Produksi AC dalam negeri belum mencukupi kebutuhan pasar domestik. Indonesia bahkan masih impor. Pembangunan pabrik AC dapat menjadi salah satu solusi.
16 Apr 2025 17:26 WIB · Ekonomi
BEKASI, KOMPAS — Produksi perangkat penyejuk ruangan atau AC dalam negeri belum mencukupi kebutuhan pasar domestik sehingga Indonesia masih mengimpornya. Pembangunan pabrik AC berkapasitas besar bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah itu.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, produksi AC nasional mencapai 2,5 juta unit per tahun. ”Ini jauh dari kebutuhan nasional kita sekitar 4,5 juta AC per tahun,” ucap Faisol saat meninjau lokasi pembangunan pabrik AC PT LG Electronics Indonesia di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/4/2025).
Kekurangan produksi ini membuat Indonesia masih mengimpor AC. Nilai impor AC untuk kebutuhan rumah tangga tercatat 420 juta dollar AS tahun 2024 (Rp 7,1 triliun). Meski importasi AC tahun 2024 turun 9 persen dibandingkan tahun 2023, katanya, angka ini masih tergolong tinggi.
Pada 2024, Indonesia mengimpor produk elektronika senilai 25,43 miliar dollar AS (RP 432 triliun) dan mengekspor produk elektronika 9,23 miliar dollar AS (Rp 156 triliun). Produk elektronik yang tinggi nilai importasinya adalah AC.
”Ini mencerminkan besarnya permintaan domestik terhadap produk AC,” ujar Faisol.
Saat ini, katanya, terdapat lebih dari 70 juta rumah tangga di Indonesia. Dari jumlah itu, baru sekitar 7 persen rumah tangga yang menikmati AC. Faisol pun meyakini, angka itu akan terus meningkat seiring peningkatan suhu akibat perubahan iklim dan kenaikan daya beli masyarakat.
Pertumbuhan populasi, urbanisasi, kesadaran akan kebutuhan kualitas udara, hingga efisiensi energi pun telah mendorong penggunaan AC di berbagai kalangan. Program pemerintah, seperti pembangunan 3 juta rumah juga dapat meningkatkan permintaan produk penyejuk ruangan.
”Jadi, pasar AC kita masih akan tumbuh signifikan di tahun-tahun mendatang. Pemerintah berharap, kebutuhan ini dapat dipasok oleh produksi dalam negeri,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut Faisol, kehadiran pabrik AC, seperti milik LG, menjadi angin segar bagi industri ini.
”Selain berpotensi menekan ketergantungan terhadap impor, fasilitas produksi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus merambah pasar ekspor,” ungkapnya. Faisol juga mendorong LG agar memproduksi komponen utama secara lokal, seperti kompresor.
Pembangunan ini membuat LG memiliki tiga tempat fasilitas produksi dengan pabrik baru ini fokus membuat AC.
Pihaknya pun mengingatkan kewajiban penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang akan dimulai Juli tahun ini. Ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 7 Tahun 2025 tentang Pemberlakuan SNI untuk Elektronika Rumah Tangga secara Wajib.
Presiden LG Electronics Indonesia Ha Sang-chul mengatakan, pembangunan pabrik AC seluas 32.000 meter persegi itu bakal memproduksi 1,8 juta unit di tahun pertama. Pada tahap berikutnya, produksinya ditargetkan naik hingga dua kali lipat atau sekitar 3,6 juta unit setahun.
Pada Rabu siang, pembangunan pabrik di daerah industri Cibitung masih tahap konstruksi. Tiang-tiang bangunan sudah berdiri. Pekerja mengerahkan alat berat untuk mengangkut material.
”Pembangunan ini masih sesuai rencana, yakni beroperasi September nanti,” ungkapnya.
Dengan investasi lebih dari 22 juta dollar AS (Rp 374 miliar), pabrik baru ini bakal menyerap sedikitnya 150 tenaga kerja lokal pada tahap awal beroperasi. Pembangunan ini membuat LG memiliki tiga tempat fasilitas produksi dengan pabrik baru ini fokus membuat AC.
”Melalui fasilitas ini, kami tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi, memperkuat kepemimpinan kami di bidang manufaktur dalam negeri, dan berkontribusi pada pertumbuhan yang berkelanjutan,” ungkap Ha Sang-chul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/16/f42fb642-2ca5-45f7-b212-2acdf0d98885_jpg.jpg)
Mike Kim, Product Director ES (Eco Solution) of LG Electronics Indonesia, menambahkan, pembangunan pabrik AC di Cibitung merupakan upaya menjawab kebutuhan konsumen. Pihaknya pun memproduksi AC yang memanfaatkan akal imitasi (AI) dan ramah lingkungan.
Setiap unit, lanjutnya, akan diproduksi mengikuti standar kualitas seperti di Korea Selatan. Setiap tahap produksi pun akan diperiksa sesuai performanya. ”Kami tidak hanya memproduksi pendingin udara, tetapi juga mendorong masa depan yang lebih cerah di Indonesia,” ujar Mike.
Pihaknya pun berkomitmen memenuhi target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) AC LG hingga 40 persen. Artinya, hampir sebagian komponennya berasal dari lokal. Pada 2023, pabrik LG di Tangerang, Banten, telah mendapatkan TKDN sebesar 26,31 persen.
Park Soo-deok, Kuasa Usaha Sementara Kedutaan Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia, menilai, pembangunan pabrik AC ini memiliki arti penting di tengah tarif impor tinggi yang bakal diterapkan AS. Dengan kondisi ini, sangat dibutuhkan kemandirian negara dalam memproduksi kebutuhannya sendiri.
”Pembangunan fasilitas produksi akan menciptakan lapangan kerja hingga meningkatkan neraca perdagangan melalui ekspor dan subtitusi impor,” ujar Park. Korea, katanya, memandang Indonesia sebagai mitra strategis dalam perdagangan elektronik, otomotif, dan industri lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/03/b019cd10-d56f-4f6d-b15f-f739924b785e_jpg.jpg)
Menurut dia, agar investasi terus berkembang, komitmen perusahaan saja tidak cukup. Dukungan masyarakat dan pemerintah juga dibutuhkan. ”Pemberian insentif, penyesuaian tarif bea masuk, dan penyediaan infrastruktur bisa menunjang bisnis perusahaan asal Korea,” ungkap Park.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Hamzirwan .Penyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul