25 Okt 2018 04:17 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2018/09/20180914BAH12.jpg)
JAKARTA, KOMPAS — Pengembangan program studi di perguruan tinggi, baik bidang vokasi maupun akademik, untuk menjawab tantangan perubahan dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 mulai dipetakan secara serius. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mememetakan lebih dari 100 program studi yang sangat dibutuhkan untuk menyiapkan profesionalisme yang dapat mengisi peluang kerja dan usaha yang sesuai industri 4.0. Namun, belum semua program studi relevan dilirik perguruan tinggi.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Intan Ahmad, di Jakarta, Rabu (24/10/2018), mengatakan perguruan tinggi di Indonesia harus menyiapkan diri untuk mengikuti tantangan baru dengan hadirnya revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kuatnya peranan teknologi digital dalam segala aspek, termasuk kecerdasan buatan dan big data.
"Dari pemetaan, ada yang nama prodi berubah, tetapi ada juga yang namanya tetap. Tetapi yang penting secara substansi kurikulum sudah menyesuaikan dengan kebutuhan revolusi industri 4.0," ujar Intan.
Dari pemetaan program studi yang sangat dibutuhkan Indonesia di era revolusi industri 4.0, ada yang sudah ada di perguruan tinggi, baik dari jenjang diploma satu, dua, tiga sarjana terapan, sarjana, spesialis, magister, maupun doktor. Namun, ada juga program studi yang belum ada.
Program studi relevan yang belum ada, misalnya ekonomi perkopian dan sains perkopian. Padahal Indonesia punya produksi kopi yang potensial. Namun, tentang kopi yang potensial ini di program studi teknologi pertanian di Fakultas Pertanian, Universitas Udayana di Bali diajarkan sebagai mata kuliah teknologi kopi. Materinya mencakup dekafeinasi kopi, kopi bubuk, dan kopi instan.
"Program studi yang ada, yang tetap relevan, seharusnya dimutakhirkan dengan kebutuhan terbaru. Tantangannya ya dosen dan pihak perguruan tinggi mengembangkan kurikulum yang relevan supaya tetap bisa menjawab kebutuhan berkembangnya industri baru," kata Intan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2018/10/IMG_20180603_210921.jpg)
Ada juga prodi penting seperti sistem informasi kota cerdas, sains data, forensik digital dan keamanan siber, mitigasi bencana, bisnis maritim, dan ketahanan maritim, belum ada di perguruan tinggi. Namun, ada pula perguruan tinggi yang membuka prodi baru yang relevan seperti manajemen inovasi di jenjang S2 Universitas Teknologi Sumbawa, rekayasa energi terbarukan, hingga rekayasa transportasi laut untuk jenjang S1 di Institut Teknologi Sepuluh November.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, mengatakan sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menantang perguruan tinggi untuk melakukan lompatan, salah satunya membuka program studi baru yang relevan, sebenarnya sudah diakomodadi Kemristek dan Dikti. Aturan pembukaan program studi dibaharui, tidak lagi mesti sama persis dengan nomenklatur yang ada.
"Yang penting masih masuk dalam rumpun ilmu. Jika memang perguruan tinggi melihat ada prodi baru yang perlu dibuka dan industri bisa menyerap lulusan, tentu kami dukung. Pola lama dalam pembukaan prodi sudah dibaharui. Hal ini yang perlu dipahami perguruan tinggu agar bisa jadi acuan untuk kreatif dalam pengembangan iptek di kampus," ujar Nasir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2018/04/PP-Iptek1.jpeg)
Intan mengatakan perguruan tinggi juga diminta untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi baru yang dibutuhkan di era digital. Penguasaan teknologi digital seperti coding dan big data jadi penting. Selain itu, literasi human juga tetap penting.
"Pembelajaran harus jadi saat untuk membangun kompetwnsi 4C yang jadi kecakapan penting di abad 21 yakni berpikir kritia tau critical thingking, kreatif atau creativity, kerja sama atqu collaboration, serta berkomunikasi atau communication," ujar Intan.
Kesiapan pendidikan vokasi, utamanya politeknik, juga penting untuk membawa Indonwsia siap menghadapi revolusi industri 4.0. Salah satunya politeknik mengembangkan kurikulum vokasi yang berorientasi kepada pemenuhan standar internasional. Harapannya, cara ini bisa menjamin mutu dan sertifikasi sarjana vokasi tanpa perlu bergantung sepenuhnya kepada perkembangan industri di dalam negeri yang mungkin tidak secepat taraf global.
"Penggunaan standar internasional justru membuat politeknik lebih ambisius dan cermat dalam mengembangkan kurikulum," kata Direktur Politeknik Negeri Batam Priyono Eko Sanyoto.
Politeknik Negeri Batam (Polibatam) adalah salah satu penerima dana bantuan dari Bank Pembangunan Asia melalui program Proyek Pengembangan Pendidikan Politeknik (PEDP) di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Eko mengatakan, salah satu program studi Polibatam yang dibiayai adalah Teknik Perawatan Pesawat Udara. Prodi ini dibuka pada tahun 2016 sejalan dengan keinginan pemerintah menjadikan Batam sebagai pusat perawatan pesawat di Indonesia bagian barat.
"Pengembangan kurikulum selain untuk mendapat ijazah diploma juga mendapat lisensi dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan," kata Eko.
Penulis:
Ester Lince Napitupulu / Laraswati Ariadne AnwarEditor: