Prospek Pasar Ekspor Indonesia Pascakebijakan Tarif Trump

Diversifikasi pasar ekspor Indonesia menjadi keniscayaan demi menyelamatkan kinerja perdagangan internasional Tanah Air pascapenerapan tarif Trump.

11 Apr 2025 11:55 WIB · Riset

Oleh Agustina Purwanti

Meskipun terus tumbuh, proporsi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat kian mengecil sepanjang 25 tahun terakhir. Diversifikasi pasar menjadi keniscayaan demi menyelamatkan kinerja ekspor Tanah Air pascapenerapan Tarif Trump.

Tarif resiprokal pengiriman ekspor ke AS yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump pada Rabu lalu (2/4/2025) menimbulkan polemik yang luas di seluruh dunia. Sebab, sedikitnya 185 negara mendapat ketetapan kenaikan bea masuk impor (BMI) tersebut secara mendadak. Tingginya defisit perdagangan AS menjadi salah satu alasan Trump mengambil langkah fiskal tersebut.

Hal itu diperkirakan dapat mengganggu stabilisasi perdagangan secara global, terutama yang berhubungan dengan AS. Indonesia pun menjadi salah satu yang terkena kebijakan BMI AS itu dengan beban tarif sebesar 32 persen.

Hanya saja, tarif resiprokal yang sebelumnya akan diberlakukan mulai 9 April itu seketika mengalami perubahan. Tepat di tanggal tersebut, Trump mengumumkan sejumlah negara, termasuk Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat keringanan. Pemberlakuan tarif ditunda selama 90 hari. Besaran tarif yang diberlakukan dalam masa penundanaan itu pun didiskon menjadi “hanya” 10 persen.

Keputusan itu disebut-sebut sebagai “kemurahan hati” Trump atas niatan baik sejumlah negara yang membuka ruang negosiasi dengan pihak AS pascapengumuman tarif resiprokal. Merespons pengumuman itu, pemerintah Indonesia telah mendelegasikan tim negosiasi yang disiapkan khusus untuk berunding dengan pihak AS. Surat negosiasi pun sudah dikirimkan ke AS.

US President Donald Trump delivers remarks on reciprocal tariffs during an event in the Rose Garden entitled "Make America Wealthy Again" at the White House in Washington, DC, on April 2, 2025. Trump geared up to unveil sweeping new "Liberation Day" tariffs in a move that threatens to ignite a devastating global trade war. Key US trading partners including the European Union and Britain said they were preparing their responses to Trump's escalation, as nervous markets fell in Europe and America. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)

Berbagai antisipasi lain juga telah disiapkan. Penghapusan kuota impor beserta peraturan teknisnya pun diwacanakan oleh pemerintah. Tujuannya, guna menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara. Selain itu, juga dinilai dapat mengurai beban transaksi dan membuat aktivitas perdagangan lebih transparan.

Meski demikian, perlu juga dilihat sisi lainnya. Jika keran impor dibuka bebas berpotensi mengganggu neraca perdagangan dan cadangan devisa domestik. Pada gilirannya, dapat mengganggu sendi-sendi ekonomi dalam negeri.

Di lain sisi, Indonesia tak boleh terlena. Tetap harus bersiaga usai penundaan tarif tersebut. Sebab, berbagai kejutan masih sangat mungkin terjadi. Apalagi, penundaan ini bersifat sementara, setelah 90 hari, tarif resiprokal BMI ke AS akan diberlakukan secara penuh sebesar 32 persen. Hal ini perlu diantisipasi dengan menyiapkan pasar alternatif lainnya di luas AS guna memperkokoh perdagangan internasional Indonesia. Diversifikasi negara tujuan ekspor harus segera dilakukan.

Ke mana diversifikasi harus dilakukan?

Di tengah “ancaman” yang kapan saja bisa menyerang tersebut, langkah perluasan pasar ekspor Indonesia menjadi opsi yang cukup ideal. Tentu saja, berbagai strategi yang telah dilakukan dan diwacanakan harus juga segera dilakukan.

Berdasarkan pemetaan perdagangan yang dihimpun dari data Badan Pusat Statistik sepanjang seperempat abad terakhir, terpantau sejumlah negara cukup potensial untuk ekspansi memperkuat ekspor Indonesia. Perannya pada ekspor Indonesia konsisten mengalami peningkatan. Bahkan, beberapa negara di antaranya mampu memberi surplus bagi Indonesia.

Pertama adalah China, pesaing AS yang tercatat mengalami peningkatan pangsa pasar ekspor Indonesia paling signifikan. Tahun 2002 lalu, ekspor Indonesia ke China baru sebesar 5,1 persen dari total penjualan Indonesia ke luar negeri. Namun, tahun 2024 sudah mencapai 23,59 persen dan menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

Relatif terjaganya pola kerja sama perdagangan dengan China membuka peluang bagi Indonesia untuk semakin meningkatkan kinerja ekspor ke “Negeri Panda” tersebut. Minyak nabati dan hewani (HS 15) bisa menjadi salah satu komoditas yang bisa ditawarkan untuk dinaikkan volume ekspornya. Pasalnya, produk yang menjadi salah satu ekspor unggulan ke AS ini juga cukup diminati oleh China.

Infografik Negara Mitra Ekspor Indonesia dengan Kontribusi yang Cenderung Meningkat

Merujuk data Pusat Perdagangan Dunia (ITC), di antara semua komoditas yang dikirim ke China, minyak nabati dan hewani menduduki posisi terbanyak ke empat.  Karenanya, di tengah upaya negosiasi dengan AS, komoditas yang berpotensi terancam oleh tarif resiprokal ini dapat dialihkan sebagian ke China.

Kedua adalah kelompok anggota ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Brunei Darussalam. Sama seperti China, proporsi ekspor Indonesia ke negara-negara tetangga ini juga terpantau mengalami tren peningkatan, kendati tak menonjol seperti China.

Beragam perjanjian yang disepakati dalam forum ASEAN membuat perdagangan antaranggotanya cukup terjaga. Selama ini, seperlima pasar ekspor Indonesia menyasar di ASEAN. Diperkuat dengan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan perjanjian perdagangan ASEAN dengan 5 negara Asia lainnya  seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Aliran minyak nabati dan hewani dari Indonesia ke sejumlah negara tersebut juga cukup deras, ditambah juga dengan mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85). Akan tetapi, belum semua potensi ekspornya dioptimalkan. Pada Vietnam, misalnya. Merujuk data Export Potential Map, potensi ekspor mesin dan perlengkapan elektrik ke Vietnam sebesar 1,7 miliar dollar AS. Namun, hingga saat ini baru mencapai 520 juta dollar AS. Menjadi pasar yang cukup menjanjikan manakala tak sepenuhnya lagi dapat dialirkan ke AS.

Potensi pasar lainnya adalah Afrika, yakni benua dengan penduduk terbanyak kedua setelah Asia. Kendati berfluktuasi, porsi ekspor Indonesia ke Afrika tercatat mengalami tren peningkatan dan kini mencapai 2,4 persen dari total ekspor Indonesia.

Kembali mengacu pada Export Potential Map, potensi ekspor Indonesia ke Afrika sebesar 10,76 miliar dollar AS. Namun, hingga kini sebanyak 4,26 miliar dollar AS belum dioptimalkan. Besarnya pasar dan potensi yang ada membuat Indonesia berpeluang untuk meningkatkan ekspansi ekspor ke “Negeri Benua Hitam” ini. Sejauh ini, China dan India menjadi pemasok utama kebutuhan di Afrika. Tak menutup kemungkinan, Indonesia pun dapat hadir sebagai mitra dagang yang kuat bagi Afrika.

Pasar berikutnya yang potensial di rambah Indonesia adalah kawasan Amerika latin. Masih terdapat peluang bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Chili, Republik Dominika, Brasilia, Costa Rica, Panama, Kolumbia, dan Peru. Data Kementerian Perdagangan mencatat, prospek ekspor komoditas nonmigas Indonesia ke sejumlah negara tersebut cukup menjanjikan.

Deretan mobil siap ekspor ke Filipina dan Thailand terparkir di Terminal Kendaraan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menunggu dikapalkan, Selasa (16/5). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada April 2017 sebesar 13,17 miliar dollar AS dan impor 11,93 miliar dollar AS. Ekspor nonmigas masih memberikan andil sekitar 90 persen dari total ekspor Indonesia.

Indonesia juga perlu melirik negara-negara di bagian Samudera Pasifik seperti Fiji, Kiribati, Papua Nugini, dan Samoa. Sebab, setidaknya dalam lima tahun terakhir, performa ekspor ke sejumlah negara tersebut perlahan tumbuh. Mesin dan perlengkapan elektrik, bahan pangan, hingga produk tekstil cukup potensial di kawasan ini.

Selain kontribusinya terpantau terus meningkat, laju pertumbuhan ekspor dari Indonesia ke sejumlah negara kawasan Pasifik tersebut cukup terjaga pada tren positif setidaknya dalam lima tahun terakhir. Cukup menjanjikan untuk menjadi tujuan diversifikasi dan peningkatan kinerja ekspor Indonesia.

Peluang pasar berikutnya adalah Eropa. Meski masa kejayaan ekspor ke Eropa terbilang sudah berakhir, tetapi penjajakan kerja sama perdagangan dapat kembali diperkuat. Merujuk data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia ke sejumlah negara di Eropa dalam lima tahun terakhir juga mencatatkan pertumbuhan yang positif dan cenderung meningkat. Beberapa di antaranya Belarus, Bulgaria, Georgia, dan Lithuania.

Pangsa pasar ekspor ke AS menurun

Diversifikasi pasar semakin relevan dilakukan di tengah gejolak perdagangan akibat kebijakan tarif baru oleh AS. Apalagi, tanpa menegasikan betapa besarnya peran perdagangan dengan AS, proporsi ekspor Indonesia ke AS kian mengecil.

Merujuk pemetaan serupa, ketika porsi ekspor ke sejumlah negara meningkat, pangsa ekspor Indonesia ke AS justru cenderung menurun. Tahun 2000 silam, proporsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 13,64 persen dari total ekspor Indonesia ke semua negara mitra. Saat itu, nilai ekspor Indonesia ke AS sebesar 8,48 miliar dollar AS.

Kini, meski secara nilai mengalami peningkatan drastis, yakni sebesar 26,31 miliar dollar AS, tetapi proporsi ekspor ke AS justru turun. “Hanya” tersisa 9,94 persen dari total ekspor Indonesia atau turun 3,7 poin persen dibandingkan seperempat abad silam. Tampak kian menyempit jika dibandingkan dengan proporsi tahun 1989 silam yang mencapai 17,9 persen. Kala itu, selain dengan AS, perdagangan Indonesia didominasi kerja sama dengan Jepang dan Eropa (Kompas, 2 Juli 1991).

infografik Proporsi Ekspor Total Migas dan Nonmigas Indonesia ke AS Kian Mengecil

Perubahan komposisi ini menunjukkan kemampuan Indonesia menembus pasar negara lainnya. Dengan demikian, semakin banyaknya negara mitra dagang yang menjalin kerja sama dengan Indonesia, proporsi ekspor sejumlah negara menjadi cenderung mengecil. Hal ini menunjukkan juga adanya ruang pasar yang lebih luas serta tidak hanya bergantung pada pasar tertentu saja sebagai rujukan perdagangan internasional Indonesia.

Dalam situasi saat ini, perundingan perdagangan bukan hanya menjadi mandatori bagi tim negosiasi yang ditugaskan secara khusus untuk AS. Para diplomat di masing-masing negara penugasan yang menjadi representasi resmi Indonesia juga perlu diwajibkan untuk lebih aktif membuka ruang perundingan kerja sama perdagangan guna memperlebar diversifikasi pasar ekspor nasional.

Upaya itu demi menjaga stabilitas perdagangan internasional Indonesia yang senantiasa surplus hingga saat ini. Negosiasi dan memperluas jalinan mitra kerja sama adalah sebuah konsekuensi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.(Litbang Kompas)


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustina Purwanti
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji