PERANG IRAN

Provokasi Kapal Perang AS Terobos Selat Hormuz Saat Perundingan Berlangsung

Iran menuntut pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman. Trump mengklaim mengendalikan Hormuz.

12 Apr 2026 13:15 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

WASHINGTON DC, MINGGU — Saat Amerika Serikat dan Iran berunding di Pakistan, sepasang kapal perusak AS memasuki Selat Hormuz meski segera berbalik arah. Dalam laporan The Washington Post, Sabtu (11/4/2026) waktu setempat, kapal perusak rudal USS Frak E Petersen Jr dan USS Michael Murphy memasuki Selat Hormuz untuk persiapan operasi pembersihan ranjau.

Iran membantah keras adanya kapal perang AS yang melintasi Selat Hormuz. Teheran masih memberlakukan larangan bagi lalu lintas kapal di Selat Hormuz sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz juga menjadi ganjalan dalam perundingan AS-Iran di Pakistan yang kemudian gagal menghasilkan kesepakatan.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menindak ”dengan keras” setiap kapal militer yang melintasi Selat Hormuz, menurut laporan stasiun televisi milik pemerintah, IRIB, Minggu (12/4/2026). ”Setiap upaya kapal militer untuk melewati Selat Hormuz akan ditindak dengan keras. Angkatan Laut IRGC memiliki wewenang penuh untuk mengelola Selat Hormuz secara cerdas,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC menyebut, jalur di Selat Hormuz hanya akan diberikan kepada kapal sipil dengan syarat tertentu.

Kapal tunda menarik kapal induk Angkatan Laut AS USS Gerald R. Ford diTeluk Souda di pulau Kreta pada Kamis (26/2/2026).

AS mengklaim menembak jatuh drone Iran yang mendekati salah satu kapal perusak AS. Sepasang kapal perang AS itu berlayar dari jurusan Teluk Oman menuju Selat Hormuz.

Sumber militer AS tidak menjelaskan bagaimana drone Iran dihancurkan. Salah satu sumber militer AS hanya mengatakan, drone tersebut seperti mengancam kapal perang AS. Walau hanya drone intai, militer AS tidak mau pergerakan kapal mereka dipantau.

AS mengatakan, tindakan mereka tidak menyalahi kesepakatan gencatan senjata. Dalam keterangan resmi Komando Tengah AS (Centcom), kedua kapal perang itu memasuki Selat Hormuz untuk persiapan pembersihan ranjau laut. Sepasang kapal itu hanya berhasil masuk Teluk Persia sebentar saja sebelum berputar arah meninggalkan Selat Hormuz kembali ke Teluk Oman.

”Hari ini kita memulai proses pembukaan jalur baru untuk perniagaan yang aman bagi kapal niaga dapat melintas,” kata Panglima Komando Tengah Laksamana Brad Cooper.

Selain kapal permukaan, AS akan mengerahkan drone bawah laut untuk pembersihan ranjau. Militer AS ingin membuktikan bahwa Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran dan tidak perlu ada pembayaran biaya transit untuk melintasi perairan penting itu.

Di sisi lain, salah satu tuntutan perundingan damai Iran adalah pembayaran biaya melintasi Selat Hormuz yang akan dikelola Iran dan Oman.

Iran bersedia untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian kesepakatan gencatan senjata dua pekan dengan AS sejak Selasa pekan lalu. Namun, proses itu berjalan lambat karena, menurut AS, salah satu penghambat adalah Iran tidak mengetahui pasti lokasi ranjau laut yang telah disebar.

Tangkapan layar di Google Map pada Senin (30/3/2026) ini menampilkan Pulau Qeshm, salah satu dari tujuh pulau penting milik Iran di Selat Hormuz.
Kapal niaga Perancis milik CMA CGM diijinkan Iran melintasi Selat Hormuz pada tanggal 3 April 2026. Presiden Perancis Emmanuel Macron menempuh jalan diplomasi yang disambut baik Iran.  (FILES) A container ship operated by the French CMA CGM shipping company runs into the port of Marseille on June 29, 2018. A CMA CGM container ship passed through the Strait of Hormuz declaring a "French owner," according to maritime tracking data, on April 3, 2026. (Photo by BORIS HORVAT / AFP)

Masih tertutup

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyanggah keterangan AS tentang adanya kapal perang AS melintasi Selat Hormuz. Dia menegaskan Iran masih menguasai dan menutup Selat Hormuz.

”Inisiatif pembukaan lalu lintas Selat Hormuz ada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Iran,” ujar Zolfaghari.

Tidak lama kemudian, stasiun televisi IRIB mengabarkan keterangan Angkatan Laut Iran yang menegaskan upaya memaksa melintas Selat Hormuz akan ditindak tegas. Kantor berita Iran, Tasnim, juga menyatakan, sepanjang Sabtu tidak ada kapal yang melintasi Selat Hormuz. Iran juga menolak permintaan kapal perusak AS untuk masuk ke Selat Hormuz.

Pada Sabtu pagi, Presiden AS Donald Trump melalui pelantar media sosial Truth Social mengklaim AS sedang membersihkan Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. ”Ini bantuan untuk negara lain, seperti China, Jepang, dan Perancis, yang tidak punya keberanian untuk memperjuangkan kepentingan mereka,” tulisnya.

Trump menyatakan Iran kalah besar selama konflik terjadi. Walau demikian, Trump mengakui ancaman ranjau Iran di Selat Hormuz masih menjadi momok.

Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran 20 persen kebutuhan minyak dunia. Blokade Selat Hormuz oleh Iran sejak perang pecah telah menyebabkan harga minyak melejit di atas 100 dolar AS per barel meski telah turun sejak gencatan senjata dan upaya perundingan AS-Iran.

Masyarakat AS berunjuk rasa di Gedung Putih, Washington DC, (7/4/2026) menentang serangan AS di Iran yang mengakibatkan kekacauan ekonomi dunia. Warga AS menentang ancaman Presiden Trump yang mengultimatum menghabisi Peradaban Persia sebagai tindakan tidak beradab. Protestors rally against US military action in Iran during a demonstration near the White House in Washington, DC, on April 7, 2026. On APril 7, US President Donald Trump warned that "a whole civilization will die" in Iran if the country does not heed his midnight cutoff to open the Strait of Hormuz, as Tehran reported US-Israeli attacks on its infrastructure were already underway. (Photo by Mandel NGAN / AFP)

Semasa Perang Iran-Irak (1980-1988) terjadi juga Perang Tanker, yakni saling serang terhadap kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz, yang dilakukan Iran dan Irak. Dalam laporan CNN edisi 22 Maret 2026 disebutkan, Angkatan Laut AS pernah mengadakan operasi khusus mengawal tanker melintas Selat Hormuz yang dipasangi ranjau oleh Iran.

Sejarawan Angkatan Laut AS, Samuel Cox, mengatakan, AS mengerahkan kapal perang dan penjaga pantai untuk mengawal iringan tanker kala itu. Dalam Operasi Earnest Will pada 22 Juli 1987, dua tanker meninggalkan Uni Emirat Arab menuju Kuwait di bawah pengawalan lima kapal perusak, dua fregat AL AS serta dua kapal penjaga pantai AS.

Iran yang mengetahui pergerakan konvoi tersebut meledakkan ranjau laut. Kapal tanker Bridgeton yang berada di depan menghantam ranjau. ”Tanggal 24 Juli, Bridgeton menghantam ranjau mengakibatkan lubang besar, tetapi kapal masih dapat berlayar,” kata Cox.

Selanjutnya, kapal-kapal perang bukannya melindungi, malah berlayar di belakang Bridgeton sebagai ”umpan ranjau”. Cox menulis kejadian itu membuat aib besar dalam sejarah Angkatan Laut AS.

Suasana di lokasi serangan udara Israel di lingkungan Corniche al-Mazraa Beirut pada Rabu (8/4/2026).

AFP/Ibrahim AMRO

Lebanon hancur

Salah satu tuntutan perdamaian dari Iran adalah penghentian serangan Israel di Lebanon. Lebanon terseret perang setelah Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel pada 2 Maret lalu sebagai bentuk dukungan bagi Iran.

Kementerian Kesehatan Lebanon, Minggu, menyebutkan, jumlah korban tewas sejak dimulainya perang Israel-Hizbullah telah mencapai 2.020 orang. Sedikitnya 6.400 orang terluka akibat serangan Israel.

Pada Sabtu, Lebanon mengatakan, serangan Israel di sebuah desa dekat Sidon menewaskan delapan orang. Serangan sebelumnya menewaskan 10 orang, termasuk tiga petugas darurat.

Militer Israel mengatakan telah menyerang lebih dari 200 target Hizbullah di Lebanon dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, Hizbullah mengatakan telah melancarkan serangan balasan terhadap posisi Israel sepanjang Sabtu di dalam Lebanon dan Israel utara.

Para pejabat Israel dan Lebanon berencana bertemu pada Selasa (14/4/2026). Serangan Israel terhadap Lebanon membahayakan gencatan senjata AS-Iran selama dua pekan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra