Puluhan Ribu Pengungsi Kembali ke Gaza, Disambut Kehancuran Total

Segera setelah Israel menarik pasukan, sedikitnya 200.000 pengungsi kembali ke Jalur Gaza. Mayoritas berjalan kaki dan mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah.

11 Okt 2025 09:23 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

WADI GAZA, SABTU — Setelah pasukan Israel mulai menarik diri dari Gaza, puluhan ribu pengungsi mulai kembali rumah mereka yang hancur parah setelah dua tahun digempur Israel. Kantor berita Associated Press, Sabtu (11/10/2025), melaporkan, mereka berjalan kaki ke arah utara menyusuri jalan pesisir dan melintasi gurun pasir hanya untuk mendapati tempat tinggal yang rata dengan tanah.

Mereka melewati Khan Younis, kota terbesar kedua di Gaza, yang sudah hancur. Militer Israel mengebom semua gedung dan meledakkan rumah-rumah dengan alasan untuk menghancurkan infrastruktur militer Hamas.

”Daerah kami sudah hancur. Tidak ada yang tersisa. Kami tidak tahu harus pergi ke mana untuk cari makan dan pakaian,” kata Ahmed al-Brim.

Ia mendorong sepeda dengan setumpuk kayu bekas di atasnya yang akan dipakai untuk memasak. Hanya kayu bekas itu yang bisa diselamatkan dari reruntuhan rumahnya.

Displaced Palestinians walk past destroyed buildings as they return to their homes in the Zeitoun neighborhood of Gaza City, Friday, Oct. 10, 2025, after Israel and Hamas agreed on a ceasefire and the release of remaining hostages. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Pengungsi asal Khan Younis, Fatma Radwan, hanya menemukan pakaian dan puing-puing kayu di rumahnya. Ia juga menceritakan, banyak orang yang berusaha mengevakuasi jenazah dari bawah reruntuhan.

Otoritas kesehatan Palestina mengatakan, tim medis telah mengevakuasi 100 jenazah dari sejumlah daerah di Jalur Gaza setelah tentara Israel ditarik. Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, memperkirakan 200.000 warga Palestina sudah kembali ke utara sejak gencatan senjata berlaku.

Para pengungsi berharap perang berakhir selamanya dan mereka tak perlu mengungsi lagi. ”Apa pun kondisinya, yang penting kami bisa kembali ke rumah,” kata warga Khan Younis, Ameer Abu Iyadeh (32).

Meski sudah tercapai gencatan senjata dan tentara Israel mundur, Hamas, Jihad Islam, dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina mengingatkan agar rakyat Palestina tetap waspada. Sebab, proses negosiasi dan mekanisme pelaksanaan perjanjian masih berlangsung.

Tahap pertama dari gencatan senjata butuh dipantau terus. ”Bersama dengan mediator, kami akan memastikan hak-hak rakyat Palestina dilindungi dan penderitaan mereka berakhir,” sebut kelompok-kelompok itu dalam pernyataan bersama.

Pasukan dan kendaraan lapis baja Israel sudah ditarik mundur dari posisi terdepan di Kota Gaza dan Khan Younis. Namun, Israel memperingatkan, masih ada beberapa wilayah yang terlarang. Warga Palestina diminta untuk tidak mendekat karena pasukan Israel masih menyesuaikan posisi operasionalnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yakin gencatan senjata akan tetap bertahan. ”Mereka semua sudah lelah dengan pertempuran ini. Saya yakin ada konsensus untuk langkah selanjutnya, tetapi rinciannya masih harus diselesaikan,” ujarnya.

Masa depan Gaza

Pertanyaan besar yang masih mengganjal adalah siapa yang akan memerintah Gaza dan apakah Hamas akan mau melucuti senjatanya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah mengisyaratkan bahwa Israel mungkin akan memperbarui serangan jika Hamas tidak menyerahkan senjata.

Israel menyatakan akan terus beroperasi secara defensif di 50 persen wilayah Gaza yang masih dikuasainya. Israel setuju mulai gencatan senjata dengan imbalan pembebasan 48 sandera yang tersisa mulai Senin pekan depan. Sekitar 20 orang di antaranya diyakini masih hidup.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendapat lampu hijau dari Israel untuk mulai mengirimkan bantuan ke Gaza mulai Minggu. Bantuan mencakup 170.000 metrik ton bahan yang sudah ditempatkan di negara-negara tetangga, seperti Jordania dan Mesir. Berbagai organisasi kemanusiaan masih menunggu izin dari Israel untuk mulai kembali bekerja.

Selama 24 jam terakhir, PBB dan Israel membahas jumlah bantuan yang bisa didatangkan organisasi-organisasi kemanusiaan dan titik-titik masuk mana yang dapat dilalui. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan, bahan bakar, obat-obatan, peralatan medis, dan kebutuhan lainnya sudah mulai mengalir melalui penyeberangan Kerem Shalom.

PBB ingin Israel membuka lebih banyak penyeberangan perbatasan dan memastikan pergerakan para pekerja bantuan aman dan tidak menjadi sasaran serangan tentara Israel.

Israel akan membebaskan 250 warga Palestina yang menjalani hukuman penjara dan 1.700 tahanan yang ditangkap selama perang dengan imbalan para sandera yang tersisa. Dalam daftar sandera yang dikeluarkan Israel, Jumat, tidak tercantum nama Marwan Barghouti, pemimpin Palestina paling populer dan tokoh yang berpotensi mempersatukan.

Israel menganggap dia dan beberapa tahanan terkemuka lainnya sebagai teroris. Israel menolak membebaskan mereka dalam pertukaran sandera sebelumnya. Khalil al-Hayya, pejabat senior Hamas dan negosiator utama, mengatakan, semua perempuan dan anak-anak yang ditahan di penjara-penjara Israel akan dibebaskan.

Infografik Fase-fase Perdamaian di Gaza

Dalam tahapan selanjutnya, rencana Trump menyebutkan pembentukan badan internasional bernama ”Dewan Perdamaian” yang akan berperan dalam pemerintahan pascaperang Gaza. Trump akan memimpin dewan itu, dan melibatkan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Namun, Hamas menolak ”perwalian asing” karena menurut mereka pemerintahan Gaza murni urusan internal Palestina. Proses menuju perdamaian Gaza masih panjang dan masih banyak yang bisa berubah atau salah. Langkah-langkah lebih lanjut dalam rencana 20 poin Trump pun belum disepakati, khususnya soal rekonstruksi Jalur Gaza pascaperang dan nasib akhir Hamas. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto