Sejak lama, kemampuan nuklir Israel tidak diawasi. Padahal, Israel dan sekutunya selalu mendesak pengawasan terhadap kemampuan nuklir negara lain
10 Mar 2025 09:19 WIB · Internasional
Kepemilikan senjata nuklir Israel kembali disorot. Kali ini, Qatar mendesak Badan Tenaga Atom Internasional dan lembaga terkait mengawasi senjata itu. Setidaknya sejak 1967, Israel telah memiliki bom nuklir.
Berulang kali Israel mengancam akan menggunakannya. Walau tahu soal itu, Amerika Serikat tidak garang pada Israel. Berbeda dengan sikap AS terhadap Iran atau Korea Utara.
Desakan terbaru pengawasan terhadap senjata nuklir Israel disampaikan Wakil Tetap Qatar di Vienna, Jassim Yacoub Al Hammadi. Dalam sidang Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Sabtu (8/3/2025) di Vienna, Al Hammadi menekankan bahwa seluruh negara di Timur Tengah telah meneken Traktat Antipenyebaran Senjata Nuklir (NPT). Cuma Israel tidak meneken traktat itu.
Komunitas internasional, lanjut Al Hammadi, perlu menjunjung resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa, Majelis Umum PBB, IAEA, dan Rekomendasi Kajian NPT 1995. Seluruh dokumen itu mendesak persenjataan nuklir Israel diawasi IAEA. Bahkan, sebagian dokumen mendesak Israel meneken NPT dengan menjadi negara tanpa senjata nuklir.
Desakan Al Hammadi mengangkat lagi isu yang telah puluhan tahun dibahas. Meski telah diverifikasi sejumlah dokumen intelijen maupun pihak-pihak yang terlibat, Israel tidak pernah mau secara resmi mengakui memiliki senjata nuklir.
Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, dalam pernyataan Juni 2024, Israel diyakini punya setidaknya 90 hulu ledak nuklir. Sementara Koalisi Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir (ICAN) menyebut, Israel bisa meluncurkan bom nuklir dengan rudal darat, laut, dan udara.
ICAN menyebut, banyak negara berpura-pura tak tahu soal bom nuklir Israel. ICAN menekankan, pelucutan senjata nuklir Israel penting untuk perdamaian di Timur Tengah.
"Menganilisis persenjataan nuklir Israel penuh dengan ketidakpastian. Bukan cuma karena Israel tidak secara resmi mengakui punya senjata nuklir. Pengetahuan terbaik kami, berdasarkan citra satelit, perangkat peluncuran, dan bahan bakar, mereka punya cadangan setidaknya 90 hulu ledak," kata Matt Korda.
Ia salah satu peneliti pada Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika (FAS). Lembaga itu salah satu institusi yang rutin mengaji cadangan senjata nuklir berbagai negara, termasuk milik AS dan Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/02/67d0fb08-2ee5-4a75-aef6-7934f82847e1_png.png)
Israel telah berulang kali mengancam menggunakan senjata nuklirnya. Salah satu ancaman dikeluarkan pada 2023 oleh Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu. Ia menyebut, mengebom Gaza dengan nuklir merupakan salah satu pilihan. Sejumlah anggota parlemen Israel berpendapat senada.
Pada pertengahan 1999, dalam wawancara dengan Avner Cohen, mendiang Brigadir Jenderal (Purn) Itzhak Yaakov mengungkap bahwa Israel telah memiliki bom nuklir sejak 1967. Kala itu, Israel sedang berperang dengan tetangganya.
Yaakov menghabiskan karir militernya di unit penelitian pada militer Israel, tzahal alias IDF. Ia terlibat dalam pembuatan bom atom Israel selama bertahun-tahun.
Setahun setelah wawancara dengan Cohen itu terbit, pada usia 75 tahun, Yaakov ditangkap. Ia dituding mengancam keamanan nasional karena kembali membahas senjata nuklir Israel.
Pada 2001, ia diwawancara jurnalis Israel, Ronen Bergman, soal kemampuan nuklir Israel. Seperti Yaakov, Cohen dan Bergman sama-sama yahudi.
Dalam dokumen terpisah milik FAS, pembuatan bom nuklir Israel pada 1967 itu juga disebut. Menurut dokumen FAS, Perdana Menteri Levi Eshkol memerintahkan pembuatan bom itu.
Dokumen FAS juga menyebut, Israel membuat 13 bom atom berdaya masing-masing 20 kiloton. Sebagai pembanding, bom atom yang dijatuhkan AS ke Nagasaki, Jepang pada 1945 berdaya 21 kiloton.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/01/04/20220104-HKT-AFP-Nuklir-mumed-01_1641303627_jpg.jpg)
Masih menurut FAS, AS tahu program bom atom Israel setidaknya sejak 1958. Kala itu, pesawat intai U-2 AS terbang di atas Gurun Negev dan menangkap citra awal reaktor nuklir Dimona. Pada Desember 1960, PM David Ben-Gurion mengakui Israel punya reaktor Dimona yang dibuat untuk keperluan damai.
Nyaris bersamaan dengan pengakuan Ben-Gurion, Badan Intelijen Pusat (CIA) AS menerbitkan kajian soal kemampuan nuklir Israel. Menurut CIA, Israel telah mampu membuat bom nuklir. Setidaknya tujuh kali AS mengirim tim untuk memeriksa reaktor Dimona pada 1960.
Mantan Duta Besar AS di Tel Aviv, Walworth Barbour, mengakui tidak melaporkan perkembangan kemampuan nuklir Israel ke Presiden AS. Bahkan, selepas Perang Enam Hari pada 1967, ia melarang atase intelijen AS di Israel mengumpulkan data soal perkembangan reaktor Dimona.
Ia berkilah, tak mau membuat presiden gelisah. Informasi soal perkembangan bom nuklir Israel pada awal dekade 1960-an disebut sengaja disimpan oleh birokrat AS.
Dalam memo Penasihat Keamanan Nasional AS ke Presiden AS pada Oktober 1969 disebut, Washington perlu memeriksa kemampuan nuklir Tel Aviv. Pemeriksaan itu untuk kestabilan Timur Tengah.
Media Inggris, London Sunday Times, pada 1986 menyiarkan artikel dan foto soal bom nuklir Israel yang disimpan di rubanah reaktor Dimona. Mantan teknisi nuklir Israel, Mordechai Vanunu, memasok informasi dan foto tersebut.
Berdasarkan informasi itu, pakar di berbagai negara menaksir Israel punya hingga 200 hulu ledak nuklir. Israel juga disebut bisa menghasilkan 40 kilogram bahan baku bom nuklir setiap tahun.
Hulu ledak itu bisa dipasang di rudal Jericho-1 dan Jericho-2. Israel juga bisa meluncurkan hulu ledak lewat kapal selam dan pesawat pengebom.
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari