Harga barang kebutuhan sehari-hari naik terus, sementara penghasilan rakyat stagnan. Ekonomi yang sedang tak baik-baik bikin rakyat Iran gerah dan protes meluas.
02 Jan 2026 11:00 WIB · Internasional
AFP
DUBAI, KAMIS — Di Iran, bagi sebagian besar warga hidup dirasa semakin susah. Harga barang kebutuhan hidup terus naik, sementara penghasilan masyarakat jalan di tempat. Jengkel dengan pemerintah yang tak kunjung berhasil memperbaiki perekonomian yang lesu, sejak pekan lalu rakyat Iran di beberapa provinsi turun ke jalan, berunjuk rasa.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang tak terhindarkan terjadi di ibu kota Teheran serta tiga kota lain. Bentrokan itu menewaskan setidaknya tujuh orang, Kamis (1/1/2026). Gelombang unjuk rasa banyak terjadi di wilayah-wilayah yang dihuni kelompok etnis Lur Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/02/dfc44ee3d4072b505c0eff33e311ce7c-wires_photo_95.jpg)
Kekerasan aparat keamanan terhadap pengunjuk rasa yang paling parah terjadi di kota Aza, Provinsi Lorestan, sekitar 300 kilometer barat daya Teheran. Dari rekaman video yang beredar secara daring terlihat benda-benda di jalanan yang terbakar dan suara tembakan saat orang-orang berteriak: ”Tidak tahu malu! Tidak tahu malu!”
Kondisi yang sama juga terjadi di kota Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari. Suara tembakan terdengar di latar belakang para pengunjuk rasa yang tengah berkumpul di jalan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berupaya meredakan ketegangan dan mengakui ”tuntutan sah” para pengunjuk rasa. Ia mendesak pemerintah untuk memperbaiki situasi ekonomi.
”Dari perspektif Islam, jika kita tidak menyelesaikan masalah mata pencarian rakyat, kita akan berakhir di neraka,” kata Pezeshkian dalam sebuah acara yang disiarkan di TV pemerintah. Namun, pihak berwenang juga akan mengambil sikap ”tegas” dan memperingatkan agar jangan ada yang memanfaatkan situasi untuk menabur kekacauan.
Gelombang protes ini menjadi yang terbesar di Iran sejak tahun 2022 ketika kematian Mahsa Amini (22) dalam tahanan polisi memicu demonstrasi nasional. Kala itu protes itu menyebabkan ratusan orang tewas, termasuk puluhan aparat.
Amini ditahan karena tidak mengenakan jilbab atau hijab sesuai aturan pemerintah. Namun, demonstrasi kali ini belum meluas ke seluruh negeri dan belum seintens demonstrasi seputar kematian Amini.
Kantor berita semiresmi Fars melaporkan ada tiga orang tewas. Sementara media lain, termasuk media proreformasi, mengutip Fars untuk melaporkan unjuk rasa ini. Media yang dikelola pemerintah tidak mengakui adanya kekerasan saat unjuk rasa. Tidak jelas mengapa tidak ada lebih banyak pelaporan tentang kerusuhan saat unjuk rasa kali ini. Diduga banyak wartawan telah ditangkap karena melaporkan demonstrasi terkait Amini pada 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/02/232ed684d4c4a4cb8b9f210d90facbf8-Iran.jpg)
Sebagaimana disebutkan Pezeshkian, Wakil Gubernur Provinsi Lorestan Saeed Pourali menjelaskan, unjuk rasa kali ini terjadi akibat tekanan ekonomi, inflasi, dan fluktuasi mata uang. Unjuk rasa itu menjadi ekspresi dari kekhawatiran akan mata pencarian.
”Suara warga harus didengar dengan cermat dan bijaksana, tetapi masyarakat tidak boleh membiarkan tuntutan mereka ditekan oleh individu yang mencari keuntungan,” ujarnya.
Kejaksaan Agung Iran menyatakan, protes ekonomi secara damai itu sah. Namun, jika ada yang memancing situasi tidak aman, akan ditanggapi dengan tegas. ”Segala upaya untuk mengubah protes ekonomi menjadi alat ketidakamanan, perusakan properti publik, atau penerapan skenario yang dirancang dari luar pasti akan ditanggapi dengan respons hukum, proporsional, dan tegas,” sebut Kejaksaan Agung dalam pernyataan tertulisnya.
Kantor berita Tasnim menyebutkan, otoritas Iran telah menangkap 30 tersangka di Distrik Malard yang dituduh melanggar ketertiban umum. Di kota Kouhdasht, ada 20 orang yang ditangkap. Aparat keamanan juga menyita 100 pistol selundupan. Pemerintah sipil Iran di bawah Presiden reformis Masoud Pezeshkian telah mencoba memberi sinyal bahwa mereka ingin bernegosiasi dengan para demonstran.
Namun, Pezeshkian mengakui tidak banyak yang dapat ia lakukan karena mata uang rial Iran telah terdepresiasi dengan cepat, 1 dollar AS kini berharga sekitar 1,4 juta riyal. Gelombang unjuk rasa ini berawal dari unjuk rasa para pemilik toko yang memprotes penanganan pemerintah terhadap penurunan tajam nilai mata uang dan kenaikan harga yang pesat.
Rezim teokrasi Iran menyatakan hari Rabu lalu sebagai hari libur nasional. Alasannya, cuaca dingin. Namun, banyak yang curiga itu upaya membuat orang-orang keluar dari Teheran untuk liburan akhir pekan yang panjang. Akhir pekan Iran adalah hari Kamis dan Jumat, sementara hari Sabtu menandai hari ulang tahun Imam Ali, hari libur lain bagi banyak orang. Diduga otoritas khawatir gelombang unjuk rasa akan membesar dan mendukung para pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan-slogan menentang rezim teokrasi Iran.
Para penguasa Iran sedang bergulat dengan sanksi Barat yang telah menghantam perekonomian yang sudah terpuruk akibat inflasi lebih dari 40 persen. Kondisi ini diperparah dengan serangan udara Israel dan AS pada Juni lalu yang menyasar infrastruktur nuklir dan rudal balistik negara itu serta kepemimpinan militer.
Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, mengatakan, pihaknya akan berdialog langsung dengan perwakilan serikat pekerja dan pedagang. Ia juga mengatakan, ada anggota Basij berusia 21 tahun dari kota Kouhdasht yang tewas oleh para pengunjuk rasa. Selain itu, ada 13 polisi yang juga terluka akibat lemparan batu. Basij adalah pasukan paramiliter sukarelawan yang terkait dengan Garda Revolusi Iran, cabang ideologis dari tentara republik Islam. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan