Puasa bukanlah semata-mata melaksanakan kewajiban atas perintah Tuhan berikut dengan ”reward” yang dijanjikan-Nya.
03 Mar 2025 05:03 WIB · Opini
Dengan potensi yang ada dalam dirinya, manusia terus meningkatkan diri menuju derajat yang lebih tinggi dan mulia. Dunia ini diibaratkan sebagai ”ladang amal” yang dalam terminologi agama adalah tempat menyemai benih-benih terbaik yang kelak dapat dipetik buahnya di kemudian hari.
Selama sebulan penuh umat Islam melaksanakan ibadah puasa sebagai instrumen pelatihan rohani untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan diri. Puasa sebagai media yang bisa melatih kemampuan diri hingga mencapai suatu manajemen hati (kalbu) yang terkelola dengan baik.
Jauh sebelum era kenabian Muhammad, Yesus telah mengamalkan puasa selama 40 hari, seperti yang dijelaskan dalam Alkitab: Matius 4:2 bahwa setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus.
Kemudian, dilanjutkan dengan Matius 6:16, ”Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya”.
Hal ini selaras dengan sebuah hadis Rasulullah, betapa banyak umat Islam melakukan puasa sebulan penuh, tetapi yang didapatnya hanyalah haus, lapar, dan dahaga.
Dengan puasa yang dilakukan, membuat pelakunya seakan tidak beranjak dari manusia-manusia yang berhati kotor, suka mencaci maki, bahkan mengafir-ngafirkan sesama penganut agamanya sendiri. Pada tataran ini, puasa belum dapat dimaknai secara esensial, tetapi membuat pelakunya terjebak pada ranah formalitas belaka.
Puasa dan norma sosial
Puasa bukanlah semata-mata melaksanakan kewajiban atas perintah Tuhan berikut dengan reward yang dijanjikan-Nya. Namun, suatu kesadaran yang harus mengarahkan pelakunya pada petunjuk Tuhan, betapa pentingnya memiliki hati dan kalbu yang terkelola dengan baik.
Untuk itu, titik sentralnya bukan semata-mata pada sistem yang berjalan, melainkan pada pribadi-pribadi yang hatinya terarah dan terkendali dengan baik.
Figur manusia bertakwa yang harus menaklukkan ego-ego pribadinya, yang terus akan menyinari dunia dan seisinya, hingga dapat mewarnai sistem apa pun yang sedang berlaku di sekelilingnya.
Ornamen terpenting dalam jagat rohani manusia, menurut kiai dan intelektual Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siroj, adalah dlamir dan qalbu. Pengertian dlamir erat kaitannya dengan etika dan norma sosial yang mendorong dan memotivasi manusia agar berjalan sesuai dengan koridor hukum- hukum alam yang berlaku.
Dengan dlamir itu, manusia akan menempatkan diri sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat setempat, serta mampu menyesuaikan diri di tengah aturan dan undang- undang yang berlaku, baik dari sisi budaya, adat, maupun kehidupan beragama.
Di sisi lain, peranan qalbu sebagai eye of heart atau bashirah, yang lebih bernuansa filosofis dan metafisik.
Melalui puasa, diharapkan memiliki bashirah dan penglihatan jernih laiknya Muhammad, Yesus, atau Mahatma Gandhi sebagai fitrah jati diri manusia hingga sanggup membedakan mana yang maslahat dan mana yang mafsadah. Ia berfungsi selaku pendeteksi hingga manusia sampai pada kesadaran tinggi untuk membedakan hati nurani dan hati kegelapan (dzulmani).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/86c43b0c-8992-4c4c-90af-6368d71bd0fa_jpg.jpg)
Pelatihan rohani
Melalui pelatihan rohani dengan melaksanakan puasa, hendaknya kesadaran manusia semakin meningkat pada suatu potensi yang dapat memandu batin dan rohani hingga dengan sendirinya segala sesuatu yang bersifat materi dan jasmani dapat terkontrol dan terkendali dengan baik.
Disiplin diri yang sudah terkontrol oleh manajemen hati dan qalbu adalah tolok ukur yang dapat menyelamatkan Indonesia dari degradasi moral yang akhir-akhir ini menyebabkan banyak elite dan petinggi politik terjerembap oleh karena ulah perbuatannya sendiri.
Hakikat puasa
Untuk itu, memaknai puasa bukan semata-mata berdasarkan hukum fikih saja, melainkan harus ditingkatkan ke wilayah ”hakikat” yang lebih mengena sasaran untuk perubahan watak dan karakteristik manusia secara umum.
Ketika kita bicara mengenai hakikat, kita akan mencapai pemahaman tentang dampak (impact) dari pelaksanaan ibadah puasa. Ia mengandung aspek yang terkait dengan kemaslahatan umat, kesetiakawanan sosial, muhasabah, dan introspeksi diri yang selaras dengan menjaga alam dan lingkungan sekitar.
Namun, akhir-akhir ini, betapa banyak orang melaksanakan puasa tetapi hatinya masih terjebak ke ranah seremonial belaka. Seakan ia membanggakan diri telah menunaikan perintah Tuhan.
Padahal, dengan tegas dalam Matius: 6:18 dinyatakan, ”Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.
Namun, jika ibadah puasa hanya dipahami sebatas hukum-hukum agama yang bersifat politis dan pragmatis, tak menutup kemungkinan akan kembali pada apa yang pernah diperingatkan Yesus dalam Matius: 6:16 bahwa ”Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya”.
Eeng Nurhaeni, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Lebak, Banten
Penulis:
Eeng NurhaeniEditor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan