Hanya dalam dua minggu, premanisme terjadi dua kali di Bekasi. Para pelaku memalak pedagang lagi-lagi dengan dalih uang keamanan.
04 Apr 2025 16:31 WIB · Metro
Entah apa yang ada di benak para preman di era serba viral ini. Sudah banyak ”rekannya” dibuat malu hingga diciduk polisi, mereka masih saja sok jago. Awalnya ingin disegani, ujungnya pasti tidak bernyali.
Aksi preman di Kota Bekasi, Jawa Barat, lagi-lagi bikin jengkel. Dalam video viral di media sosial, dua preman merusak lapak milik pedagang yang digelar di jalan aspal Pasar Baru, Kamis (3/4/2025).
Akibatnya, mentimun, bawang, hingga cabai yang digelar di pinggir jalan berhamburan menjadi sasaran amuk kedua pelaku. Semua mata, baik pedagang lain maupun pembeli, melihat aksi itu. Namun, tidak ada satu pun yang melerainya.
Bisa jadi mereka takut atau enggan berurusan dengan preman mabuk itu. Saat mengamuk dan menendang lapak pedagang, mata dua preman melotot. Salah satu preman, berbaju merah dan berperut buncit, bersuara sangat lantang.
”Gulung gak, gulung,” katanya meminta pedagang menutup lapak jualannya.
Mendapat perlakuan itu, pedagang itu ketakutan. Salah satu di antaranya meminta maaf berulang-ulang. Namun, ia melakukannya dengan tetap mengambil video. Total video itu terekam selama 1 menit 44 detik.
Pedagang lain, seorang perempuan, juga berulang kali meminta para preman menyudahi emosinya. Dia mengaku tidak tahu apabila harus membayar uang kepada pelaku.
”Sudah Bang, udah besok saya tidak jualan lagi. Saya baru ngerti,” kata perempuan penjual sayur.
Bukan melembut, para preman pasar itu justru kian naik pitam. Mereka semakin berlagak menjadi sosok paling ditakuti.
”Tanya siapa saya di sini,” kata preman berbaju merah.
”Awas, kalau saya lihat besok masih ada di sini. Jangan berjualan lagi,” teriak preman lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/14/388be4ad-ff5c-48c9-88f5-e71cf5103147.jpg)
Setelah video itu viral, polisi bergerak. Kedua pelaku ditangkap pada Jumat (4/4/2025) pagi. ”Pelaku sudah kami tangkap,” kata Kepala Polsek Rawalumbu Ajun Komisaris Ririn Sri Damayanti.
Dari gambar yang beredar di medsos, kedua preman itu tidak galak lagi. Tidak ada lagi kata-kata dengan nada tinggi keluar dari mulut keduanya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Metro Bekasi Kota Komisaris Binsar Hatorangan Sianturi mengatakan, kedua pelaku emosi karena pedagang tidak memberikan ”jatah preman”.
Pelaku memalak Rp 2.000-Rp 5.000 per hari kepada setiap pedagang. Pedagang yang tidak bayar dilarang jualan.
Binsar mengatakan, kedua pelaku kini masih diperiksa. Apalagi, dari hasil tes urine, keduanya positif menggunakan sabu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/07/02/20210207-Ilustrasi-Opini-Lawan-Preman-Tegakkan-Wibawa-Negara_1625244069.jpg)
Tanggapan warganet beragam. Sebagian bersyukur keduanya ditangkap. ”Tetangga ane wkwkw,” kata salah satu warganet.
Sebagian lagi mengatakan, aksi itu sudah sering dan terjadi berlangsung lama. Masih banyak terjadi di berbagai tempat, para pelaku disebut tidak belajar dari kasus-kasus sebelumnya.
”Gak punya medos ini orang. Gak belajar dr kejadian marin,” tulis warganet lainnya.
Pengamat sosial dari Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi, Hamluddin, mengatakan, pemerasan sangat menyulitkan hidup para korban. Bayangkan, kata Hamluddin, jika yang diperas adalah pedagang kecil yang hidup dari untung tipis berjualan sehari-hari.
”Siapa tahu yang diperas justru uang modal mereka,” kata Hamluddin.
Ke depan, kata Hamluddin, aparat harus tegas memberi sanksi. Tujuannya agar semua masyarakat terlindungi. ”Jangan sampai masyarakat takut mengadu karena mereka tidak mendapat perlindungan,” ucap Hamluddin.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul