Presiden Israel Serukan Penghentian Kekerasan terhadap Palestina di Tepi Barat

Kekerasan oleh pemukim Israel kepada warga Palestina terus meningkat. Warga Palestina marah karena Israel tidak pernah menindak aksi pemukim.

13 Nov 2025 10:30 WIB · Internasional

AFP/Jack Guez

Oleh Helena Fransisca Nababan

JERUSALEM, KAMIS — Presiden Israel Isaac Herzog menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Seruan serupa disampaikan Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir.

”Semua otoritas negara harus bertindak tegas untuk memberantas fenomena tersebut,” tulis Herzog di media sosial, seperti dikutip kantor berita Associated Press (AP), Kamis (13/11/2025).

Posisi Herzog sebagai presiden memang sebatas seremonial. Namun, ia menjadi acuan bagi moral bangsa dan pemersatu bagi Israel. Herzog mengatakan, kekerasan yang dilakukan ”segelintir” pemukim Yahudi sudah melewati batas dan mengecam tindakan mereka.

Seruan Herzog semakin memperkuat kritik yang selama ini diredam para pejabat tinggi Israel atas kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi. Israel dikecam karena jarang menangkap dan menindak pemukim yang melakukan kekerasan kepada warga Palestina.

Pernyataan Herzog muncul setelah puluhan pemukim Israel bertopeng menyerang desa-desa Palestina di Beit Lid dan Deir Sharaf di Tepi Barat pada Selasa. Mereka juga membakar kendaraan dan properti lainnya sebelum bentrok dengan tentara Israel.

Media Al Arabiya melaporkan, Zamir juga berjanji untuk menghentikan kekerasan oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat. ”Kami menyadari insiden kekerasan baru-baru ini ketika warga sipil Israel menyerang warga Palestina dan warga Israel. Saya mengecam mereka,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan militer.

”Militer tidak akan menoleransi perilaku kriminal oleh minoritas kecil yang menodai masyarakat yang taat hukum.”

Zamir menegaskan, militer berkomitmen menghentikan kekerasan yang dilakukan para pemukim. ”Tindakan-tindakan ini bertentangan dengan nilai-nilai kami, melewati batas, dan mengalihkan perhatian pasukan kami dari misi mereka,” ia memperingatkan.

Kepala Komando Pusat IDF Mayor Jenderal Avi Bluth mengatakan, kekerasan dilakukan kelompok pemuda anarkistis pinggiran. ”Realitas di mana pemuda pinggiran anarkistis bertindak keras terhadap orang-orang tak berdosa dan terhadap pasukan keamanan adalah situasi yang tidak dapat ditoleransi dan sangat serius yang harus ditangani dengan tegas,” ujar Bluth, yang memimpin pasukan di Tepi Barat.

Menurut dia, untuk menindak mereka, militer Israel perlu mengerahkan tentara yang dapat difokuskan untuk memperkuat keamanan dan melaksanakan operasi kontraterorisme.

IDF chief of staff Eyal Zamir, 2nd right, sits with Simha Goldin and Leah Goldin, the parents and siblings Hemi Goldin, Tzur Goldin and Ayelet Goldin, left, of Hadar Goldin an Israeli soldier killed in Gaza in 2014 and whose body had been held there until it was released Sunday, attend his funeral in Kfar Saba, Israel, Tuesday, Nov. 11, 2025. (Abir Sultan/Pool via AP)

Serangan dan bentrokan

Militer Israel mengatakan, pada Selasa, militer mendapat laporan bahwa para pemukim menyerang desa-desa di Tepi Barat. Tentara Israel dikerahkan untuk menanggulangi aksi para pemukim itu.

Upaya itu menimbulkan bentrokan antara para pemukim dan tentara Israel di dekat kota Tulkarem, Tepi Barat. Mereka kemudian melarikan diri ke kawasan industri terdekat.

The Times of Israel memberitakan, rekaman tambahan dari lokasi kejadian yang dipublikasikan oleh media Palestina pada Rabu menunjukkan puluhan pemukim, beberapa di antaranya bertopeng dan membawa pentungan, membakar truk dan kendaraan di daerah tersebut.

Dalam insiden itu, 10 kendaraan dibakar, beserta sebuah gudang dan sebuah pabrik plastik. Empat warga Palestina terluka akibat pemukulan dan lemparan batu oleh para pemukim. Para pemukim juga merusak sebuah kendaraan militer.

IDF menangkap empat warga Israel lalu menyerahkannya kepada kepolisian, yang memiliki yurisdiksi atas warga negara Israel di Tepi Barat, bersama dengan badan intelijen Shin Bet. Sementara militer mengatakan, empat warga Palestina terluka dan telah dievakuasi untuk mendapat perawatan medis.

Namun, sehari kemudian polisi membebaskan tiga tersangka. Langkah ini memunculkan kecaman. Sementara seorang anak di bawah umur yang ditangkap atas dugaan pembakaran dan penyerangan akan tetap ditahan selama enam hari lagi sesuai perintah hakim. Untuk ketiga orang yang dibebaskan, polisi mengatakan akan menyelidiki dan membawa mereka ke pengadilan, terlepas dari latar belakang mereka.

Warga Palestina di Tepi Barat marah dengan penyerangan itu. Di Beit Lid, warga mengatakan, mereka tidak ingin hidup mereka dikuasai oleh rasa takut akan kekerasan pemukim.

Mahmud Edeis, salah satu warga, menuturkan, kekerasan menggerogoti hak keluarganya untuk hidup aman. ”Merasa anak-anak saya aman, bahwa ketika saya tidur saya bisa berkata, ’Oke, tidak ada (yang perlu dikhawatirkan).’ Tapi kapan saja sesuatu bisa terjadi. Ini tidak bisa terus berlanjut. Kita tidak bisa terus menjalani hidup dalam ketakutan dan bahaya,” ujarnya.

A man inspects a vehicle that was reportedly torched by Israeli settlers during an overnight attack on the Palestinian Christian village of Taybeh, northeast of Ramallah in the occupied West Bank, on July 28, 2025. (Photo by Zain JAAFAR / AFP)

Kekerasan melonjak

Kekerasan pada Selasa di Tepi Barat adalah yang terbaru dari serangkaian serangan oleh pemukim muda Israel. Serangan kepada warga Palestina di Tepi Barat melonjak sejak perang di Gaza meletus dua tahun lalu.

Serangan-serangan tersebut semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir seiring warga Palestina memanen pohon zaitun dalam ritual tahunan.

Kantor kemanusiaan PBB pekan lalu melaporkan, serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat pada Oktober lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya sejak mulai tercatat pada 2006. ”Terdapat lebih dari 260 serangan,” kata kantor tersebut.

Warga Palestina dan aktivis hak asasi manusia menuduh tentara dan polisi Israel gagal menghentikan serangan para pemukim. Pemerintah Israel didominasi oleh pendukung sayap kanan gerakan pemukim, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang merumuskan kebijakan permukiman dan Menteri Kabinet Itamar Ben-Gvir yang mengawasi kepolisian negara.

Israel telah menduduki Tepi Barat sejak 1967. Lebih dari 500.000 warga Israel tinggal di permukiman-permukiman di wilayah Palestina. Menurut hukum internasional, semua permukiman Israel di Tepi Barat ilegal.

Sebagian kecil dari warga Israel di sana terlibat kekerasan terhadap warga Palestina. Warga Palestina sering kali mengeluh bahwa pasukan Israel biasanya tidak menangkap para pemukim dan meminta pertanggungjawaban mereka.

Namun, dengan kejadian pada Selasa, Zamir kembali mengatakan, pasukan beroperasi untuk mencegah ancaman dan bahaya bagi penduduk di wilayah tersebut. ”Kami beroperasi berdasarkan prinsip yang jelas: terorisme hanya berhadapan dengan tentara. Kami adalah penghalang pertahanan antara organisasi teroris dan warga sipil Israel,” tegas Zamir. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan