Saat dahaga emas sudah terbasuh, target lebih tinggi menanti tim sepak bola Indonesia U-22. Mempertahankan emas adalah jalan ”Garuda Muda” meraih status legenda.
07 Des 2025 07:01 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Mempertahankan sesuatu senantiasa lebih sulit dibandingkan meraihnya. Nasihat lama itu sangat cocok menggambarkan situasi yang dialami tim sepak bola Indonesia U-22. Merebut emas SEA Games memang prestasi yang membanggakan. Namun, dalam konteks saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai raksasa sepak bola Asia Tenggara jika mampu mempertahankan emas yang diraih dua tahun silam.
Dalam sejarah perhelatan SEA Games, sudah ada beberapa negara yang berhasil mempertahankan raihan emasnya (back to back champions). Negara-negara itu antara lain Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Myanmar. Capaian seperti itu belum sempat dilakukan Indonesia yang sudah tiga kali menjuarai SEA Games pada edisi 1987, 1991, dan 2023. Maka dari itu, SEA Games Thailand 2025 pantang dilewatkan ”Garuda Muda” demi mengukir sejarah baru.
Hanya saja, upaya mempertahankan emas itu bakal menemui jalan terjal. Tuan rumah Thailand berambisi menebus kegagalan pada laga final edisi lalu saat bertemu Indonesia. Selain itu, Thailand tergoda kembali merasakan manisnya juara. Tim ”Gajah Perang” terakhir kali meraih emas SEA Games pada edisi 2017 atau tujuh tahun silam.
”Tujuan kami jelas adalah juara. Thailand sudah terlalu lama absen dari (meraih) medali emas SEA Games. Kali ini, sebagai tuan rumah, kami telah mempersiapkan diri dengan matang selama berbulan-bulan,” ujar Pelatih Thailand U-22 Thawatchai Damrong-Ongtrakul.
Untuk mewujudkan ambisi itu, Wang, sapaan akrab Ongtrakul, telah menggelar dua agenda uji coba jelang SEA Games. Pada kesempatan pertama, Thailand menjajal kekuatan China yang berakhir imbang 0-0. Kemudian, Thailand mengalahkan India, 4-0, pada laga uji coba kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/289b8733889f5ddabea89771081a40d1-20251206_H14_KID_Sepakbola_mumed.jpg)
Kemenangan Thailand atas India patut menjadi sinyal waspada bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia juga sempat melawan India sebanyak dua kali. Namun, anak asuh Indra Sjafri hanya mampu bermain imbang dan sekali kalah. Mencoloknya kemenangan Thailand atas India cukup bisa menggambarkan betapa solid permainan anak asuh Wang.
Wang turut membentuk tim dengan kombinasi pemain muda dan berpengalaman. Salah satu nama yang dipertahankan Thailand dari edisi sebelumnya ialah Yotsakorn Burapha. Penyerang klub Liga Singapura, Hougang United, itu sudah menunjukkan ketajamannya dengan mencetak trigol (hattrick) pada laga pembuka kontra Timor Leste.
Yotsakorn juga menjadi mimpi buruk bagi Indonesia di laga final edisi sebelumnya. Ia mencetak gol penyeimbang yang memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Terlepas dari itu, kemenangan tegas 6-1 Thailand atas Timor Leste menyiratkan mereka akan menjadi batu rintangan Indonesia dalam mencetak sejarah baru.
Kami tekankan ini tim baru. Ini semangat dan kesempatan baru. Jadi tidak akan menjadi beban bagi kami.
Di sisi lain, status juara bertahan tidak serta-merta menguntungkan Indonesia. Dalam turnamen mana pun, para kontestan lain akan sangat termotivasi mengalahkan juara bertahan. Selain itu, lawan-lawan Indonesia sudah dipastikan memasang kewaspadaan tinggi sehingga besar kemungkinan akan berupaya bermain sangat rapi serta minim kesalahan.
Situasi itu menuntut Garuda Muda bermain melampaui batas kreativitas. Sayangnya, dalam dua kali laga uji coba melawan India dan Mali, kreativitas yang melampaui batas itu belum terlihat. Alih-alih berkreasi, para pemain Indonesia justru tertekan dengan permainan switch play cepat dari India. Dua gol Indonesia dalam dua laga melawan India tercipta berkat kecemerlangan kualitas individu Donny Tri Pamungkas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/18/360782fe9bafdedab39f2614d6d65192-FAK_1811.jpg)
Meski berstatus juara bertahan, Indra mengatakan, timnya tidak merasa terbebani. Sebab, sebagian besar para pemain yang ia bawa pada edisi kali ini baru pertama kali berlaga di SEA Games. Hanya ada dua pemain yang merasakan gelar juara di Kamboja, yaitu Ananda Raehan dan Muhammad Ferrari.
Alih-alih terbebani, Indra menyebut para pemainnya justru lebih termotivasi untuk meraih kesuksesan serupa di Thailand.
”Tentu suatu kebanggaan (sebagai juara bertahan) bagi kita di Asia Tenggara. Bahwa sepak bola kita lebih baik dari yang sebelumnya. Bagi kami (status juara bertahan) tentu akan menambah kepercayaan diri bahwa tim kita juga berkembang. Kami tekankan ini tim baru. Ini semangat dan kesempatan baru. Jadi tidak akan menjadi beban bagi kami,” ujar Indra dalam sesi konferensi pers jelang laga, Kamis (4/12/2025), di Chiang Mai, Thailand.
Ketika meraih emas, Indra mengandalkan talenta-talenta lokal hasil pembinaan sepak bola dalam negeri. Indra pun menyadari mempertahankan emas jauh lebih sulit. Oleh karena itu, Indra memperkuat tim dengan mengombinasikan bakat sepak bola dari dalam dan luar negeri.
Dalam daftar 23 pemain definitif, ada pula tiga pemain yang berkompetisi di Liga Belanda. Ketiganya tersebar di lini belakang, tengah, dan depan. Mereka antara lain bek Dion Markx dari TOP Oss yang berkompetisi di Divisi Dua Belanda, gelandang Ivar Jenner (FC Utrecht), dan penyerang Mauro Zijlstra (FC Volendam). Hanya saja Indonesia kehilangan Marselino Ferdinan yang tidak dilepas klubnya, AS Trencin, lantaran masih cedera.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/16/6024c8db-3e7b-4536-a535-444b0a0a907e_jpg.jpg)
Terlepas dari absennya Marselino, Indra terbilang memimpin tim yang cukup mewah. Kemewahan seperti itu tidak dimiliki tim-tim lainnya. Malaysia yang tergabung di Grup B bersama Vietnam dan Laos bahkan harus kehilangan tujuh pemain akibat tidak dilepas oleh klubnya.
Kehilangan tujuh pemain mereduksi kekuatan Malaysia yang membutuhkan hasil positif pada laga perdana kontra Laos. Dalam ajang yang tidak diakui FIFA seperti SEA Games, klub berhak menolak melepas pemainnya.
”Dari segi persiapan, kami tetap berlatih meskipun kekurangan pemain. Mungkin ada beberapa yang akan bergabung setelah menyelesaikan pertandingan bersama negara bagian atau klub. Setelah itu, kami harapkan mereka bisa bergabung ke tim,” kata Pelatih Malaysia Nafuzi Zain dikutip dari Bernama.
Perjuangan Indonesia mempertahankan emas dimulai dengan menghadapi Filipina pada laga pertama. Tim arahan Pelatih Garrath McPherson sudah jauh lebih berkembang dibandingkan saat tampil pada Piala AFF U-22, Juli 2025. Filipina menebar teror seiring kemenangan meyakinkan 2-0 atas Myanmar pada laga pembuka Grup C.
Sandro Reyes jadi sosok pemain yang perlu mendapat perhatian khusus dari Indonesia. Gelandang klub FC Gutersloh di Divisi Empat Liga Jerman itu kuat dalam menjaga lini tengah. ”Kami memasuki SEA Games dengan semangat yang besar. Kami siap membuat kejutan, mengalahkan tim-tim kuat seperti Myanmar atau Indonesia untuk melaju jauh di turnamen ini,” kata McPherson.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/f3aa621f87f48ea62a09038c57ef40ee-FAK_9493.jpg)
Ucapan McPherson terasa seperti tantangan terbuka bagi Indonesia. Sudah sepantasnya Indonesia menjawabnya dengan tampil lebih kolektif daripada saat menghadapi India dan Mali.
Pertandingan pertama adakalanya menentukan pencapaian tim, terlebih untuk turnamen pendek seperti SEA Games. Dari cara bermain merespons Filipina akan tergambar apakah Indonesia sudah siap mengukir sejarah baru atau belum.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan