Perkumpulan BRICS dibentuk untuk mengimbangi dominasi AS dan sekutunya, negara-negara Barat. Indonesia telah ditawari bergabung, tetapi masih menimbangnya.
22 Okt 2024 14:56 WIB · Internasional
Oleh Irene Sarwindaningrum - [email protected]
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/b1d2c108f1740588f35de978a524e1b5-RUSSIA_BRICS_MEDIA_PUTIN_124807104.jpg)
MOSKWA, SELASA — Sebanyak 36 negara telah memastikan akan mengirim delegasi pada Konferensi Tingkat Tinggi BRICS yang diselenggarakan di Kazan, Rusia, 22-24 Oktober 2024. Sejumlah isu yang diagendakan akan dibahas mencakup ekonomi dan kerja sama militer Rusia dengan negara-negara di luar negara-negara Barat.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono bertolak ke Kazan, Rusia, untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS itu, Selasa (22/10/2024). Dalam KTT tersebut, Presiden Prabowo Subianto diundang hadir. Namun, karena baru mengucap sumpah sebagai Presiden RI dan masih mengurus transisi pemerintahan, ia belum bisa hadir.
Karena itu, Menlu Sugiono diutus memimpin delegasi Indonesia. KTT BRICS menjadi pertemuan pertama yang dihadirinya setelah ia dilantik menjadi menlu, Senin (21/10/2024).
Dibentuk pada 2009, BRICS dibentuk untuk mengimbangi dominasi AS dan sekutu negara-negara Barat dalam tatanan dunia saat ini. Indonesia telah ditawari bergabung dengan BRICS. Akan tetapi, Indonesia masih menimbang tawaran itu.
BRICS adalah singkatan dari lima negara anggota, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (South Africa). Singkatan itu pertama kali dilontarkan Kepala Ekonom Goldman Sachs, Jim On’Neill, dalam laporan riset mengenai potensi masif pertumbuhan Brasil, Rusia, India, dan China. Negara-negara ini merupakan empat negara awal perkumpulan itu. Afrika Selatan bergabung belakangan.
Tahun 2023, Arab Saudi, Etiopia, Iran, Mesir, dan Uni Emirat Arab bergabung. Turki, Azerbaijan, dan Malaysia secara resmi mendaftar, dan sejumlah negara lain menyatakan keinginan untuk menjadi anggota.
Produk domestik bruto (PDB) negara-negara anggota BRICS secara global diperkirakan melonjak menjadi 37 persen pada akhir dekade ini. Sebagian perbandingan, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF), PDB negara-negara maju yang tergabung dalam G7 akan menurun dari 30 persen menjadi 20 persen di tahun ini.
Presiden Rusia Vladimir Putin, selaku tuan rumah KTT BRICS, tahun ini, akan memimpin pertemuan puncak itu. Sejumlah kepala negara telah memastikan hadir. Mereka adalah Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga akan hadir.
Para pejabat Rusia memandang pertemuan tersebut sebagai keberhasilan besar. Kehadiran para kepala negara ini bertolak belakang dengan anggapan internasional, terutama di Barat, selama ini bahwa Putin dikucilkan setelah invasi ke Ukraina dan terbitnya surat perintah penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) terhadapnya.
Asisten Kebijakan Luar Negeri Putin, Yuri Ushakov, mengatakan bahwa 36 negara mengonfirmasi hadir pada KTT BRICS, sebanyak 20 negara di antaranya akan mengirimkan kepala negara. Putin dijadwalkan mengadakan sekitar 20 pertemuan bilateral selama KTT itu.
”Pertemuan puncak ini dapat berubah menjadi acara kebijakan luar negeri terbesar yang pernah diadakan di tanah Rusia,” kata Ushakov.
Di sela-sela pertemuan puncak itu, Putin juga dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis. Ini akan menjadi kunjungan pertama Guterres ke Rusia dalam lebih dari dua tahun. Selama ini, Guterres sudah berulang kali melontarkan kritik keras soal perang Rusia di Ukraina.
Sejumlah ahli menilai, penyelenggaraan KTT BRICS memberi kesan bahwa Kremlin solid dengan sekutu globalnya di tengah ketegangan yang terus berlanjut dengan Barat, sekarang ini. Kesan lain adalah praktisnya negosiasi Rusia dengan negara-negara lain untuk menopang ekonomi Rusia di tengah peperangan yang sedang dihadapi Kremlin.
Bagi Putin, pertemuan puncak itu penting karena menunjukkan kegagalan upaya Barat untuk mengisolasinya.
Bagi negara-negara peserta, ini adalah peluang untuk memperkuat suara dan narasi mereka di kancah global. ”Keindahan BRICS adalah tidak memberi terlalu banyak kewajiban,” kata Direktur Carnegie Russia Eurasia Center Alexander Gabuyev.
Menurut Gabuyef, BRICS tidak memberlakukan banyak ikatan kepada negara-negara anggotanya. Pada saat yang sama, aliansi itu memberi peluang meskipun hanya sekadar kesempatan tatap muka dengan semua pemimpin dunia yang hadir.
”Bagi Putin, pertemuan puncak itu penting karena menunjukkan kegagalan upaya Barat untuk mengisolasinya,” ujar Gabuyev.
Pertemuan itu juga menunjukkan bahwa Rusia benar-benar pemain penting dalam memimpin kelompok baru yang akan mengakhiri dominasi Barat. ”Itulah narasi pribadi Putin,” kata Gabuyev.
Gabuyev mengatakan, KTT BRICS dapat membuka berbagai peluang kerja sama ekonomi dan militer. Kremlin akan dapat berbicara dengan pemain utama, seperti India dan China, tentang perluasan perdagangan dan menghindari sanksi Barat.
India adalah pasar penting bagi komoditas Rusia. Sementara China adalah sumber pemasok berbagai bahan baku industri, termasuk berbagai barang terkait militer.
Menurut Gabuyev, Rusia juga menginginkan lebih banyak negara berpartisipasi dalam proyek sistem pembayaran alternatif di luar sistem SWIFT yang dikendalikan Barat. Sistem pembayaran ini akan memungkinkan Moskwa untuk berdagang dengan mitra tanpa khawatir pada sanksi Barat.
”Ide Rusia adalah bahwa jika membuat wadah di mana ada China, Rusia, India, Brasil, dan Arab Saudi, yaitu banyak negara yang merupakan mitra vital bagi Amerika Serikat, AS tidak akan siap memberi sanksi,” kata Gabuyev.
Dengan Iran, Rusia juga diperkirakan menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif. Hal ini akan memperkuat hubungan antara Moskwa dan Teheran. Saat ini, kedua negara tersebut dikenai sanksi oleh AS dan sekutunya.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Iran disebut-sebut memasok Moskwa dengan ratusan pesawat nirawak (drone) dan membantu meluncurkan produksi di Rusia. Pengiriman pesawat nirawak Iran itu dibantah Moskwa dan Teheran.
Sementara Iran berkesempatan memperoleh senjata canggih Rusia, seperti sistem pertahanan udara jarak jauh dan jet tempur. Senjata-senjata canggih Rusia akan sangat bermanfaat bagi Iran untuk menangkis kemungkinan serangan Israel.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar ketika ditanya apakah perjanjian itu akan mencakup bantuan militer bersama.
Peneliti senior China di Jamestown Foundation, Willy Lam, mengatakan, bagi China, BRICS merupakan salah satu dari beberapa organisasi internasional yang bisa menyediakan wahana untuk mempromosikan tatanan dunia alternatif di luar dominasi AS. Xi mendorong perluasan BRICS.
Pertemuan KTT di Kazan itu akan memberi kesempatan untuk konsolidasi hubungan ekonomi, teknologi, dan militer di blok BRICS yang terus bertambah anggotanya itu. Di sisi lain, Beijing dan Moskwa juga dapat menguji hegemoni dollar AS dalam perdagangan internasional.
”Beijing dan Moskwa juga tentunya ingin melihat apakah mata uang perdagangan internasional baru dapat menantang apa yang disebut hegemoni dollar AS,” kata Lam.
KTT tersebut akan memungkinkan Xi dan Putin untuk memamerkan hubungan erat mereka. Keduanya telah mengumumkan kemitraan tanpa batas beberapa pekan sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022. Putin dan Xi juga telah bertemu setidaknya dua kali selama tahun 2024 ini, yaitu di Beijing pada bulan Mei dan pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kazakhstan pada bulan Juli.
Pakar kebijakan luar negeri dan keamanan di Mercator Institute for China Studies di Berlin, Eva Seiwert, mengatakan, meskipun mereka akan terus menampilkan persatuan, para ahli mengamati tanda-tanda halus bahwa Xi menjauhkan diri dari Putin terkait perang Ukraina.
”Meskipun Putin ingin hubungan China-Rusia tampak sebaik sebelumnya, Xi mungkin juga ingin memberi isyarat kepada negara-negara Barat dan negara-negara lain bahwa Beijing secara resmi tetap netral dalam perang Rusia di Ukraina dan bukan sekutu resmi Moskwa,” katanya.
Sementara itu, pertemuan Modi-Putin diharapkan dapat menyeimbangkan kembali hubungan mereka. Pertemuan Modi dan Putin akan menjadi yang kedua dalam tahun ini. Pada pertemuan terakhir Modi dan Putin di Rusia, Juli 2024, Modi melontarkan kritik tajam atas jatuhnya korban anak-anak di Ukraina.
Negara-negara Barat ingin India lebih aktif dalam membujuk Moskwa untuk mengakhiri perang di Ukraina. Modi terkesan menghindari mengecam Rusia, tetapi juga tetap menekankan penyelesaian damai dalam perang Ukraina.
Raja Mohan, Profesor di Institut Studi Asia Selatan di Singapura, menilai, New Delhi menganggap Moskwa sebagai mitra yang teruji kesetiaannya sejak Perang Dingin. Keduanya sudah bekerja sama dalam bidang pertahanan, minyak, energi nuklir, dan antariksa.
Pada saat yang sama, India juga membangun dan mengembangkan hubungannya dengan AS dan Barat. Ia bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy di Ukraina pada bulan Agustus dan melakukan perjalanan ke AS untuk bertemu dengan Presiden Joe Biden pada bulan September.
”India tidak bisa begitu saja meninggalkan Rusia karena hubungan pertahanannya yang mendalam, pertanyaan tentang keseimbangan kekuatan regional, dan logika multi-aliansi,” kata Mohan.
Chietigi Bajpayee, yang mempelajari Asia Selatan di Chatham House di London, Inggris, mengatakan, India dan Brasil memandang BRICS terutama melalui sudut pandang ekonomi, yaitu untuk mendorong distribusi kekuasaan yang lebih adil dalam sistem internasional. Sementara China dan Rusia melihatnya lebih sebagai forum geopolitik.
Peserta utama lain dalam KTT BRICS adalah Turki yang telah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan kelompok ini. Di sisi lain, Turki juga anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bersama AS dan negara-negara Barat. Selain itu, Turki juga ingin bergabung ke Uni Eropa (UE).
Pembicaraan keanggotaan Turki di UE telah terhenti sejak 2016. Hal ini seiring perselisihan dengan Siprus dan kekhawatiran atas hak asasi manusia. Hubungan Turki dengan Washington juga tegang sejak Turki didepak dari program jet tempur F-35.
Dikeluarkannya Turki dari program jet tempur F-35 setelah Turki menerima sistem pertahanan rudal Rusia. Erdogan juga kerap menuduh AS dan sekutu Barat lainnya secara terbuka atas dugaan keterlibatan dalam tindakan militer Israel di Gaza.
”Keanggotaan di BRICS akan membantu Erdogan memperkuat posisinya sendiri di saat hubungan dengan Barat sedang lemah,” kata Gonul Tol, Direktur Program Turki di Middle East Institute yang berbasis di AS. (AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul Hadi