Saat tim lain hanya menyisakan kenangan dan nama besar, Putri Mataram tetap bertahan. Lebih dari setengah dekade, tim asal Sleman ini melampaui keterbatasan.
31 Okt 2024 20:18 WIB · Olahraga
Stadion Diponegoro, Semarang, dipenuhi sekitar 5.000 penonton yang didominasi perempuan. Remaja putri sampai ibu-ibu ramai-ramai datang ke stadion untuk menyaksikan Putri Mataram berlaga melawan sesama tim sepak bola putri dari Yogyakarta, Srikandi Mataram.
Pada laga berdurasi 2x30 menit, Sabtu (14/4/1979) itu, kedua tim saling bergantian menyerang. Dalam laporan Kompas disebutkan, para pemain kerap salah posisi, tetapi mereka seolah tidak pernah lelah. Putri Mataram akhirnya terpaksa harus mengakui keunggulan Srikandi dengan skor 1-2.
”Para penonton bertanya ketika melangkah pulang, kapan Semarang punya klub sepak bola wanita seperti Yogyakarta?” tulis Kompas.
Lebih dari setengah dekade berlalu sejak momen itu, Putri Mataram masih eksis. Tim ini hadir melalui wajah-wajah baru yang antara lain berlarian mengejar bola di Lapangan Kadipiro, Bantul, Senin (28/10/2024) sore. Yang membedakan, mereka tidak lagi melakoni laga persahabatan dengan Srikandi, melainkan Sekolah Sepak Bola (SSB) Mitra Ngestiharjo yang isinya lelaki semua.
Kendati mempertemukan tim putra dan putri, pertandingan nyaris tak memperlihatkan adanya perbedaan kualitas permainan. Pertandingan justru berjalan ketat sampai akhirnya menjelang akhir 3x45 menit, Putri Mataram kebobolan. Laga rampung dengan kekalahan Putri Mataram, 0-1.
Pasang Budy All Shodiq, penulis buku Wanita dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia 1969-1998, mengatakan, Putri Mataram merupakan pelopor sepak bola putri di Yogyakarta dan Jawa bagian tengah. Tim ini diketahui sudah berdiri sejak 17 Juli 1971. Kehadirannya turut memantik kemunculan tim-tim lain, termasuk Srikandi Mataram, Putri Pagilaran (Pekalongan), dan Putri Mojolaban (Sukoharjo).
Hanya berselang tiga tahun setelah laga persahabatan dengan Srikandi Mataram, Putri Mataram mengikuti turnamen sepak bola putri resmi pertama PSSI, yakni Invitasi Liga Sepak Bola Wanita atau dikenal sebagai Galanita edisi perdana pada 21-31 Oktober 1982. Putri Mataram merupakan satu dari total sembilan tim yang mengikuti turnamen yang memperebutkan Piala Ibu Tien Soharto ini.
Putri Mataram tergabung ke dalam Grup B bersama Putri Priangan Bandung dan Putri Cendrawasih Papua. Di Grup A, ada Buana Putri Jakarta, Angin Mamiri Makassar, dan Putri Mojolaban Sukoharjo. Sementara itu, Grup C terdiri dari Putri Pagilaran Pekalongan, Putri Jaya Jakarta, dan Putri Setia Surabaya.
Delapan klub lain kini hanya tersisa nama dan kenangan akan kejayaan masa silam, termasuk Putri Priangan dan Buana Putri. Padahal, kedua tim tersebut dominan dan kerap bergantian merengkuh gelar di beberapa turnamen dan kejuaraan.
Putri Priangan dan Buana Putri sama-sama lahir dengan adanya sokongan dari entitas yang lebih besar. Pasang menyebut, Putri Priangan mendapatkan dukungan dari Persib Bandung, sedangkan Buana Putri meraih sokongan dari perusahan koran Berita Yudha yang berganti nama jadi Berita Buana.
Berbeda dengan kedua tim itu, Putri Mataram lahir dari orang-orang yang terkumpul untuk membangun sepak bola putri di Yogyakarta. Pembiayaan tim pun dikelola secara mandiri, baik melalui iuran maupun berasal dari donatur.
”Banyak tangan yang berusaha menjaga dan membuat Putri Mataram tetap ada,” ujar mantan pemain Putri Mataram, Anggar Kaswati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/27/9f9c983a-0ff5-49c1-9ef0-e323f6aaa2db_jpg.jpg)
Anggar merujuk pada sejarah pembentukan Putri Mataram yang juga merupakan inisiatif bersama. Ini sejalan dengan tulisan Pasang Budi All Shodiq yang menyebutkan setidaknya ada empat pendiri Putri Mataram, yakni Darsono—yang kemudian jadi pelatih, Karno, Sudarini, dan Sri Ristinah—yang menjadi pemain sekaligus pengelola klub hingga akhir hayatnya.
Anggar mengatakan, perjalanan selama bertahun-tahun turut ”menjaga” Putri Mataram tidaklah mudah. Ada beragam tantangan yang datang, terutama setelah masa ”keemasan” sepak bola putri berlalu pada akhir 1990-an.
Ketika awal kemunculan Putri Mataram, klub tidak terlalu pusing dengan pendanaan. Setiap turnamen bersifat undangan dan seluruh biaya akomodasi sudah ditanggung penyelenggara. Turnamen pun ada banyak, jika tidak bisa dikatakan melimpah.
Antusiasme penonton juga tinggi, bahkan menyaingi sepak bola putra. Tak mengherankan, penyelenggara berani memasang harga tiket melebihi pertandingan sepak bola putra. ”Stadion selalu penuh, ramai sekali waktu itu. Di mana-mana sama, mau di Jawa ataupun luar Jawa seperti Manado atau Lampung,” tutur Anggar, dosen Pendidikan Sejarah di IKIP PGRI Wates, Kulon Progo, DIY.
Namun, setelah itu, turnamen kian sedikit. Sekalipun ada turnamen, biaya akomodasi harus ditanggung oleh peserta. Pengurus tim harus pintar-pintar mencari dana, bahkan tak jarang mereka mengeluarkan uang dari kocek pribadi.
Sepak bola putri juga mulai kalah pamor dengan futsal. Tidak sedikit pemain yang beralih ke olahraga yang punya prinsip nyaris sama dengan sepak bola, tetapi bisa dimainkan di ruangan tertutup dengan jumlah orang lebih sedikit.
”Ya, ujungnya tetap bertahan karena mungkin sudah senang, ya. Apalagi, kalau ada anak asuhan yang bisa punya karier yang baik, bahkan bisa menembus timnas,” tutur Anggar yang selanjutnya menyebut beberapa nama jebolan Putri Mataram yang bisa memperkuat Yogyakarta dan Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/27/1def2785-3e55-41af-aad7-e4c2bfda856d_jpg.jpg)
Salah satu pemain Putri Mataram yang bisa menembus timnas adalah Tugiyati Cindy. Dia telah memperkuat timnas Indonesia sejak 2004. Namanya bahkan masih ada di dalam daftar pemain timnas ketika tampil di Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
Pada 2005, Anggar tidak lagi terlibat dalam kepengurusan Putri Mataram yang kini berlatih di Lapangan Nogotirto, Sleman. Klub itu lantas dikelola oleh Sri Hastuti yang juga menjadi juru taktik tim sampai saat ini.
”Tantangannya jelas banyak, dari eksternal hingga internal. Eksternal meliputi tidak ada kompetisi dan tidak ada dukungan dari pihak terkait. Anak-anak, kan, kasihan kalau latihan tanpa pernah diuji di pertandingan. Ini berpengaruh ke tantangan internal seperti persoalan dana ketika mengajak anak-anak ke luar daerah untuk merasakan turnamen,” tutur Sri Hastuti yang biasa dipanggil Itut ini.
Pada tahun ini, misalnya, hanya ada satu turnamen sepak bola putri di Yogyakarta, yaitu Piala Pertiwi regional yang bersifat wajib digelar setiap daerah. Pemenang turnamen akan mewakili Yogyakarta untuk bertanding di Piala Pertiwi nasional.
Selain itu, tidak ada turnamen lain untuk kelompok umur U-15 sampai senior. Berbeda dengan kota lain yang juga punya ikatan kuat dengan sepak bola, seperti Bandung yang memiliki Liga Putri U-17. Selain itu, Surabaya juga baru saja mengawali gelaran Liga Putri Surabaya pada 27 Oktober lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/31/89c6d1bb-3361-451c-91c6-130449f6bf04_jpg.jpg)
”Meski kadang berat, biar klub ini tetap bertahan, kami tetap usahakan ikut turnamen di luar. Semua bahu-membahu, mulai dari pelatih, pemain, sampai orangtua. Kalau tidak kami, siapa lagi yang mau mempertahankan klub ini?” tutur Itut.
Pemain Putri Mataram, Amelia Diah Handayani (19), memahami jika klub tersebut harus dirawat secara bersama-sama. Amelia telah berlatih dengan klub tersebut sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kini, mahasiswa semester tiga salah satu kampus negeri di Yogyakarta ini tetap berlatih bersama Putri Mataram bukan hanya sekadar untuk terus meningkatkan kemampuan di lapangan.
”Ini juga mungkin bentuk balas budi saya ke klub dan pelatih yang sudah memberi saya banyak hal sejak kecil,” tutur Amelia.
Di tengah sunyi turnamen dan ramainya tantangan zaman, Putri Mataram tetap bertahan. Klub ini seperti cahaya yang menolak padam, menjaga nyala harapan sepak bola putri di ”Tanah Mataram”. Entah sampai kapan….
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko Prihananto