Pemerintah harus merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus yang tepat sasaran agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak.
14 Mei 2025 20:31 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS – Permata Bank melalui kajian Permata Institute for Economic Research (PIER) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 akan melambat 4,5 persen-5 persen. Ketidakpastian iklim perdagangan global telah mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan melambat dari 5,03 persen pada 2024 menjadi 4,5 persen hingga 5 persen pada 2025. Angka itu lebih rendah dari proyeksi awal tahun ini yang sebesar 5,11 persen.
”PIER memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 akan melambat, lebih rendah dari target sebelumnya. Ketidakpastian perang dagang yang meningkat telah mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi,” kata Josua, Rabu (14/5/2025).
Oleh karena itu, pemerintah harus merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus yang tepat sasaran agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/16/d3914e34-baac-4dd5-9672-4519f67636b7_jpg.jpg)
Perlambatan ekonomi Indonesia sudah terlihat sejak awal tahun 2025. Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan PDB Indonesia pada triwulan I-2025 sebesar 4,87 persen secara tahunan. Lebih rendah dibandingkan 5,02 persen pada triwulan sebelumnya dan menjadi laju paling lambat sejak triwulan III-2021.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor utama ekonomi melambat tipis menjadi 4,89 persen secara tahunan. Hal itu didorong oleh melemahnya daya belanja pada subkomponen makanan dan minuman serta transportasi dan komunikasi.
Tak hanya itu, pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga menurun menjadi 2,12 persen secara tahunan karena melemahnya investasi pada bangunan, struktur, serta mesin dan peralatan.
Di sisi lain, belanja pemerintah mengalami kontraksi 1,38 persen secara tahunan setelah pada tahun sebelumnya terdongkrak oleh aktivitas pemilu. Sementara ekspor barang dan jasa meningkat dengan didukung oleh kinerja ekspor nonmigas yang lebih kuat.
Dari sisi sektoral, sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,52 persen secara tahunan, karena lonjakan produksi tanaman pangan seperti padi dan jagung. Sektor manufaktur, yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional, tumbuh stabil 4,55 persen, didukung oleh kuatnya permintaan ekspor di industri logam dasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/02/1fe3dc1d-cae2-4d51-8910-50c1229b8558_jpeg.jpg)
Sektor perdagangan ritel mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,03 persen berkat momentum musiman Ramadhan, serta sektor jasa juga tetap solid didukung aktivitas pariwisata berkelanjutan.
Adapun sektor pertambangan mengalami kontraksi akibat aktivitas pemeliharaan di tambang emas dan tembaga. Sementara sektor konstruksi melambat signifikan karena terdampak realokasi anggaran pemerintah.
Melihat tren ini, PIER merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI sepanjang 2025 ke bawah 5 persen, lebih rendah dari perkiraan awal yang sebesar 5,11 persen. Ketidakpastian global akibat tensi perang dagang diperkirakan menekan laju investasi dan konsumsi domestik.
”Adanya perang dagang tersebut juga akan memengaruhi pertumbuhan sektoral meskipun dampaknya akan bervariasi,” kata Josua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/99ab4cbd88f5f4a2c46a5e79fcf9165d-IMG_20250228_191310.jpg)
Sektor dengan orientasi ekspor dan memiliki ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat yang relatif tinggi, seperti tekstil dan garmen, kulit dan alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk karet, akan terkena dampak yang cukup signifikan dan dapat menurunkan pertumbuhan sektor itu pada 2025.
Meski demikian, sektor-sektor yang berorientasi pada pasar domestik, seperti jasa dan perdagangan, diyakini masih akan menjadi motor utama pertumbuhan tahun ini.
”Meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan yang tampak lesu dapat membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Jika ketidakpastian global mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat, Bank Indonesia dapat memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga 50 basis poin sepanjang sisa tahun ini,” tutur Josua.
Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi kepada Kompas mengatakan, berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi pada 2025 sebesar 4,78 persen, pihaknya memperkirakan industri manufaktur akan tumbuh sebesar 4,5 persen atau berada di bawah prediksi pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 4,78 persen.
Beberapa submanufaktur, terutama penghasil barang-barang pendukung kegiatan investasi, seperti permesinan, otomotif, dan penghasil bahan bangunan seperti semen, diperkirakan masih terhambat tahun ini akibat ketidakpastian yang cenderung masih tinggi.
”Selain itu, tekanan perang dagang global juga menciptakan ketidakpastian bagi industri-industri berbasis ekspor, yang sebenarnya masih berkinerja relatif baik pada triwulan I-2025,” ucap Adjie.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/07/1bbd1c3b-1fc1-49bc-b6e3-36c45091765d_jpg.jpg)
Menurut dia, PIER melihat industri padat karya, seperti tekstil dan garmen, kulit dan alas kaki, serta furnitur, akan menghadapi ketidakpastian dan tantangan karena penerapan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS).
Selain itu, perang dagang antara China dan AS yang sempat intens pun berpotensi meningkatkan barang-barang China yang mencari pasar baru seperti Indonesia. Tensi itu kini sedikit mereda setelah AS dan China sepakat menangguhkan peningkatan tarif resiprokal antara satu sama lain dan fokus pada penyelesaian negosiasi tarif dagang.
”Persaingan terhadap barang impor di pasar domestik berpotensi semakin meningkat, terlebih barang China terkenal lebih murah di tengah kondisi penurunan daya beli masyarakat saat ini,” lanjutnya.
Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Adhi Lukman mengatakan, industri manufaktur masih memegang peran kunci dalam kontribusi terhadap PDB. Namun, kontribusi manufaktur tidak bisa maksimal karena masih ada hambatan regulasi dan kebijakan yang masih tumpang tindih. Hal ini turut memengaruhi daya saing industri sehingga berdampak pada kontribusinya ke PDB.
Data yang diolah Apindo, ada tantangan industri dari sisi hambatan regulasi. Sekitar 43 persen perusahaan menilai regulasi yang ada belum mendukung kinerja produksi dan penjualan. Hambatan yang juga dikeluhkan ialah biaya berusaha yang tinggi, mulai dari biaya logistik, biaya perizinan, biaya pinjaman, hingga upah tenaga kerja. Berbagai biaya itu relatif tidak kompetitif dibandingkan dengan negara lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/09/e21bbf52-797d-4385-a253-ffc3f67fd8a1_jpg.jpg)
Berdasarkan survei Kementerian Perindustrian, optimisme dunia usaha juga terlihat berkurang. Hal itu terlihat lewat 66,8 persen pelaku usaha yang merasa optimistis untuk enam bulan ke depan. Optimisme itu lebih rendah dibandingkan survei Januari 2025, yaitu 72,5 persen.
”Kita harus mengamankan industri dalam negeri dengan meningkatkan produktivitas. Selain itu, lewat deregulasi aturan yang saling tumpang tindih,” kata Adhi.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, mengatakan, aliran dana pelaku usaha nasional terganggu akibat gangguan sistem Coretax. Coretax adalah sistem administrasi perpajakan digital baru yang diterapkan pemerintah sejak Januari 2025.
Penerbitan faktur pajak yang menjadi bagian penting dari proses tagihan invoice antara penjual dan pembeli pun menjadi terhambat sehingga berdampak pada perlambatan aktivitas ekonomi di triwulan I-2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/31/aa8e06a4-f9f8-423a-978e-8babcc2fbf64_jpg.jpg)
Sebelum Coretax diterapkan, penerbitan faktur pajak melalui sistem e-Faktur bisa mencapai 60 juta faktur per bulan. Namun, sejak Coretax diimplementasikan pada 1 Januari 2025, hanya 30 juta-40 juta faktur yang diterbitkan.
Terganggunya penerbitan faktur membuat proses penagihan atau invoice di level perusahaan menjadi lambat. Hal ini yang membuat arus kas pelaku usaha terdampak pada triwulan I-2025.
”Artinya, setengah tagihan atau invoice tidak bisa dilakukan dengan baik. Cash flow jadi terganggu karena invoice yang seharusnya bisa masuk bulan ini malah tertunda ke bulan depan atau bahkan lebih lama. Ini yang memperlambat laju ekonomi nasional,” tutur Ajib.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul