Putin: Iran Punya Hak Kembangkan Nuklir Damai

Pernyataan itu terungkap dalam pembicaraan telepon antara Presiden Putin dan Presiden Macron yang berlangsung dua jam.

02 Jul 2025 10:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

MOSKWA, RABU — Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan kepada Presiden Perancis Emmanuel Macron bahwa Iran memiliki hak untuk mengembangkan program nuklir damai. Putin dan Macron juga menyepakati konflik atas program nuklir Iran dan konflik Timur Tengah lainnya harus diselesaikan secara eksklusif melalui cara diplomatik.

Hal tersebut terungkap dalam transkrip pembicaraan telepon kedua presiden yang dilihat AFP, Selasa (1/7/2025). Pembicaraan kedua pemimpin ini merupakan pembicaraan pertama kalinya setelah hampir tiga tahun. Pembicaraan keduanya juga berlangsung tepat sepekan setelah gencatan senjata dimulai untuk mengakhiri konflik 12 hari antara Israel dan Iran.

Euronews melaporkan, pembicaraan terkait Iran dengan Putin dilakukan setelah Macron mendesak Iran untuk meredakan ketegangan kawasan. Macron meminta Iran beralih ke pengayaan nol uranium dalam program nuklirnya.

Sebelumnya, saat perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran belum mencapai sepakat, Israel menyerang Iran pada 13 Juni 2025. Serangan itu dinyatakan Israel sebagai tindakan pendahuluan untuk mencegah ancaman eksistensial dari Teheran yang dinilainya semakin meningkat.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyampaikan, pengayaan uranium Iran dalam program nuklirnya sudah mendekati level senjata nuklir. Israel tidak menginginkan Iran memiliki senjata nuklir.

Iran membalas serangan Israel dan konflik terbuka Israel-Iran berlangsung sekitar 12 hari. Berikutya, AS turut menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, kemudian menyerukan gencatan senjata.

Iranians check an Iranian Red Crescent ambulance that was destroyed during an Israeli strike, displayed in Tehran on June 23,2025. Israel struck Tehran and Iran fired missiles on June 23, as the war between the longtime foes raged for its 11th day after the United States sent bombers to attack the Islamic republic's nuclear sites. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Dalam pembicaraan kedua presiden terkait Iran, Macron menyarankan Moskwa dan Paris bekerja sama untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Layanan Pers Kremlin menyebutkan, Putin mengatakan perlunya untuk menghormati hak Iran. Tepatnya, hak Iran atas pengembangan energi nuklir secara damai serta kepatuhan Iran yang berkelanjutan terhadap kewajibannya berdasarkan perjanjian nonproliferasi nuklir (NPT).

Sementara Kantor Presiden Perancis mengatakan, Macron melihat ancaman nuklir Iran cukup serius. Hal itu membenarkan keterlibatan kelima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dalam isu ini. Macron juga menekankan perlunya Iran untuk bekerja sama sepenuhnya dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

”Kedua pemimpin tersebut memiliki kekhawatiran yang sama, sebagai anggota DK PBB, yaitu menjaga rezim nonproliferasi nuklir global,” ujar Kremlin melalui pernyataan resmi dan dikutip The New York Times.

Bulan lalu, Parlemen Iran menyetujui RUU untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA, pengawas nuklir PBB. Penangguhan dilakukan setelah Israel dan AS mengebom fasilitas nuklir Iran.

Pengeboman dilakukan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Iran membantah upaya memiliki senjata nuklir itu.

”Macron menyatakan tekadnya untuk mencari solusi diplomatik yang akan mengarah pada penyelesaian masalah nuklir, masalah rudal Iran, dan perannya di kawasan itu,” kata Kantor Kepresidenan Perancis.

Rusia, sama seperti Perancis, adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Rusia memiliki hubungan baik dengan para pemimpin Iran. Rusia pun sudah lama mendesak solusi diplomatik untuk membuka kebuntuan atas program nuklir Iran.

Menurut keterangan Kantor Kepresiden Perancis, kedua presiden itu sepakat bahwa konflik atas kegiatan nuklir Iran dan konflik Timur Tengah lainnya harus diselesaikan secara eksklusif melalui cara diplomatik. ”Kedua presiden memutuskan untuk mengoordinasikan upaya mereka dan berbicara segera untuk menindaklanjuti masalah ini bersama-sama,” ujar Kantor Kepresidenan Perancis.

Petugas pemadam kebakaran memeriksa lokasi yang terkena serangan rudal Iran yang menewaskan beberapa orang, di Beersheba, Israel, pada hari Selasa, 24 Juni 2025.

Ukraina-Rusia

Dalam pembicaraan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut, selain membahas soal Iran, Macron dan Putin juga membahas tentang Ukraina. Pembicaraan itu terjadi saat upaya diplomatik untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia terhenti.

Bahkan, pertempuran antara Rusia-Ukraina masih berkecamuk saat pembicaraan dua presiden terjadi. Pesawat nirawak Ukraina menghantam kota Izhevsk di Rusia pada hari Selasa.

”Serangan Ukraina itu menewaskan tiga orang dan melukai puluhan orang dalam salah satu serangan terdalam di Rusia selama konflik tersebut,” kata pihak berwenang.

Pasukan Rusia membalas dengan menyerang kota Guliaipole di wilayah Dnipropetrovsk di Ukraina tengah. ”Serangan Rusia menimbulkan korban dan kematian,” kata pasukan pertahanan selatan Ukraina tanpa menyebutkan jumlah korban.

Kepada Macron, Putin menegaskan, ”Perang Rusia-Ukraina merupakan akibat langsung dari kebijakan Barat yang telah mengabaikan kepentingan keamanan Rusia selama beberapa tahun terakhir.”

Kremlin yang mengutip Putin menyampaikan, ”Setiap kemungkinan perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina harus memiliki karakter komprehensif dan jangka panjang, serta didasarkan pada realitas teritorial baru.”

Putin mengatakan, Ukraina harus menerima aneksasi Rusia atas sebagian wilayahnya sebagai bagian dari setiap kesepakatan damai. Macron mengatakan, Ukraina sendiri yang harus memutuskan apakah akan menerima konsesi teritorial atau tidak.

Selama pembicaraan telepon tersebut, Kantor Kepresidenan Macron mengatakan, ”Presiden menekankan dukungan Perancis yang tak tergoyahkan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.”

Terkait Ukraina, Macron sudah mencoba memperingatkan Putin agar tidak menginvasi Ukraina melalui serangkaian panggilan telepon pada tahun 2022. Di awal tahun 2022, Macron bahkan melakukan perjalanan ke Moskwa.

Communal workers and local residents stand next to burnt cars in the courtyard of a building damaged as a result of a drone attack in Odesa on March 4, 2025. European Commission chief said presented a five-part plan to mobilise some 800 billion euros for Europe's defence -- and help provide "immediate" military support for Ukraine after Washington suspended aid on March 5, 2025. (Photo by Oleksandr GIMANOV / AFP)

Macron terus melakukan kontak telepon dengan Putin setelah invasi. Akan tetapi, pembicaraan kemudian terhenti, dengan panggilan telepon terakhir antara kedua presiden terjadi pada September 2022.

Selama setahun terakhir, Macron menunjukkan sikap tegas terhadap Rusia. Macron mengatakan, ekspansionisme Rusia merupakan ancaman bagi seluruh Eropa. Dalam tiga tahun perang, tentara Rusia telah menghancurkan sebagian wilayah Ukraina timur dan selatan. Rusia juga merebut sebagian besar wilayah Ukraina.

Menurut Kantor Kepresidenan Perancis, Macron dan Putin bermaksud untuk melanjutkan diskusi mereka tentang Ukraina dan Iran. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto