berisiko mengalami tekanan hebat. Tekanan yang berasal dari lonjakan harga minyak, depresiasi rupiah, serta imbal hasil yang naik tersebut berisiko melebarkan defisit hingga melampaui batas maksimal sebagaimana ketentuan undang-undang sebesar 3 persen.

Airlangga memaparkan tiga skenario APBN 2026. Pertama, bila perang berlangsung lima bulan, defisit melebar ke 3,18 persen. Kedua, perang terjadi selama enam bulan dengan rata-rata harga minyak mentah dunia 97 dolar AS per barel dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 17.500, defisit melebar ke 3,53 persen.

Ketiga atau skenario terberat adalah perang berlangsung selama sepuluh bulan sehingga rata-rata harga minyak dunia 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah Rp 17.500 per dolar AS, defisit melebar ke 4,06 persen.

Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet tersebut meminta langkah penghematan konsumsi BBM, seperti kemungkinan kerja dari rumah (WFH). Presiden pun berharap APBN bisa seimbang (balanced budget).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan seusai mengikuti rapat koordinasi terbatas di Kantor Kementerian Koordinasi Perekonomian, Senin (16/3/2026). Antisipasi penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang terkait pelebaran defisit APBN tetap disiapkan kendati pemerintah mengupayakan penghematan anggaran dan kenaikan penerimaan negara terlebih dulu.

Menjawab pertanyaan wartawan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Senin (16/3/2026), menyatakan, pemerintah akan mengoptimalkan penerimaan negara dengan mengejar pelaku usaha yang melakukan praktik under-invoicing atau menurunkan nilai barang dalam faktur di bawah harga sebenarnya untuk mengurangi kewajiban bayar pajak.

Di hari yang sama, Airlangga mengatakan, pemerintah juga akan menghemat belanja dengan menyisir program-program di kementerian dan lembaga. Setiap kementerian akan diminta mengkaji. Hal yang pasti, anggaran program unggulan pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), tidak akan dipotong.

Para ekonom berpandangan pelebaran defisit anggaran adalah langkah terakhir. Ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi tekanan fiskal.

Quote

MBG dan Koperasi Desa Merah Putih masuk ’committed cost’ atau ’flexible cost’? Sebenarnya ’flexible cost’ karena ini program baru yang belum terlihat ’outcome’-nya.

Pengajar akuntansi Universitas Brawijaya Malang, Noval Adib, menyebutkan, committed cost, seperti gaji pegawai dan pensiunan serta transfer ke daerah, sesungguhnya tak bisa dihindari atau dipangkas. Namun, semua yang termasuk flexible cost, seperti perjalanan dinas serta hal-hal yang kurang penting lain, bisa dikurangi. Di negeri tetangga, Malaysia, para pejabatnya dilarang menggelar open house pada Idul Fitri 2026 untuk menghemat anggaran.

”MBG dan Koperasi Desa Merah Putih masuk committed cost atau flexible cost? Sebenarnya flexible cost karena ini program baru yang belum terlihat outcome-nya. Apalagi yang muncul di permukaan, penyelewengan, moral hazard, kualitas gizinya malah dipertanyakan. Tidak ada juga perbedaan besar yang diciptakan setelah satu tahun pelaksanaan, padahal anggarannya besar,” tutur Noval.

Penampakan mobil pikap Mahindra Scorpio 4x4 yang terparkir di kantor PT Agrinas Pangan Nusantara, Cawang, Jakarta, Minggu (1/3/2026). Mobil ini merupakan  bagian dari 105 ribu mobil niaga yang dipesan PT Agrinas dari India untuk memenuhi kebutuhan angkutan trasnportasi bagi Koperasi Desa Merah Putih.

Didin S Damanhuri berpendapat, MBG bisa difokuskan untuk daerah-daerah dengan angka tengkes tinggi dan gizi buruk tinggi. Dengan program yang lebih terarah, anggaran MBG cukup Rp 40 triliun-Rp 50 triliun.

Koperasi Desa Merah Putih bisa dilakukan secara selektif untuk desa-desa yang potensial dan bisa menggerakkan ekonomi perdesaan. Dengan demikian, anggarannya juga bisa dihemat.

Dua program itu, Didin melanjutkan, bisa menghemat ratusan triliun rupiah. Pada saat yang sama, janji kampanye Presiden Prabowo tetap bisa dijalankan sembari menyelesaikan masalah besar, yakni tengkes.

Sementara, defisit anggaran bisa dihindari sembari pemerintah tetap bisa membiayai kenaikan harga minyak dan bansos supaya masyarakat tetap punya daya beli. ”Tapi ini perlu kebesaran hati Presiden Prabowo,” kata Didin.

Infografik Dampak Impor Mobil Pikap dari India untuk Koperasi Merah Putih

Bukan baru

Terkait langkah Direktorat Jenderal Pajak mengejar pengusaha yang melakukan under-invoicing, menurut ekonom, bukan langkah baru. Hal ini sudah direncanakan sejak pembahasan RAPBN 2026.

Dipo pertama-tama menyoroti perencanaan APBN 2026 yang kurang matang sehingga target penerimaan pajak sangat tinggi. Akibatnya, realisasi berisiko di bawah target.

Upaya mengejar pelaku usaha dengan ancaman membongkar under-invoicing secara membabi buta, ia mengingatkan, akan membuat dunia usaha tak tenang.

”Sekarang saja, bisnis sudah tertekan dengan daya beli yang sangat rendah. Apalagi, Danantara sudah mau meng-issue lagi patriot bond dengan bunga 2 persen dan terkesan memaksa pelaku usaha. Kalau pemerintah terlalu agresif dan tidak hati-hati, pelaku usaha akhirnya bisa keluar baik lokal maupun asing,” tuturnya.

Layar menampilkan penerimaan pajak 2025 saat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi keterangan kepada wartawan pada konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak sepanjang 2025 hanya mencapai Rp 1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target APBN 2025 yang sebesar Rp 2.189,3 triliun.

Secara terpisah, anggota Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton J Supit, mengatakan, sepakat bila pemerintah menindak pengusaha yang nakal dan tidak membayar pajak. Namun, dia berharap, pemerintah tak terus-menerus mengejar pengusaha yang sudah membayar pajak.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia usaha sudah sangat tertekan. ”Mereka yang tidak tertib, silakan saja dikejar dan para oknum pejabat yang hidup mewah, tanya dari mana, itu saja dipajakin. Tapi kalau pengusaha yang sudah membayar, (lalu) dinaikkan pajaknya, itu, kan, akan berat apalagi kalau bukan semata-mata pajak, melainkan ada ancaman kriminal dan lain-lain,” kata Anton kepada Kompas, Selasa (17/3/2026), di Jakarta.

Dia menegaskan, pelaku usaha sama-sama mencintai negara. Pemerintah sebaiknya duduk bersama dunia usaha dan mengetahui kondisi sesungguhnya, bukan sekadar menerima data bisa tak sinkron dengan realitas.

Apalagi, menurut Anton, hal yang diperlukan saat ini sesungguhnya adalah ekspansi usaha. Dengan demikian, akan tersedia lebih banyak lapangan kerja formal untuk para pencari kerja. Namun, bila pemerintah tak memberikan iklim kondusif untuk berusaha, pelaku usaha bisa saja memilih ”tiarap”.

Kinerja APBN 2019-2026 dari sisi realisasi belanja negara, pendapatan, dan defisit anggaran.

Para ekonom juga mengingatkan pelebaran defisit akan menurunkan peringkat kredit dan investasi Indonesia. Ketika hal ini terjadi, biaya utang akan melonjak. Ini akan berimbas pada suku bunga perbankan yang juga melambung. Akibatnya, akselerasi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan semakin jauh dari kenyataan.

Selain itu, ketika defisit diperlebar, utang akan ditambah untuk menambal defisit. Utang pun akan menjadi beban generasi masa depan. Saat ini Indonesia sudah kesulitan mencicil bunga utang luar negerinya sekalipun.

”Pelebaran defisit hanya solusi malas untuk menambah utang dan tiap utang adalah pinjaman dari (generasi) masa depan. Jadi warisan utang adalah dosa besar pemerintah ke generasi masa depan. Anggaran bukan untuk pendidikan dan kesehatan, melainkan hanya untuk membayar utang. Apalagi, kita saat ini hanya mampu membayar cicilan bunga, bukan pokok utangnya,” tambah Dipo. (INA)


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono