LAWATAN KENEGARAAN

Presiden Prabowo-Kaisar Naruhito Pererat Relasi Indonesia-Jepang

Situasi global yang tidak menentu mendesak negara-negara bekerja sama. Presiden Prabowo Subianto menjalinnya lewat obrolan hangat bersama Kaisar Naruhito di Jepang.

30 Mar 2026 18:34 WIB · Politik & Hukum

Laily Rachev - BPMI Sekretariat Presiden

Oleh Nino Citra Anugrahanto

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Jepang Naruhito dalam lawatan kenegaraannya ke negeri tersebut. Keduanya berbincang banyak hal, terentang dari isu strategis hingga obrolan ringan dalam jamuan santap siang. Jalinan diplomasi yang terajut antara dua pemimpin negara itu dinilai penting guna menghadapi situasi geopolitik global yang tak menentu.

Kaisar Naruhito menyambut langsung kedatangan Presiden Prabowo saat turun dari mobilnya di kompleks istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Senin (30/3/2026). Mereka lalu berjalan bersama menuju Ruang Take-no-ma untuk mengadakan pertemuan empat mata. Sebelumnya, sesi foto bersama diadakan terlebih dahulu.

Keterangan tertulis dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden menyebutkan, pertemuan tertutup antara Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito berlangsung selama 20 menit. Isu-isu strategis yang menjadi kepentingan bersama kedua negara menjadi bahasan utama.

Di sela pertemuan, sesekali mereka saling bertukar cerita ringan. Setelah berjumpa Kaisar Naruhito, Presiden Prabowo berlanjut menemui putra mahkota Jepang, yang juga adik dari Kaisar Naruhito, yakni Fumihito.

Kaisar Naruhito dan Putra Mahkota Fumihito kemudian menjamu Presiden Prabowo dalam santap siang kenegaraan di Rensui North, Imperial Palace. Langkah Presiden Prabowo menuju ruangan itu dibimbing Kaisar Naruhito.

Keduanya lalu duduk bersebelahan. Mereka diapit oleh putra Presiden Prabowo, Ragowo Hediprasetyo atau Didit Hediprasetyo, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Didit duduk di sebelah Kaisar Naruhito, sedangkan Teddy di sebelah Presiden Prabowo.

Quote

Kami sangat terbuka terhadap partisipasi aktif Jepang, teknologi Jepang, pengalaman Jepang, metode Jepang. Kami percaya bahwa dikombinasikan dengan sumber daya kami, pertumbuhan kami, dan skala kami, hubungan ini dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Presiden Prabowo Subianto berbincang empat mata bersama Kaisar Jepang Naruhito, di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026). Perbincangan hangat mengiringi keduanya menyoal isu ringan sampai topik strategis.

Lokasi duduk Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito menghadap taman hijau rindang yang dibatasi kaca transparan. Keduanya lantas menyantap hidangan sambil kembali bercakap-cakap ringan. Sesekali, Presiden Prabowo terlihat melempar senyuman kepada Kaisar Naruhito saat berbincang untuk mengungkapkan kekagumannya atas keindahan taman.

Turut serta dalam kunjungan kenegaraan itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Luar Negeri Sugiono. Keduanya juga ikut mendampingi Presiden sewaktu santap siang kenegaraan. Mereka duduk di hadapan Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito.

”Kita ketahui bersama bahwa Jepang merupakan mitra yang sangat strategis bagi Indonesia. Salah satu investor terbesar di Indonesia dan dalam sejarahnya juga merupakan partner yang sangat penting bagi Indonesia. Pembicaraan di antara keduanya meliputi hal-hal yang bersifat common interest,” papar Sugiono, seusai pertemuan itu.

Kendati demikian, sebut Sugiono, isi perbincangan antara Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito bukan menyoal isu-isu politis. Ia menyatakan, tujuan pertemuan lebih menekankan upaya mempererat hubungan bilateral dan hubungan ”people to people”. Untuk itu, perbincangan yang terjadi lebih mengalir dan memuat topik-topik ringan. 

”Kemudian, jika ada sesuatu yang sifanya perlu menjadi concern, pihak mereka meminta kita untuk menyampaikannya sehingga tercapai suatu kerja sama yang benar-benar erat antara masyarakat kedua negara,” kata Sugiono.

Presiden Prabowo Subianto berjalan bersama Kaisar Jepang Naruhito untuk mengikuti jamuan santap siang kenegaraan di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026). Sebelumnya, kedua sosok itu berbincang hangat menyoal isu ringan sampai topik strategis.

Dihubungi secara terpisah, R Maisa Yudono, dosen dari Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia menyatakan, pertemuan antara Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito menyimbolkan kedekatan antara Indonesia dan Jepang yang telah berjalan lebih dari 50 tahun. Interaksi langsung kedua pemimpin sekaligus mencerminkan keseriusan setiap negara terhadap posisi strategis kedua negara di kawasan.

”Walaupun Kaisar merupakan kepala negara, penggunaan simbol-simbol ini memperkuat pesan tadi. Dan, dalam kebutuhannya, simbol-simbol ini memang perlu ditunjukkan ke publik,” kata Maisa, lewat pesan singkatnya.

Maisa menilai, pertemuan terjadi guna mempererat hubungan diplomatik yang terdorong situasi geopolitik global yang tak menentu. Menurut dia, kebuntuan geopolitik kerap kali bisa diselesaikan dengan diplomasi bilateral. Lebih-lebih jika suasana pertemuan berlangsung cair dan hangat. Alhasil, kehangatan itu pula yang ditampilkan dalam perjumpaan antara Prabowo dan Naruhito. 

”Itu simbol yang ingin ditunjukkan (keeratan hubungan antara Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito). Apakah sesuai atau tidak (langkah Presiden), ini akan terlihat saat hasil pertemuan pada level kepala pemerintahan,” kata Maisa. 

Presiden Prabowo Subianto dan Kaisar Naruhito berbincang di sela-sela santap siang kenegaraan di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026). Kedua sosok itu duduk diapit oleh putra Presiden Prabowo Ragowo Hediprasetyo, atau Didit Hediprasetyo, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Menurut Maisa, kunjungan Prabowo kali ini menekankan pada upaya Indonesia guna memperdalam kerja sama strategis pada bidang ekonomi dan keamanan regional. Dalam bidang ekonomi, Indonesia mempunyai kepentingan agar Jepang meningkatkan posisinya sebagai mitra investasi utama di Indonesia, khususnya dalam bidang infrastruktur, teknologi, dan peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Mitigasi

Bidang keamanan regional, lanjut Maisa, tak kalah pentingnya diperbincangkan. Dalam konteks itu, jelas dia, Indonesia dan Jepang sama-sama berkepentingan untuk menyusun mitigasi atas implikasi konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Indo-Pasifik. Aspek lain yang juga mendesak dimitigasi, yakni potensi persaingan antara AS dan China.

”Karena, next arena adalah Indo-Pasifik. Indonesia dan Jepang harus memainkan peran di regional tersebut agar kohesi ekonomi yang telah berjalan tidak terganggu dan berpotensi pada ekonomi negara-negara di kawasan,” kata Maisa.

Di sisi lain, sebut Maisa, lawatan kenegaraan ke Jepang terbilang cukup strategis bagi Indonesia. Hal ini dipengaruhi posisi Indonesia yang memiliki status keanggotaan dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Kondisi itu semestinya mendorong Indonesia memanfaatkan semua hubungan diplomatik dengan negara-negara yang cukup signifikan untuk menyuarakan posisi dan pendapat Indonesia soal kondisi geopolitik terkini.

Presiden Prabowo Subianto dan Kaisar Jepang Naruhito berjabat tangan saat bertemu di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026). Dalam pertemuan itu, keduanya saling berbincang hangat mengenai isu-isu ringan sampai strategis menyoal kondisi geopolitik terkini.

Forum bisnis Indonesia-Jepang

Selain menemui Kaisar Naruhito, Presiden juga menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang, di Imperial Hotel Tokyo, Jepang. Kehadirannya bertujuan memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang dalam bidang ekonomi, investasi, dan pembangunan industri masa depan. Terlebih relasi bisnis kedua negara telah terjalin panjang dan memberikan dampak signifikan bagi perjalanan pembangunan nasional.

”Jepang secara konsisten mendukung pembangunan ekonomi Indonesia. Banyak di antara Anda di ruangan ini telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Anda telah lama berada di Indonesia. Anda mengenal Indonesia dengan baik masyarakatnya, pasarnya, budayanya, dan potensinya,” kata Prabowo, dalam pidatonya.

Prabowo menilai, kedatangannya bukan sekadar untuk melanjutkan kemitraan yang telah terjalin. Ia ingin mendorong kerja sama ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat. Dalam kondisi dunia yang semakin terhubung, ia meyakini, kemitraan ekonomi akan mendorong terciptanya perdamaian dan persahabatan yang berkelanjutan. 

Untuk itu, Presiden menyatakan, keterbukaan Indonesia terhadap kolaborasi internasional, terutama Jepang. Ia menganggap ”Negeri Sakura” itu memiliki keunggulan dalam bidang teknologi, metode, serta pengalaman industri. Sederet aspek itu akan mampu diakselerasi jika Jepang menanam investasi di Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya manusia.

”Itulah mengapa kami sangat terbuka terhadap partisipasi aktif Jepang, teknologi Jepang, pengalaman Jepang, metode Jepang. Kami percaya bahwa dikombinasikan dengan sumber daya kami, pertumbuhan kami, dan skala kami, hubungan ini dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak,” kata Prabowo.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul