program nuklir

Iran Inginkan Negosiasi Adil dan Setara dengan AS

Perundingan AS dan Iran terkait nuklir akan digelar di Turki pekan ini. Presiden Donald Trump mengingatkan, waktu hampir habis bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.

03 Feb 2026 18:53 WIB · Internasional

KOMPAS

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

TEHERAN, SELASA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan dimulainya negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan melakukan hal-hal buruk jika tidak tercapai kesepakatan.

Meskipun saling mengancam akan melancarkan serangan, perundingan nuklir AS dan Iran terus berjalan. Trump berulang kali melontarkan ancaman kepada Iran. Pemicunya adalah tindakan keras otoritas Iran terhadap pengunjuk rasa antipemerintah yang memuncak pada bulan lalu. AS mengerahkan armada lautnya ke kawasan Timur Tengah.

Iran pun membuka ruang diplomasi. Namun, Teheran akan memberikan respons tanpa batas terhadap agresi apa pun ke wilayahnya. Serangan terhadap Iran tidak hanya membahayakan rakyatnya, tetapi juga berpotensi memicu konflik lebih luas dan melibatkan negara lain.

Iranian President Masoud Pezeshkian speaks during a ceremony commemorating the death anniversary of the late commander of the Iran's Revolutionary Guard expeditionary Quds Force, Gen. Qassem Soleimani, who was killed in a U.S. drone attack in 2020 in Iraq, at the Imam Khomeini grand mosque in Tehran, Iran, Thursday, Jan. 1, 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

”Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri, dengan syarat adanya lingkungan yang sesuai—yang bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal—untuk bernegosiasi secara adil dan setara, dipandu oleh prinsip-prinsip martabat, kehati-hatian, dan kelayakan,” kata Pezeshkian, Selasa (3/2/2026).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, Teheran sedang menyiapkan metode dan kerangka kerja untuk bernegosiasi dengan AS. Hal ini dijadwalkan rampung dalam beberapa hari mendatang.

Trump berharap tercapai kesepakatan dengan Iran. Bahkan, ia mengingatkan, waktu hampir habis bagi Iran untuk mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya.

AS menuduh program nuklir Iran bertujuan untuk membuat bom atom. Tuduhan itu berulang kali dibantah oleh Iran. Iran meminta AS menghentikan ancaman serangan dan berunding.

WASHINGTON, DC - JANUARY 28: U.S. President Donald Trump arrives on stage before delivering remarks during the Treasury Department's Trump Accounts Summit at Andrew W. Mellon Auditorium on January 28, 2026 in Washington, DC. "Trump Accounts" are a portion of recently passed tax and spending legislation where the federal government will deposit $1,000 into investment accounts for every child born between 2025 and 2028 once parents sign their children up while filing their income taxes.   Win McNamee/Getty Images/AFP (Photo by WIN MCNAMEE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Pembicaraan menurut rencana digelar di Turki pekan ini. Sejumlah negara disebutkan akan terlibat, di antaranya Turki, Qatar, Oman, dan Mesir. Prioritas pembicaraan adalah menghindari konflik dan meredakan ketegangan di antara kedua belah pihak.

Situs berita AS, Axios, menyebutkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan bertemu dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff di Istanbul, Turki. Mereka akan membahas kemungkinan kesepakatan tentang masalah nuklir Iran.

”Presiden Trump mengatakan, tidak ada senjata nuklir, dan kami sepenuhnya setuju. Kami sepenuhnya setuju dengan itu. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik. Sebagai imbalannya, kami mengharapkan pencabutan sanksi,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan CNN, Minggu.

Quote

Trump berharap tercapai kesepakatan dengan Iran. Bahkan, ia mengingatkan, waktu hampir habis bagi Iran untuk mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya.

Turki telah memimpin upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan AS dan Iran. Araghchi mengunjungi Istanbul pekan lalu untuk berbicara dengan para pemimpin regional lainnya, termasuk di Mesir, Arab Saudi, dan Jordania.

Perang regional

Ketegangan AS-Iran bisa berdampak luas. Hal ini memunculkan kekhawatiran, terutama bagi negara-negara di Timur Tengah. Otoritas Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, telah memperingatkan, serangan AS akan memicu perang regional.

Rakyat Iran pun bereaksi atas situasi di negaranya. Ali Hamidi (68), seorang veteran, mengatakan, AS seharusnya mengurusi masalah mereka sendiri. Ia pun tidak takut jika perang harus terjadi.

This handout picture provided by the office of Iran's Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei shows him waving during a meeting with iranian people in Tehran on February 1, 2026, ahead of the 47th anniversary of the 1979 Islamic Revolution. Khamenei warned on February 1 of a "regional war" if the United States attacked following heavy military deployments by Washington in the Gulf. (Photo by KHAMENEI.IR / AFP) / === RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / KHAMENEI.IR" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ===

”Para pejabat Iran juga bersalah karena tidak menyediakan kebutuhan rakyat. Masalah ekonomi sangat berat. Para pejabat harus melakukan sesuatu yang nyata, bukan hanya berbicara,” ujarnya.

Tekanan ekonomi memicu aksi protes di Iran sejak akhir Desember 2025. Otoritas Iran menyebut protes itu kerusuhan yang dipicu musuh bebuyutannya, AS dan Israel.

Protes pun merenggut korban jiwa. Teheran mengakui, ribuan kematian terjadi selama protes. Sementara Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, LSM yang berbasis di AS, mengonfirmasi 6.854 kematian yang sebagian besar terdiri dari para demonstran.

Kondisi itu menimbulkan ketakutan bagi warga Iran. Selina (25), salah seorang warga, memutuskan pergi ke Kurdistan, Irak, untuk mencari perlindungan.

”Tidak aman bagi kami di Iran. Kami bahkan tidak berani keluar setelah pukul 18.00 karena tentara ada di mana-mana,” ucapnya.

Sejumlah pihak menyikapi situasi di Iran. Uni Eropa memasukkan Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris. Parlemen Iran membalasnya dengan memberikan sebutan yang sama pada tentara Eropa. Kementerian Luar Negeri Iran juga telah memanggil para duta besar negara anggota Uni Eropa di Teheran. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti