Pelantikan Prabowo dan Pesan Jasmerah Soekarno

Hari ini Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden kedelapan Republik Indonesia. Ratusan juta penduduk Indonesia menaruh harapan besar pada kepemimpinannya.

20 Okt 2024 07:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Antonius Tomy Trinugroho - [email protected]

Penjual mengemas foto presiden terpilih Prabowo Subianto di Kawasan Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (19/10/2024). Penjualan bingkai foto presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, mulai banjir orderan jelang pelantikan. Salah satu penjual mengaku sudah mendapatkan orderan lebih dari 1.000 pasang bingkai foto Prabowo-Gibran sejak satu minggu sebelum hari pelantikan. Harga satu pasang foto Prabowo-Gibran dijual beragam tergantung ukurannya, mulai dari Rp 90.000 sampai Rp 950.000. Sejumlah pedagang memprediksi penjualan bingkai foto Prabowo-Gibran akan mulai diburu pembeli sehari setelah pelantikan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 19-10-2024

Setelah genap berusia 79 tahun pada 17 Agustus 2024, Republik Indonesia sekarang berada di tahun ke-80. Dengan demikian, dapat dikatakan, pelantikan Prabowo Subianto sebagai presiden berlangsung pada dekade kedelapan atau masa sepuluh tahun yang kedelapan kemerdekaan Indonesia. Ya, Presiden kedelapan RI dilantik pada tahun ke-80 berdirinya negara Indonesia.

Sebagai presiden kedelapan, Prabowo merupakan penerus tongkat estafet kepemimpinan nasional para presiden Indonesia sebelumnya. Mereka adalah Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, serta Joko Widodo.

Perspektif tersebut menunjukkan siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia, dia tak boleh melupakan masa lalu, jangan sampai mengabaikan sejarah. Presiden baru Indonesia merupakan hasil dinamika sejarah politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa Indonesia. Pada konteks ini, pidato terakhir kenegaraan Soekarno (17 Agustus 1966) terasa sangat mewakili.

Presiden Soekarno memasukkan tanda gambar ke dalam kotak suara saat pelaksanaan Pemilu 1955, Kamis (29/9/1955). IPPHOS *** Local Caption *** PEMILU 1955 -- Presiden Soekarno sedang memasukkan tanda gambar yang telah dicoblosnya ke dalam kotak suara

Dalam pidatonya itu, Soekarno mengatakan, ”Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.”

”Seorang pemimpin, yaitu Abraham Lincoln, berkata, one cannot escape history, orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah, bukan saja one cannot escape history, tetapi saya tambah, never leave history, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah!” kata Soekarno.

Janganlah sekali-sekali meninggalkan sejarah atau Jasmerah. Pesan ini sangat relevan pada saat Presiden kedelapan RI dilantik.

India, bangsa Eropa, dan Amerika Serikat

Indonesia sebagai negara modern yang proklamasi kemerdekaannya berlangsung pada 17 Agustus 1945 memiliki akar sejarah yang panjang. Berabad-abad sebelum proklamasi itu dikumandangkan, benih-benih Indonesia modern sudah mulai tumbuh.

Berlokasi di kepulauan Nusantara yang berada di antara Laut China Selatan serta Samudra Hindia, Indonesia merupakan pertemuan beragam kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan itu ialah tradisi Hindu-Buddha yang dibawa oleh para penjelajah dari peradaban kuno India di Asia Selatan. Sistem religi Hindu-Buddha pun berkembang di Nusantara yang ditandai, antara lain, dengan berdirinya Kerajaan Tarumanegara, Kutai, dan Mataram Kuno.

Salah satu sudut Candi Parit Duku di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi di Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, yang proses pemugarannya nyaris rampung, Jumat (20/9/2024). Dijadwalkan KCBN Muarajambi akan diresmikan pada awal Oktober 2024. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Kerajaan besar Sriwijaya pada abad ketujuh serta Kerajaan Majapahit di abad ke-13 hingga ke-16 menjadi puncak eksistensi tradisi Hindu-Buddha di Nusantara. Pengaruh dua kerajaan itu di kawasan sangat besar. Para cendekiawan dari dataran China harus tinggal beberapa waktu di wilayah Sumatera Selatan (Kerajaan Sriwijaya) untuk mempelajari materi pendahuluan sebelum melanjutkan perjalanan menuju India guna memperdalam studi keagamaan. Kunjungan ke Sriwijaya merupakan bagian penting dari pergulatan kaum intelektual di kawasan Asia untuk menambah wawasan keilmuan. Dapat dibayangkan, pusat pemerintahan Sriwijaya dipenuhi warga dari luar kepulauan Nusantara untuk belajar, membaca, dan mengkaji kitab.

Majapahit kemudian berdiri dan besar pada abad ke-14 dengan jangkauan hingga di wilayah yang sekarang meliputi negara tetangga Indonesia. Berbasis di Pulau Jawa, Majapahit menjalin hubungan dagang dan diplomasi dengan berbagai kekuatan asing yang berlokasi jauh dari Nusantara.

Lalu, datanglah era Islam. Pedagang Timur Tengah dan India tiba di Nusantara dengan membawa sistem religi tersebut. Muncullah Kerajaan Demak dan kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Kesultanan-kesulatanan yang masih ada sekarang merupakan bukti keberadaan era tersebut.

Pada fase selanjutnya, kebangkitan Eropa sangat dirasakan pengaruhnya di Indonesia. Penjelajahan yang dilakukan bangsa Belanda, Portugal, dan Spanyol mengantar mereka tiba di Nusantara. Teknologi serta ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa-bangsa Eropa membantu mereka untuk mencengkeram bumi Nusantara.

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Kaisar Jepang Naruhito saat melihat tanaman anggrek di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Senin (19/6/2023). Joko Widodo mengajak Naruhito bersama Permaisuri Masako untuk melihat tanaman anggrek seusai upacara penyambutan kedatangan di Istana Bogor. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 19-06-2023

Revolusi Industri membuat Inggris unggul ketimbang bangsa-bangsa Eropa lainnya pada abad ke-19. Namun, seiring perjalanan waktu, dikombinasikan dengan Perang Dunia Pertama dan Kedua yang meluluhlantakkan Eropa, muncul Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan dominan baru. AS yang didirikan dengan semangat lebih egaliter ketimbang kerajaan-kerajaan di Eropa memiliki sumber daya besar untuk memperluas pengaruhnya di dunia.

Gerakan nasionalisme

Setelah Perang Dunia II, gerakan nasionalisme menyebar dengan cepat di antara para tokoh Asia serta Afrika. Gagasan negara modern yang bertumpu pada demokrasi politik dan ekonomi didiskusikan oleh mereka, termasuk tentunya oleh Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta saat ia masih mengambil studi di Belanda. Soekarno dan tokoh penting lainnya membangun gagasan nasionalisme itu menjadi gerakan nyata di tengah rakyat Indonesia.

Lama-kelamaan, kehadiran Belanda di bumi Nusantara tak bisa dipertahankan lagi. Dunia yang berubah, dinamika geopolitik yang tak lagi sama seperti era sebelumnya, dikombinasikan dengan gerakan nasionalisme Indonesia yang begitu masif dan kuat, menjadi faktor pendorong peristiwa Proklamasi 1945.

Indonesia pun berdiri tegak dan mendapat pengakuan luas dari komunitas internasional pada 1949 serta dekade 1950-an. Kemerdekaan Indonesia diikuti dengan kemerdekaan banyak negara baru di Asia dan Afrika. Satu per satu kekuatan kolonial Eropa harus angkat kaki dari bumi Afrika serta Asia.

<p>*** Local Caption *** Soviet Premier Nikita Khrushchev and his host, President Soekarno of Indonesia, were caught in this embrace during the former&#8217;s visit to Indonesia in February. The Soviet leader spent 12 days in Indonesia as part of a larger Asian tour.</p>

Tak lama setelah Indonesia merdeka, dunia memasuki era Perang Dingin: pertarungan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat serta Blok Timur yang dikomandani Uni Soviet. Ideologi komunisme sangat populer. Banyak negara, termasuk AS, cemas dengan ideologi yang dibangun dengan basis ajaran Karl Marx serta Vladimir Lenin itu.

Indonesia turut masuk dalam kondisi persaingan Blok Barat-Blok Timur. Puncak kompetisi kedua blok di Indonesia terjadi pada 1960-an. Maka, pecahlah peristiwa 1965.

Orde Baru

Orde Baru yang dipimpin Soeharto pun lahir. Pertanian dibangun. Bendungan dan jalan raya bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia, sekolah dasar didirikan di mana-mana. Sebutan SD Inpres menjadi salah satu bukti kegigihan Indonesia pada masa itu untuk membangun pendidikan, membuat rakyat menjadi cerdas. Inpres merupakan singkatan dari instruksi presiden, sebuah upaya untuk mempersingkat proses pembangunan, dalam hal ini pendirian gedung sekolah dasar.

Pada awal 1990-an, demokratisasi dan globalisasi menjadi mantra baru, tak lama setelah Uni Soviet bubar. Perdagangan meningkat pesat berkat globalisasi. Gagasan demokrasi ikut menyebar luas ke mana-mana.

Halaman depan Kompas, Selasa, 30 Desember 1997.

Pada tahun 1997, di tengah konsekuensi globalisasi, yakni sistem keuangan yang saling terhubung satu sama lain pada tingkat dunia, terjadi malapetaka moneter. Rupiah anjlok setelah nilai kurs mata uang negara tetangga jatuh. Orde Baru tak bisa bertahan.

Presidensialisme multipartai

Demokrasi bersemi di Indonesia. Siapa pun boleh mendirikan partai politik. Habibie, Gus Dur, dan Megawati mengawal dengan sangat baik masa peralihan yang tak mudah itu hingga lahirlah empat amendemen konstitusi UUD 1945.

Pada 5 Juli 2004, untuk pertama kalinya, rakyat Indonesia memilih secara langsung presiden mereka. Dengan resmi, Indonesia pun memulai sistem presidensialisme multipartai. Banyak ahli menyebutkan bahwa sistem ini penuh risiko karena menghasilkan dua entitas eksekutif dan legislatif yang terpisah, tetapi sekaligus sama-sama menerima mandat langsung dari rakyat. Kasus-kasus di Amerika Selatan memperlihatkan betapa presidensialisme multipartai berpotensi deadlock, mengalami kebuntuan dan konflik keras antara parlemen serta presiden.

Yudhoyono merasakan betapa pelik sistem tersebut. Upaya membangun koalisi dan merangkul partai-partai harus dilakukannya sejak awal ia berkuasa agar pemerintahannya tetap kuat dan stabil. Dunia mengamati dengan serius nasib Indonesia di era baru tersebut. Demokrasi ternyata tetap hidup. Tidak ada pemberangusan partai dan media. Siapa pun tetap bebas mengkritik Yudhoyono.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi istrinya Kristiani Herawati, Wakil presiden Jusuf Kalla dan istrinya Mufidah Jusuf dan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid melambaikan tangan usai mengikuti acara pelantikan presiden - wakil presiden periode 2004 - 2009 di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (20/10/2004). Kompas/Agus Susanto *** Local Caption *** kompas/agus susanto Lambaikan Tangan-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi istrinya Kristiani Herawati, Wakil presiden Jusuf Kalla dan istrinya Mufidah Jusuf dan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid melambaikan tangan usai mengikuti acara pelantikan presiden - wakil presiden periode 2004 - 2009 di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (20/10).

Masa 10 tahun Yudhoyono berakhir, dilanjutkan oleh Jokowi. Pembangunan infrastruktur dipercepat oleh Jokowi. Siapa pun paham bahwa ekonomi akan berkembang baik jika jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta, dan sebagainya tersedia dengan baik.

Kebangkitan China

Jokowi berkuasa di era ledakan informasi dan kemajuan teknologi kecerdasan buatan. Startup atau perusahaan rintisan bermunculan. Di sisi lain, kemajuan itu juga mengantar segelintir raksasa teknologi mencengkeram kuat kehidupan sehari-hari warga dunia.

Pada saat yang sama, geopolitik berubah. Kekuatan adidaya AS menghadapi pesaing, yakni China. Kebangkitan negara ini, yang terjadi berkat keterbukaan ekonomi sejak akhir 1970-an dirasakan seluruh negara di dunia. Produk dari China mengalir deras ke mana-mana: mulai dari boneka hingga mobil listrik.

Chinese President Xi Jinping and United Arab Emirates President Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (L) shake hands following a signing ceremony at the Great Hall of the People in Beijing on May 30, 2024. (Photo by TINGSHU WANG / POOL / AFP)

Sementara itu, dunia juga kian sadar bahwa energi fosil tak bisa dipertahankan. Energi hijau muncul sebagai mantra baru yang membuat banyak negara harus mengubah kebijakan mereka di banyak bidang, termasuk ekonomi dan politik luar negeri. Energi hijau mempertegas posisi China sebagai kekuatan penting dunia karena negara itu menguasai banyak penambangan serta pengolahan critical minerals serta rare earth. Keduanya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan turbin angin, sel surya, hingga baterai.

”Stunting”, kebodohan, dan korupsi

Pada titik itulah, Prabowo dilantik sebagai presiden kedelapan RI. Banyak pencapaian yang telah dihasilkan Indonesia pada masa sebelum Prabowo. Pada saat yang sama, ada sangat banyak tantangan yang harus ditangani oleh Prabowo.

Di era informasi dan kecerdasan buatan, Indonesia masih mengalami problem stunting atau tengkes. Banyak anak Indonesia yang menderita kekurangan gizi. Masalah ini tak hanya disebabkan oleh asupan makanan bergizi yang minim. Di dalamnya, ada isu pernikahan anak, budaya patriarki yang masih kuat, sarana sanitasi yang tak memadai, hingga layanan kesehatan yang belum merata.

Pemberian vitamin bagi anak balita oleh salah satu tenaga bidan di rumah posyandu Kampung Wamesa, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada 2 Oktober 2023. Pemberian vitamin menjadi salah satu upaya pencegahan anak dengan kondisi tengkes.

Pendidikan di Indonesia juga dinilai belum optimal. Skor PISA Indonesia tergolong rendah. Sederhananya, kemampuan membaca, matematika, dan sains anak-anak Indonesia harus diperbaiki, jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara Asia Tenggara. Penanganannya tak bisa mengandalkan pemerintah pusat karena, sesuai otonom daerah, pendidikan berada di bawah kendali pemerintahan lokal.

Problem lainnya yang harus segera diatasi ialah korupsi. Di jajaran aparat paling bawah hingga atas, ditemukan praktik suap dan penggelapan. Orang tidak malu lagi mengambil uang rakyat karena ternyata lebih penting mempunyai banyak harta ketimbang hidup jujur. Korupsi yang masif ini hanya bisa diatasi dengan keterbukaan: buat segala sesuatunya transparan, termasuk penentuan pejabat-pejabat di pusat serta daerah.

Setelah pesta usai

Hari ini pesta berlangsung untuk menyambut presiden kedelapan RI. Ribuan, bahkan mungkin jutaan rakyat Indonesia, turun ke jalan, menikmati pesta itu, atau setidaknya menyaksikannya lewat televisi dan siaran streaming di Youtube.

Media berlomba-lomba menuliskan, melaporkan kemeriahan pesta penyambutan presiden kedelapan RI. Masyarakat diwawancarai, ditanya tentang harapan mereka terhadap pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo.

Namun, seperti disampaikan Soekarno dalam Pidato Jasmerah, hendaknya jangan kita melupakan sejarah. Indonesia dibangun dengan pengorbanan para pendahulu kita. Kini, Indonesia akan menciptakan sejarah-sejarah baru untuk menjadi warisan bagi para penerus di masa mendatang.

Setelah pesta usai, jangan sia-siakan kesempatan yang kini sudah berada di dalam genggaman tangan. Sejahterakan rakyat Indonesia karena hanya dengan rakyat yang kuatlah, negara juga akan menjadi kuat.

Hanya dengan cara itulah, lirik lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” dapat terwujud:

Indonesia raya

Merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Editor:

Albertus Subur Tjahjono