Peresmian Pusat Pelatihan Atletik di Pangalengan memberikan harapan baru pembinaan bibit unggul atletik Indonesia.
12 Okt 2024 14:49 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/af875542-f6cd-40f6-82c4-a14ccec51a28_jpg.jpg)
Di antara hamparan perkebunan teh Pangalengan, Jawa Barat, Pusat Pelatihan Atletik berdiri dan diresmikan Kamis (10/10/2024). Di sana tertanam mimpi anak bangsa untuk diperhitungkan dalam peta persaingan atletik dunia.
Impian menjadi atlet nasional semakin lekat terpatri di benak Suci Lestari (17), gadis asal Desa Sukawana, Kecamatan Pangalengan, saat mendapatkan nasihat dari Luhut Binsar Pandjaitan. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) itu menitipkan impian pada Suci dan sejumlah atlet lokal saat meresmikan Pusat Pelatihan Atletik di Desa Banjarsari, Pangalengan.
”Kalian harus belajar giat, giat latihan. Nanti, belajar bahasa Inggris juga. Kalau berprestasi, bisa disekolahkan,” ujar Luhut kepada Suci dan 20 atlet lainnya. Mereka adalah talenta lokal dan sejumlah pelari dari luar daerah yang berlatih di Agung Mulyawan Track Club (AMTC) Pangalengan.
Suci terpantik motivasi itu. Peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan membuat Suci semakin termotivasi. Tidak hanya untuk bangsa, dia juga ingin membuat bangga keluarga.
”Ibu meninggal saat saya baru mulai berlari. Meski begitu, saya tetap ingin beliau bangga ada anaknya yang berprestasi,” ujar Suci sambil tersenyum.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/db4fb8b9-6b18-467e-9241-e1ac29969234_jpg.jpg)
Impian itu perlahan telah ia rintis. Di rumahnya sudah bertengger satu medali perak. Dia naik podium sebagai juara dua dalam Kejuaraan Nasional dan Indonesia Open 2024 untuk cabang olahraga jalan cepat nomor 5.000 meter.
Tidak mudah bagi Suci untuk meraih prestasi itu. Sejak fokus berlari pada tahun 2021, dia mengorbankan waktu bermain dan istirahat untuk berlatih.
”Dulu saya masuk AMTC waktu ada lomba lari di tingkat lokal. Itu juga ikut karena coba-coba. Saya melihat para pelari di sini keren-keren. Kalau sekarang, tidak ada main-main lagi. Saya serius ingin meraih prestasi,” ujarnya mantap.
Ai Kusmiati (24), atlet asal Pangalengan lainnya, juga tengah mengukir mimpinya menjadi pelari profesional. Lahir di keluarga yang tidak memiliki riwayat atlet membuat dia sempat diragukan kerabatnya. Namun, semua kerisauan itu dijawab dengan segudang prestasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/14/8a4b519b-9463-42a1-8f99-af902c4f96c4_jpg.jpg)
Terakhir, Ai berhasil lolos mewakili Jawa Tengah dalam Pekan Olahraga Nasional XXI/2024 di Aceh-Sumatera Utara. Namun, cedera yang menimpa tiga minggu sebelum berlomba membuatnya gagal menempati podium.
Namun, Ai tidak menyerah begitu saja. Semangatnya semakin membara saat melihat fasilitas untuk atlet nasional ini hadir di tempat kelahirannya. Rasa kecewa karena belum meraih medali dalam PON perdananya seketika menguap saat Ai mencoba trek lari berstandar internasional ini.
”Tempat latihannya bagus banget. Ada di Pangalengan, tempat aku lahir, semakin membuat aku termotivasi. Sebelumnya, semangat sempat down karena untuk bisa ke level nasional hampir hilang,” ujarnya.
Pangalengan telah lama menjadi lokasi pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) khusus pelari jarak menengah, jarak jauh, maraton, 3.000 meter halang rintang, dan jalan cepat. Lokasinya di pegunungan berhawa sejuk dengan suhu bisa mencapai belasan derajat celsius. Kondisi pegunungan dengan udara tipis cocok untuk menaikkan kadar hemoglobin yang kelak membentuk dan melatih daya tahan para atlet.
Legenda atletik Indonesia banyak ditempa di sana. Salah satunya peraih tiga emas di SEA Games Jakarta tahun 1997, 1.500 m, 5.000 m, dan 10.000 m, Supriati Sutono. Pelari jarak jauh peraih tujuh medali emas SEA Games Agus Prayogo serta 11 medali emas SEA Games Triyaningsih juga ditempa di Pangelangan.
Sebelum fasilitas pelatihan ini dibangun, selain berlatih di antara hamparan kebun teh, para atlet menggunakan Lapangan Babakan Tanara. Udara tipis di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut ini dianggap mampu meningkatkan performa para pejuang medali tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/29/7d660197-7e6c-4b39-a71c-cdccaab08da8_jpg.jpg)
Akan tetapi, lain dulu beda sekarang. Lama-kelamaan kondisi lapangan kurang layak. Kenyamanan atlet juga terganggu jika ada orang yang usil dan menggoda mereka saat berlatih.
”Yang pasti trek dan suasana berbeda. Di Babakan, bangunannya sudah tinggal kerangka, sampah di mana-mana, berdebu, sampai tidak jarang kami juga mengalami catcalling karena berada di sisi jalan,” ujar Ai.
Ketidaknyamanan itu tidak membuat Ai dan teman-temannya patah arang. Bersama AMTC, mereka tetap berlatih untuk mendapatkan hasil terbaik di setiap pertandingan yang akan dihadapi. Para talenta muda ini pun semakin termotivasi dengan hadirnya pusat pelatihan ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/45d1b27e-b062-47d4-88ea-2fad34fdb73c_jpg.jpg)
Di sela peresmian dan peninjauan fasilitas itu, Luhut melihat peluang atletik untuk berprestasi semakin terbuka. Berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Bandung dan berudara segar membuat pusat pelatihan ini menjadi tempat ideal bagi para atlet untuk mempersiapkan diri.
”Ini mimpi berpuluh-puluh tahun PB PASI. Selama ini, latihan terlalu bergantung pada Stadion Madya. Polusi di Jakarta juga jelek sekali. Di sini (Pangalengan), tidak ada fasilitas yang kurang. Dengan adanya ini, kami berharap semakin banyak rekor yang terpecahkan, tidak hanya di ASEAN (Asia Tenggara), syukur-syukur Asia,” ujarnya.
Untuk menunjang harapan tersebut, Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan ini dilengkapi berbagai fasilitas berstandar internasional. Dengan menelan biaya hingga Rp 94 miliar, area seluas 4,7 hektar ini diisi beberapa jenis lapangan atletik hingga asrama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/7b73ef9d-3e20-42d2-9a3f-e240bd231bc4_jpg.jpg)
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, area latihan meliputi lintasan lari 400 meter dalam satu putaran dengan tambahan lintasan 100 meter di tengahnya. Di sana juga ada lapangan latihan tolak peluru, lompat jauh, hingga lempar cakram.
”Pangalengan cocok untuk tempat latihan. Jadi, selama tiga tahun ini kami merancang dan membangun fasilitas ini dengan standar internasional,” kata Luhut.
Pendiri sekaligus pelatih AMTC Agung Mulyawan menyatakan, Pangalengan memiliki potensi mencetak bibit-bibit unggul atletik. Sejak dibentuk tahun 2018, klub lari yang sebagian besar diisi putra-putri asal Pangalengan ini terus menjaring talenta berbakat.
”Kami terus menjaring anak-anak yang berminat dan yang berbakat akan bergabung dalam asrama. Sekarang anggotanya sekitar 125 orang dengan berbagai alasan, mulai dari mengisi waktu luang hingga serius,” kata Agung.
Bagi Agung, Pangalengan tidak hanya menjadi arena latihan para atlet papan atas. Daerah ini bisa juga menjadi tempat bagi talenta muda yang siap mengharumkan nama bangsa lewat jalur prestasi atletik.
”Anak-anak di sini terbiasa beraktivitas di udara tipis. Beberapa anak di sini juga memiliki postur tubuh yang cocok menjadi pelari. Kalau dilatih dengan baik, mereka bisa diandalkan,” ujar Agung.
Menurut saya, Indonesia masih terbelakang memperhatikan olahraga. Jadi, sebenarnya kita saat ini tengah mengatasi ketertinggalan. Para praktisi hingga akademisi menyadari betul tentang upaya ini, dan terkadang harus dengan tangan besi seperti Pak Luhut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/27/fa2bf729-6b4f-442c-947e-fb2ec6979db2_jpg.jpg)
Akan tetapi, fasilitas saja tidak cukup. Manajer Tim Nasional Atletik Indonesia Mustara Musa menyatakan, pembinaan berjenjang menjadi kunci dalam mendapatkan bibit unggul yang bisa bersaing di tingkat dunia.
Menurut Mustara, selama ini pemangku kebijakan masih belum memperhatikan olahraga atletik secara optimal, terutama di tingkat daerah. Padahal, talenta unggulan itu tidak bisa muncul begitu saja, tetapi melalui penyaringan dari berbagai kompetisi yang dekat dengan masyarakat.
”Menurut saya, Indonesia masih terbelakang memperhatikan olahraga. Jadi, sebenarnya kita saat ini tengah mengatasi ketertinggalan. Para praktisi hingga akademisi menyadari betul upaya ini, dan terkadang harus dengan tangan besi seperti Pak Luhut,” ujarnya.
Baca juga: Asa Warga di Kawah Candradimuka Pelari
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/b0a811c5-d885-43f6-9c6e-4fac62e3146b_jpg.jpg)
Pusat Pelatihan Atletik, lanjut Mustara, diharapkan bisa mendampingi para atlet untuk mendapatkan performa maksimal. Menurut Mustara, pencapaian prestasi itu biasanya sejalan dengan berbagai peluang untuk menjadi lebih baik.
”Jadi, tidak langsung berbicara target, tetapi bagaimana proses untuk mencapai prestasi dengan melakukan berbagai perbaikan. Pola latihan, menu gizi, semua diperhatikan dengan sport science,” ujarnya.
Impian untuk mengibarkan Merah Putih di pentas dunia semakin terbuka jika olahraga diperhatikan dengan maksimal. Pembinaan berjenjang hingga fasilitas terbaik bisa membuat talenta muda dari Pangalengan hingga daerah lainnya siap bersaing di tingkat dunia dan mengharumkan nama bangsa.
Baca juga: Dalam Dekap Kabut Pangalengan
Penulis:
MACHRADIN WAHYUDI RITONGAEditor:
CORNELIUS HELMY HERLAMBANG