Cuaca ekstrem di Aceh dipicu adanya bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka.
26 Nov 2025 19:32 WIB · Lingkungan
Dokumentasi BPBA
JAKARTA, KOMPAS — Puluhan ribu warga di sembilan kabupaten/kota di Aceh terdampak banjir dan longsor yang terjadi sepekan terakhir. Kepala daerah di sejumlah wilayah yang dilanda bencana telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), selama periode 18-26 November 2025, tercatat 46.893 jiwa yang terdampak banjir di sembilan kabupaten/kota. Dari jumlah itu, 1.497 warga terpaksa mengungsi akibat bencana. Sebagian besar kejadian masih dipicu curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi labil yang berdampak pada banjir, tanah bergerak, serta tanah longsor.
Hingga saat ini, banjir di sejumlah wilayah belum surut. Ketinggian air dilaporkan mencapai 1 meter. Petugas gabungan masih berupaya menangani bencana di setiap daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBA Fadmi Ridwan mengatakan, kepala daerah di sejumlah kabupaten/kota yang dilanda banjir telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi.
”Kabupaten yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Singkil, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,” kata Fadmi dalam keterangan resmi pada Rabu (26/11/2025).
Pada Rabu pagi, banjir dan longsor juga menerjang Kota Lhokseumawe. Empat kecamatan yang terdampak banjir adalah Kecamatan Banda Sakti, Blang Mangat, Muara Dua, dan Muara Satu. Selain merendam ribuan rumah penduduk, banjir juga membuat jalan-jalan protokol di wilayah itu terendam.
Selain Kota Lhokseumawe, banjir juga melanda Kota Langsa, Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Timur. Di Kota Langsa, banjir menyebabkan ratusan rumah tergenang air dengan ketinggian 20-40 sentimeter. Sementara itu, di Kabupaten Bener Meriah, hujan menyebabkan banjir di 10 kecamatan dan memicu longsor di satu lokasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/21/f53aa93f-9532-4918-9ea8-f0002b20db54.jpeg)
Di Aceh Timur, hujan deras disertai angin kencang yang terjadi sejak Sabtu lalu menyebabkan 11 kecamatan dilanda banjir. Banjir dipicu luapan air dari saluran drainase di wilayah permukiman penduduk.
Menurut Fadmi, pemerintah daerah di setiap wilayah masih fokus menangani bencana dan menolong warga. Sampai saat ini, BPBA juga masih terus mendata jumlah warga yang terdampak banjir.
”BPBA terus melakukan koordinasi dengan BPBD di berbagai wilayah serta memastikan langkah-langkah penanganan darurat berjalan optimal. BPBA mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama pada wilayah dengan curah hujan tinggi,” tuturnya.
Sementara itu, Manajer Komunikasi PLN Aceh Lukman Hakim mengatakan, banjir bandang menyebabkan kabel transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kilovolt (Kv) pada ruas Arun-Bireuen putus akibat banjir. Kondisi itu membuat pasokan listrik di sebagian wilayah Aceh terganggu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/19/91de46cd-c8b2-431f-af35-0e4b701be4b9.jpg)
Saat ini, PLN telah mengerahkan ratusan personel dan puluhan alat berat untuk memulihkan lima menara SUTT 150 kv di Aceh yang terdampak banjir bandang. Empat menara yang roboh dan satu menara yang rusak di wilayah Bireuen masih diperbaiki.
Cuaca ekstrem di Aceh dipicu bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka. Analisis tersebut menunjukkan bahwa 95B meningkatkan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sekitarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/be9649574b8ba94bd64a5f400c1857d6-WhatsApp_Image_2025_11_26_at_19.09.51.jpeg)
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menuturkan, masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dampak dari bibit siklon 95B. Saat ini, BMKG terus memantau intensitas 95B dan meminta pemangku kepentingan terkait untuk memastikan langkah mitigasi demi meminimalisasi hal yang tidak diinginkan.
”Pemerintah daerah siaga terhadap potensi dampak dari cuaca ekstrem, seperti potensi banjir, banjir pesisir, dan pohon tumbang akibat angin kencang. Khusus bagi nelayan dan pelaku transportasi laut harus benar-benar memperhatikan kondisi gelombang tinggi yang berisiko mengganggu keselamatan pelayaran. Keamanan dan keselamatan merupakan prioritas utama kita bersama,” kata Faisal.
Adapun Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyampaikan, berdasarkan analisis tanggal 26 November 2025 pukul 01.00 WIB, sistem ini masih berada di dekat perairan timur Aceh dan memicu pertumbuhan awan hujan yang meluas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan lebat hingga ekstrem disertai angin kencang di wilayah pesisir Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau.
”Peluang bibit ini berkembang menjadi siklon tropis cukup tinggi dalam 24 jam ke depan, mengingat teridentifikasi adanya peningkatan angin kencang hingga lebih dari 35 knot (65 km/jam) sehingga masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam waktu dekat,” ujar Guswanto.
Dalam 24 jam ke depan, bibit siklon 95B akan berdampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di wilayah Indonesia, terutama di sekitar Aceh dan Sumatera Utara. Berdasarkan hasil analisis BMKG, sistem ini berpotensi menimbulkan hujan lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara serta sebagian wilayah di Sumatera Barat dan Riau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/05/d31a6f27-ac69-4bd5-9a3d-24b2a8249423.jpg)
Bibit siklon 95B juga berpotensi menimbulkan gelombang tinggi (2,5-4 meter) di Selat Malaka bagian tengah, perairan timur Sumatera Utara, serta Samudra Hindia barat Aceh hingga Nias. Sementara itu, gelombang sedang (1,25-2,5 meter) berpotensi terjadi di Selat Malaka bagian utara, perairan Rokan Hilir, dan Dumai-Bengkalis.
”BMKG melalui TCWC Jakarta akan terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh terhadap pergerakan sistem ini. BMKG menekankan pentingnya mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG dan menghindari penyebaran informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Direktur Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti