Makanan basi yang dihidangkan dalam program makan bergizi gratis diduga memicu keracunan pada puluhan pelajar di Batang, Jawa Tengah. Pengawasan pun diperketat.
16 Apr 2025 22:47 WIB · Nusantara
BATANG, KOMPAS — Sedikitnya 60 pelajar dari sejumlah sekolah di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, diduga keracunan seusai menyantap makan bergizi gratis pada Senin (14/4/2025). Ke depan, pengawasan terhadap proses pemilihan bahan hingga pengolahan makan bergizi gratis bakal diperketat untuk mencegah berulangnya kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Batang Didiet Wisnuhardanto mengatakan, hingga Rabu (16/4/2025), ada 60 siswa yang mengeluhkan gejala meyerupai keracunan, seperti pusing, mual, muntah, hingga diare. Mereka merupakan pelajar dari 8 sekolah, dari jenjang TK hingga SMP di Batang.
Didiet menyebut, anak-anak yang sebelumnya mengeluhkan gejala keracunan sudah membaik. Pada Rabu, sebanyak 60 anak tersebut sudah masuk sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/20c9ace67fae511a2085476f80113b89-20250120_Opini_Tantangan_Multikulturalisme_Program_Makan_Bergizi_Gratis.jpg)
”Di hari itu, menu MBG diganti dengan mi. Mungkin karena proses memasaknya dari tengah malam sampai proses pendistribusiannya waktunya cukup panjang, jadi ada risiko mi itu basi,” kata Didiet saat dihubungi, Rabu petang.
Menurut Didiet, ada sejumlah sekolah yang siswanya tidak mengeluhkan gejala keracunan meski mengonsumsi MBG. Mayoritas yang tidak terdampak adalah siswa yang gurunya berinisiatif membuang mi ternyata sudah berbau tersebut.
Dinas Kesehatan Batang sudah mengirimkan sampel menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada Senin untuk dicek dilaboratorium kesehatan Dinas Kesehatan Jateng. Upaya itu dilakukan untuk memastikan pemicu keracunan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/6b0bf4991f7855f5f62370074dd81a35-Dapur_MBG_Kalibata.jpg)
Didiet menyebut, pihaknya telah mendatangi semua dapur MBG dan menyarankan agar mereka melakukan pengetatan dalam pemilihan bahan makanan serta memastikan kualitas air yang digunakan untuk mengolah makanan maupun membersihkan peralatan. Selain petugas dari Badan Gizi Nasional, petugas dinas kesehatan setempat juga bakal turut mengecek air dan dapur MBG secara berkala
Petugas dinas kesehatan juga disebut Didiet telah mendatangi sekolah-sekolah untuk mengecek kondisi kesehatan para siswa yang mengonsumsi MBG pada Senin. Di samping itu, mereka juga melakukan sosialisasi kepada para siswa dan guru untuk memperhatikan MBG sebelum mengonsumsinya.
”Sebelum mengonsumsi makanan tersebut itu, mohon guru untuk mencicipi. Jika dari baunya maupun dirasa ada kemungkinan basi ataupun yang tidak enak, dan terlihat bentuknya sudah berubah segera dilaporkan dan tidak dikonsumsi,” ucap Didiet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/bbfd6bde83be729e4412b96cb066357f-20250306_Opini_Refokus_Program_Makan_Bergizi_Gratis.jpg)
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang Bambang Suryantoro S menuturkan, pemerintah setempat telah berkomunikasi dengan vendor MBG. Jika ada indikasi tidak menjaga kualitas makanan, izinnya diancam akan dicabut.
”Bupati sudah menyampaikan, kalau memang vendornya tidak menjamin atau menjaga, nanti akan dicabut izinnya. Kami berharap ke depan supaya dijaga kebersihan dan kesehatan makanan yang akan diberikan kepada anak-anak karena mereka ini aset bangsa,” ujarnya.
Andi Pras (42), salah satu orangtua siswa, mengaku, anaknya yang merupakan siswa salah satu TK muntah-muntah setelah menyantap MBG pada Senin. Ia berharap, ke depan, pengawasan dilakukan lebih ketat sehingga kejadian keracunan tidak lagi terulang.
”Saya kecewa karena pihak sekolah tidak memberi tahu kami selaku orangtua bahwa anak-anak kami keracunan. Kami tahu karena anak kami mengadu. Ke depan, pihak sekolah harus memastikan, makanan yang dikonsumsi anak-anak itu layak. Apalagi, anak kami masih TK, belum tahu itu makanannya bermasalah atau tidak,” ujarnya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul