Putin Berkelit Soal Tentara Korea Utara

Presiden Rusia Vladimir Putin hanya menyebut kesepakatan Rusia-Korea Utara yang akan saling bantu dalam perang.

25 Okt 2024 21:55 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan - [email protected]

KAZAN, JUMAT — Presiden Rusia Vladimir Putin tak mau menjawab soal kehadiran tentara Korea Utara di Rusia. Ia malah menyebut Amerika Serikat dan sekutunya sengaja memancing perang dengan Rusia.

Pertanyaan soal tentara Korut disampaikan jurnalis NBC, Keir Simmons, pada Kamis (24/10/2024) malam waktu Kazan, Rusia atau Jumat dini hari WIB. Simmons menanyakan dalam konferensi pers selepas penutupan KTT BRICS.

”Pak Presiden, citra satelit disebut menunjukkan tentara Korea Utara di sini, Rusia. Apa yang mereka lakukan dan tidakkah hal itu bisa menjadi eskalasi besar-besaran perang Ukraina?” ujar Simmons.

Putin tidak menjawab tegas soal itu. ”Citra adalah hal serius. Jika citra ada, maka menandakan sesuatu,” kata dia.

Ia malah menyalahkan Amerika Serikat dan sekutunya soal perang Ukraina. Ia menyebut AS mendanai kudeta di Ukraina. Dana itu, menurut Putin, diumumkan secara terbuka.

Ia juga menyebut Eropa Barat mengecoh Rusia bertahun-tahun dengan kedok perdamaian. Selama periode itu, Ukraina dipersenjatai agar bisa melawan Rusia. Mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel, memang menyiratkan itu dalam wawancara pada Desember 2022.

Selama perang, AS dan sekutunya secara terbuka mempersenjatai Ukraina. Sebagian senjata itu dipakai menyerang jauh ke wilayah Ukraina. Anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kata Putin, membantu Ukraina menggunakan senjata itu.

”Tentara Ukraina tidak bisa melaksanakan operasi itu tanpa pengintaian antariksa, penanda target, dan perangkat lunak dari Barat. Membutuhkan keterlibatan langsung perwira anggota NATO,” ujarnya.

Ia juga menyebut, Korsel-Rusia punya perjanjian kemitraan strategis. ”Ada pasal 4 dan kami tidak ragu fakta pemimpin RDKK (nama resmi Korut, Republik Demokratik Kerakyatan Korea) amat serius pada kesepakatan kami,” ujarnya.

(FILES) A man walks past a newspaper displayed on a street for the public in Seoul on October 21, 2024, with coverage on North Korea's decision to deploy thousands of soldiers to Ukraine's front lines and a photo (C) of North Korean leader Kim Jong Un and Russia's President Vladimir Putin toasting at a banquet in Pyongyang earlier this year. North Korea has sent 1,500 more soldiers to Russia, Seoul's spy agency told lawmakers on October 23, 2024, with 10,000 troops expected to be deployed by December. (Photo by Anthony WALLACE / AFP)

Pasal itu menetapkan, Rusia-Korsel harus saling bantu kalau salah satu dari mereka diserang. Bantuan militer dan lainnya disediakan sesegera mungkin. Pengerahan bantuan diselaraskan dengan hukum di kedua negara dan pasal 51 pada Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.

Pasal 51 mengatur hak negara untuk membela diri dari serangan pihak lain. Pembelaan diri harus dilaporkan ke Dewan Keamanan PBB.

Tudingan

Amerika Serikat pada Rabu (23/10/2024) mengatakan punya bukti soal 3.000 tentara Korut di Rusia. Tentara itu dikirim bertahap sejak awal Oktober 2024. Para tentara itu ditempatkan di sejumlah tempat latihan di Rusia.

Sementara menurut Ukraina, tentara Korut tersebut sudah berada di wilayah Kursk. Sebagian wilayah provinsi Rusia yang berbatasan dengan Ukraina itu sudah beberapa bulan diduduki Ukraina.

Sementara diplomat pada Perwakilan Tetap Korut untuk PBB di New York menyangkal tudingan itu. Menurut diplomat yang tidak diungkap identitasnya itu, tudingan itu tidak berdasar.

Putin mengatakan, tentara Rusia terus bergerak di medan laga. Bahkan, Kursk yang diserang Ukraina mulai direbut lagi. Ia mengklaim, tentara Ukraina di Kursk sedang dikepung.

Menyikapi pengiriman pasukan Korut, Korsel menyatakan sedang menimbang ulang pengiriman persenjataan ke Ukraina. Selama ini, Korsel hanya memberikan perlengkapan militer selain senjata dan amunisi. Ke depan, Seoul bisa saja memberi Kyiv senjata.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada