PANDUAN UTBK-SNBT 2026

Prodi Pertanian dan K3 Makin Diminati, Ini Peta Persaingannya

Mengapa minat terhadap prodi pertanian, pangan, dan K3 meningkat? Bagaimana persaingan masuk prodi-prodi tersebut di PTN?

27 Mar 2026 12:05 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Oleh Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki, Insan Alfajri

Pada saat banyak orang mengira pertanian makin ditinggalkan, data global justru menunjukkan sebaliknya. Laporan ”Future of Jobs 2025” dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) menempatkan pekerja pertanian sebagai salah satu pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat, dengan proyeksi tambahan sekitar 35 juta pekerjaan hingga 2030.

Pada saat yang sama, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat, sektor ini justru kekurangan tenaga muda karena sebagian besar petani sudah berusia di atas 55 tahun.

Kombinasi kebutuhan pangan yang terus naik dan krisis regenerasi ini membuat pertanian berubah dari sektor ”pinggiran” menjadi salah satu ladang peluang terbesar di masa depan.

Ketertarikan calon mahasiswa terhadap program studi (prodi) rumpun pertanian dan teknologi pangan serta ilmu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam Ujian Tertulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) menunjukkan dinamika yang menarik selama lima tahun terakhir.

Berbeda dengan persepsi umum bahwa rumpun ini kurang diminati, data justru menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa program studi terutama sejak 2024.

Prodi agribisnis dan agroteknologi tetap menjadi tulang punggung rumpun ini dari sisi jumlah peminat. Agribisnis mencatat 22.911 peminat pada 2021, sempat menurun hingga 18.899 pada 2024, sebelum melonjak kembali menjadi 24.359 pada 2025.

Pola serupa terlihat pada agroteknologi yang turun dari 21.760 peminat pada 2021 menjadi 15.310 pada 2024, lalu kembali naik signifikan ke 21.843 pada 2025.

Quote

Lonjakan paling mencolok terjadi pada program studi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Di sisi lain, lonjakan paling mencolok terjadi pada prodi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dari hanya 554 peminat pada 2021, jumlahnya meningkat hampir 10 kali lipat menjadi 5.599 pada 2025.

Kenaikan tajam ini terutama terjadi setelah 2023, ketika peminat mulai melonjak dari 1.187 menjadi 4.641 pada 2024. Tren ini bisa jadi menunjukkan meningkatnya kesadaran terhadap bidang kesehatan kerja dan prospek industri yang semakin relevan.

Teknologi pangan juga menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten. Setelah sempat berfluktuasi pada awal periode, jumlah peminat meningkat dari 9.861 pada 2021 menjadi 16.020 pada 2025.

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengecek aplikasi untuk merawat tanaman secara otomatis dengan sistem internet of things di Green House Saung Aset, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (5/11/2025). Green House dengan luas sekitar 100 meter ini mengaplikasikan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) sehingga pengawasan dan perawatan tanaman dapat dilakukan secara otomatis melalui ponsel pintar. Sistem ini dapat mendukung pengelolaan pertanian berkelanjutan di Jakarta.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
05-11-2025

Daya tampung meningkat

Di sisi lain, daya tampung semua program studi tersebut juga mengalami peningkatan setiap tahun. Agribisnis, misalnya, meningkat dari 3.608 kursi pada 2021 menjadi 4.340 pada 2025. Agroteknologi juga naik dari 5.139 menjadi 5.504 kursi dalam periode yang sama.

Kenaikan paling signifikan terlihat pada program K3, yang daya tampungnya melonjak dari hanya 35 kursi pada 2021 menjadi 218 kursi pada 2025.

Teknologi pangan juga mengalami peningkatan dari 1.007 menjadi 1.523 kursi. Hal ini menunjukkan respons perguruan tinggi terhadap meningkatnya permintaan di bidang-bidang tersebut.

Meski daya tampung terus bertambah, kesenjangan antara jumlah peminat dan kursi yang tersedia tetap menunjukkan adanya kompetisi yang cukup ketat, terutama pada agribisnis dan agroteknologi yang masih diminati puluhan ribu calon mahasiswa.

Sementara itu, program seperti K3 dan teknologi pangan berada dalam fase pertumbuhan, ketika peningkatan minat dan kapasitas berjalan beriringan, membuka peluang, sekaligus meningkatkan persaingan di tahun-tahun mendatang.

Agribisnis

Pada prodi agribisnis dan turunannya, persaingan UTBK-SNBT 2026 menunjukkan pola dengan konsentrasi ketat di kampus-kampus tertentu.

Institut Pertanian Bogor (IPB) menempati posisi teratas melalui program Smart Agriculture dengan rasio sekitar 1:44, diikuti Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (1:30) serta Agribisnis (1:27). Di luar IPB, program Ekonomi Pertanian dan Agribisnis di Universitas Gadjah Mada (UGM) juga berada di kelompok atas dengan rasio 1:23.

Lapisan menengah berada pada kisaran 1:14 hingga 1:19, mencakup Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Riau, Universitas Padjadjaran (Unpad), hingga Universitas Sumatera Utara.

Sementara itu, sebagian besar program agribisnis di sejumlah daerah, seperti Universitas Tanjungpura dan Universitas Andalas, berada di rentang 1:6 hingga 1:10, menawarkan peluang yang lebih realistis.

Di sisi lain, sejumlah kampus, seperti Universitas Haluoleo dan Universitas Tadulako, mencatat rasio 1:1 hingga 1:3, menandakan persaingan jauh lebih terbuka. Hal ini menunjukkan distribusi peminat dalam rumpun agribisnis masih terkonsentrasi pada beberapa program studi unggulan di kampus tertentu.

Agroteknologi

Dorongan global terhadap modernisasi pertanian juga mulai tecermin di tingkat pendidikan.

Kajian bersama dari OECD dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bertajuk ”Agricultural Outlook 2021-2030” mencatat, hampir seluruh pertumbuhan produksi tanaman ke depan akan bergantung pada peningkatan produktivitas berbasis teknologi, bukan dari ekspansi lahan saja.

Dengan kata lain, sektor ini membutuhkan lebih banyak tenaga terampil di bidang agronomi, pengelolaan tanah, hingga teknologi budidaya. Tren ini sejalan dengan meningkatnya minat pada prodi agroteknologi dalam UTBK-SNBT, yang kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan alternatif, tetapi bagian dari kebutuhan strategis di masa depan.

Pada prodi agroteknologi dan turunannya, persaingan UTBK-SNBT 2026 cenderung lebih moderat dibandingkan agribisnis, tetapi tetap kompetitif di kampus unggulan.

UGM memimpin melalui Ilmu Tanah dengan rasio sekitar 1:16, diikuti Agroteknologi/Agroekoteknologi Universitas Sebelas Maret atau UNS (1:15) serta Agronomi UGM (1:14). Kelompok ini menunjukkan persaingan relatif ketat meski tidak setinggi rumpun Ekonomi-Bisnis ataupun Kedokteran.

Lapisan menengah berada pada kisaran 1:10 hingga 1:12, mencakup IPB, Undip, Unpad, hingga Universitas Riau. Sementara itu, sebagian besar program di sejumlah daerah berada pada rentang 1:4 hingga 1:7, menawarkan peluang masuk yang lebih besar.

Di sisi lain, banyak program mencatat rasio 1:1 hingga 1:3, terutama di kawasan luar Jawa, menandakan persaingan yang jauh lebih terbuka.

Teknologi pangan

Pada prodi teknologi pangan dan turunannya, persaingan UTBK-SNBT 2026 berada pada level menengah hingga tinggi, terutama di kampus unggulan.

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan IPB memimpin dengan rasio sekitar 1:43 dan 1:40, diikuti UGM (1:31) dan UNS (1:29). Artinya, satu kursi diperebutkan 30–40 pendaftar.

Lapisan menengah berada pada kisaran 1:15 hingga 1:26, mencakup Unpad, Undip, Universitas Brawijaya, hingga ITS. Sementara itu, kelompok yang lebih longgar berada di rentang 1:6 hingga 1:11, seperti Universitas Jenderal Soedirman, UPN Veteran Jawa Timur, dan Universitas Tidar.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Pada program studi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan turunannya, persaingan UTBK-SNBT 2026 menjadi yang paling ekstrem di rumpun ini.

UNS mencatat rasio tertinggi sekitar 1:139, disusul Universitas Airlangga (1:80) dan Undip (1:63). Artinya, satu kursi dapat diperebutkan lebih dari 100 pendaftar, dengan peluang diterima di bawah 1 persen.

Kelompok berikutnya masih sangat kompetitif, seperti Universitas Indonesia (1:48) dan Universitas Negeri Jakarta pada program Rekayasa Keselamatan Kebakaran (1:30). Sementara itu, jalur vokasi seperti Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya dan ITS berada di kisaran 1:24 hingga 1:26.

Di luar itu, sebagian program di daerah berada pada rentang 1:7 hingga 1:14, bahkan ada yang mendekati 1:3 hingga 1:4. Pola ini menunjukkan bahwa meski K3 sedang naik daun, distribusi peminat masih sangat terkonsentrasi pada segelintir kampus unggulan.

Untuk melihat lebih rinci bagaimana peta persaingan tiap program studi dan kampus ini terbentuk, termasuk tingkat rasio kursi dan peluang diterima, pembaca dapat menelusurinya secara interaktif melalui eksplorasi data berikut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki, Insan Alfajri
 | 

Editor:

Sri Rejeki
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul