Di hadapan purnawirawan TNI-Polri, Presiden Prabowo Subianto gelorakan kemandirian bangsa.
06 Mei 2025 22:48 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan keinginannya membawa Indonesia mandiri. Semangat ini disebutnya sebagai didikan para seniornya di TNI, termasuk Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI.
Hal ini disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri Halalbihalal Bersama Purnawirawan TNI AD dan Keluarga Besar TNI-Polri Tahun 1446 H/2025 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (6/5/2025). Sebanyak 1.210 purnawirawan berpartisipasi dalam acara ini.
Hadir pula Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto. Selain itu, tampak pula anggota Kabinet Merah Putih, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kepala BIN Herindra, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo.
Sebelum memberikan sambutan, Prabowo pun memberikan penghormatan kepada Try Sutrisno yang duduk semeja. Di meja yang sama, duduk pula Luhut, Sjafrie, dan Plt Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD) Mayor Jenderal (Purn) Komaruddin Simanjuntak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/06/b16c9dd9-0e9d-4357-9d5b-ed7649da069b_jpg.jpg)
Prabowo, dalam sambutannya, mengenang masa muda sebagai taruna. ”Dari sejak kita muda, hari-hari pertama di tentara, kita diajarkan bahwa begitu kita menjadi prajurit, hidup kita, jiwa kita, sesungguhnya sudah bukan milik kita sendiri, bukan milik keluarga. Jiwa dan raga kita, kita sudah persembahkan kepada rakyat dan bangsa Indonesia. Itu yang melekat pada diri saya sebagai prajurit muda,” tuturnya.
Prabowo pun merasa beruntung karena masih mendapatkan pembelajaran dari para tokoh angkatan ’45. Hasilnya adalah patriotisme yang berkobar, cinta tanah air yang luar biasa, dan kepercayaan diri.
Generasi ’45, menurut Prabowo, memiliki semangat kuat untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan besar. ”Bangsa Indonesia tidak mau jadi bangsa kuli. Bangsa ini tidak mau jadi bangsa yang kerdil, bangsa yang miskin. Angkatan ’45 berani mengambil sikap, padahal negara belum punya, anggaran belum punya, administrasi belum punya,” tambahnya.
Para pejuang kemerdekaan pun banyak yang meninggal di usia muda. Karena itu, Prabowo menceritakan saat kecil sering diajak ke makam beberapa pamannya yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan.
Bangsa Indonesia tidak mau jadi bangsa kuli. Bangsa ini tidak mau jadi bangsa yang kerdil, bangsa yang miskin.
Tak hanya itu, para pendiri bangsa mewariskan Pancasila dan UUD 1945. Pegangan negara ini, menurut Prabowo, kerap diabaikan para elite bangsa. ”Tapi maaf, saya katakan, banyak di antara elite yang tidak memahami atau tidak mau memahami atau pura-pura tidak mau lihat arti dari pasal-pasal penting dan karena itulah kekayaan kita mengalir ke luar negeri. Selama puluhan tahun ini sumber masalah dan karena inilah saya terjun ke medan politik,” kata Prabowo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/06/d8a829c3-2b2c-4ddf-8edd-2e660f12d874_jpg.jpg)
Untuk itu, memastikan kekayaan bangsa tetap di Indonesia dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat menjadi penting. Prabowo pun mengatakan tak akan pernah menyerah.
”Saya tidak rela kekayaan bangsa kita tidak dinikmati oleh rakyat ini. Saya tidak rela dan karena itu saya terjun ke politik,” ujarnya.
Kendati dituduh sebagai diktator, Prabowo mengingatkan bahwa TNI adalah pihak yang dengan rela membiarkan reformasi mewujud. ”TNI mundur dengan rela. Reformasi itu adalah (hasil) tokoh-tokoh TNI dan Polri, ABRI,” tambahnya.
Sebagai mantan prajurit, lanjut Prabowo, semua harus mengerti perang. Kendati tidak menginginkan perang, terkadang perang tak bisa dihindarkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/21e7493a5ace928ddb7392c773bc7123-IMG_20250407_WA0078.jpg)
Presiden pun mencontohkan, Indonesia kerap diganggu bangsa lain karena kekayaannya, seperti nikel, bauksit, dan kelapa sawit. Apalagi, sawit kini disebut Presiden sebagai komoditas kritis dan diminati banyak negara. Bahkan, sawit bisa dimanfaatkan untuk memproduksi bahan bakar minyak.
”Negara kita sesungguhnya tidak perlu impor BBM, hampir 40 miliar dollar AS satu tahun. Padahal, kita sebenarnya tidak perlu impor dan saya dalam pemerintahan yang saya pimpin dalam lima tahun yang akan datang harus swasembada BBM, swasembada energi,” tuturnya.
Hal ini, menurut dia, harus bisa dicapai. ”Harus bisa. Merdeka atau mati! Berdiri di atas kita sendiri. Kita tidak mau jadi kacungnya bangsa lain. Kalau (ada) yang mau silakan, (tapi) saya tidak mau,” ujar Prabowo.
Semangat ini disebut Prabowo sebagai didikan dari para seniornya, seperti Try Sutrisno, Wiranto, dan Luhut.
Selain mendorong kemandirian pengelolaan kekayaan, Prabowo juga menceritakan rencananya mendirikan 100 sekolah rakyat, sekolah berasrama untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/27/d6722c0c-1c02-43bb-be5f-2994aa71daaf_jpg.jpg)
Di akhir sambutannya, Presiden Prabowo mengajak semua purnawirawan TNI-Polri dan tamu lainnya menyanyikan lagu ”Hymne Taruna” bersama-sama. Agus Harimurti Yudhoyono pun didaulat memimpin hadirin menyanyikan lagu tersebut.
Wiranto, Luhut, Sjafrie, Herindra, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Hendropriyono naik ke panggung dan menyanyi bersama.
”Biar badan hancur lebur, kita kan bertempur membela keadilan suci. Kebenaran murni, di bawah Dwi Warna Panji. Kita kan berbakti mengorbankan jiwa dan raga, membela Ibu Pertiwi”, demikian liriknya.
”Merdeka! Merdeka! Merdeka!” seru Prabowo di akhir lagu, yang diikuti dengan menyanyikan lagu ”Padamu Negeri”, foto bersama, dan ramah tamah.
Komaruddin menjelaskan, acara halalbihalal diadakan tiap tahun dan tidak ada kaitannya dengan usulan delapan poin dari purnawirawan TNI.
Harus bisa. Merdeka atau mati! Berdiri di atas kita sendiri. Kita tidak mau jadi kacungnya bangsa lain. Kalau (ada) yang mau silakan, (tapi) saya tidak mau.
Dia pun menyebut usulan para purnawirawan wajar-wajar saja. Sebab, setelah mengabdi, semua tetap ingin membangun bangsa ini.
”Itu bukan berarti mereka tidak setuju dengan pemerintahan. Saya kira mereka ingin membangun bangsa ini, membantu pemerintah seperti yang sekarang,” katanya kepada wartawan.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti