Sudah mengumumkan menerima undangan dari PM Kanada, Prabowo Subianto memilih ke Rusia. Ia akan bertemu Putin dan menjadi pembicara di forum ekonomi.
12 Jun 2025 15:00 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi Singapura dan Rusia pekan depan. Dengan demikian, Indonesia tidak akan menghadiri pertemuan negara-negara kelompok ekonomi maju G7 di Kanada.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rolliansyah Soemirat di Jakarta, Kamis (12/6/2025), mengatakan, kunjungan Presiden Prabowo ke Singapura merupakan kunjungan kenegaraan. Lawatan itu juga membalas kunjungan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong ke Indonesia bulan November 2024.
Seperti halnya kunjungan Wong ke Jakarta, Rolliansyah mengatakan, kedua pemimpin akan membahas kerja sama strategis kedua negara. Pembahasan antara lain mengenai investasi dan sejumlah kerja sama di sejumlah bidang lainnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/06/ba28f31a-29d6-4157-bf05-617ae85c9499_jpg.jpg)
Menurut Rolliansyah yang akrab disapa Roy, kedua pemimpin akan berbicara lebih terbuka dalam leaders retreat selama kunjungan Prabowo ke Singapura. ”Dalam format ini biasanya para pemimpin akan lebih terbuka berbicara, berbagi pandangan dan pemikiran dalam hubungan kedua negara dan juga masalah regional serta internasional,” katanya.
Prabowo dijadwalkan terbang ke Singapura pada Minggu malam. Di sana, Presiden dijadwalkan menginap sampai Rabu.
Setelah kunjungan di Singapura, Presiden Prabowo dan rombongan terbatas akan berkunjung ke Rusia pada 18-20 Juni 2025. Rombongan presiden tidak akan mendarat di Moskwa, tetapi ke Saint Petersbug yang akan menjadi tuan rumah konferensi ekonomi.
Presiden Prabowo dijadwalkan akan berbicara dalam forum ekonomi tersebut. ”Presiden akan berpidato pada sesi pembukaan dan pleno bersama Presiden Rusia Vladimir Putin,” kata Roy.
Setelah itu, kedua presiden akan melakukan pembicaraan empat mata. Sejumlah kesepakatan juga diharapkan tercapai dalam kunjungan tersebut.
Roy mengatakan, saat ini sejumlah dokumen kerja sama tengah diselesaikan oleh kedua pihak agar bisa ditandatangani pada pertemuan tingkat tinggi nanti. Menurut Roy, perjanjian itu nantinya meliputi bidang transportasi, pembangunan kapal, pendidikan tinggi dan edukasi hingga kerja sama bidang ekonomi kreatif dan teknologi komputer. ”Semua dokumen dalam tahap finalisasi akhir,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/12/8101d0fbdca12b5e55be528d99ba20b5-IMG_1101.JPG)
Roy tidak menepis kemungkinan pemimpin kedua negara berbicara tentang kelanjutan kerja sama negara-negara anggota BRICS di tengah perang dagang AS-China dan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Akan tetapi, menurut Roy, pembicaraan mungkin tidak akan terlalu luas karena KTT BRICS akan berlangsung tak lama lagi, yakni bulan Juli 2025 di Rio de Janeiro, Brasil.
”Kami sangat menantikan kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto ke Federasi Rusia untuk mengambil bagian dalam Forum Ekonomi Internasional St Petersburg (SPIEF) Ke-28 sebagai tamu utama,” demikian pernyataan tertulis Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.
Kehadiran Prabowo-Putin di SPIEF, lanjut Kedubes Rusia, menggarisbawahi dialog politik yang kuat RI-Rusia. Kehadiran mereka juga mencerminkan komitmen bersama untuk kerja sama yang lebih erat.
Selama pertemuan bilateral kedua pemimpin tersebut, berbagai isu dalam agenda Rusia-Indonesia akan dibahas. Isunya termasuk penguatan kerja sama di bidang energi, keuangan, transportasi, pendidikan, budaya, dan bidang penting lainnya.
Pada kesempatan itu, Roy juga menjelaskan bahwa sebenarnya Prabowo menerima undangan untuk hadir dalam leaders outreach negara-negara G7 di Kananaskis, Alberta, Kanada, pada 17 Juni mendatang. Kegiatan itu merupakan bagian dari KTT G7 di tempat yang sama, yang berlangsung pada 15-17 Juni.
Undangan untuk hadir pada leaders outreach itu disampaikan langsung Perdana Menteri Kanada Mark Carney kepada Presiden. Bahkan, Sekretariat Kabinet telah mengumumkan Prabowo menerima undangan itu.
Roy mengatakan, undangan itu sebagai bentuk apresiasi peran dan posisi Indonesia di kancah politik global dari Pemerintah Kanada. Tahun ini, Kanada jadi ketua bergilir G-7. ”Namun, karena ada beberapa komitmen pertemuan presiden di Singapura dan partisipasi di forum dan Rusia, dia tidak bisa hadir di pertemuan itu,” kata Roy.
Meski begitu, Pemerintah Indonesia berharap negara-negara Kelompok G7 terus mendorong penguatan kerja sama global dengan negara-negara non-anggota untuk mengatasi berbagai persoalan krusial yang tengah dihadapi dunia internasional.
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji