Kurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Dampak positif kurban memang tidak berhenti di kandang ternak. Gelombang permintaan hewan kurban menggerakkan berbagai sudut ekonomi lokal.

02 Jun 2025 08:30 WIB · Artikel Opini

Oleh Latif Adam

Idul Kurban bukan hanya ibadah spiritual, melainkan juga motor ekonomi rakyat yang kerap luput dari perhatian. Setiap tahun, perayaan ini menggerakkan sektor peternakan, logistik, dan UMKM, serta memperkuat solidaritas sosial melalui distribusi daging kepada masyarakat rentan.

Di balik aktivitas penyembelihan hewan di masjid-masjid, terjadi perputaran triliunan rupiah, penyerapan tenaga kerja, dan munculnya peluang usaha bagi UMKM, mulai dari pengolahan hingga produk kerajinan dari kulit.

Meskipun ada tantangan seperti inflasi harga ternak dan masalah limbah organik, dampak positifnya terhadap sektor riil dan pemerataan ekonomi jauh lebih signifikan. Dengan demikian, Idul Kurban idealnya dipandang lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah kekuatan sosial-ekonomi yang menyentuh banyak aspek kehidupan, membuka akses pangan bagi masyarakat miskin, dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Dampak nyata

Dalam dua tahun terakhir, pasokan hewan kurban tumbuh rata-rata 11,1 persen per tahun. Jika tren ini berlanjut, kebutuhan kurban pada 2025 diperkirakan 2,2–2,4 juta ekor, dengan nilai ekonomi Rp 27 triliun-Rp 60 triliun.

Ini mencerminkan besarnya kontribusi Idul Kurban terhadap sektor peternakan dan ekonomi syariah. Di tengah lesunya pertumbuhan sejumlah sektor, Idul Kurban diharapkan menjadi bukti bahwa konsumsi berbasis keagamaan mampu menciptakan efek berantai yang nyata bagi ekonomi riil.

Dampak positif kurban memang tidak berhenti di kandang ternak. Gelombang permintaan hewan kurban menggerakkan berbagai sudut ekonomi lokal. UMKM ikut menikmati lonjakan omzet dari beragam layanan turunan, seperti jasa pengemasan daging, penyewaan alat potong, hingga katering dan kuliner berbasis daging.

Aktivitas jual beli hewan kurban di Pasar Hewan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (26/5/2025). Pasar hewan yang beroperasi sejak 1969 tersebut sudah mulai ramai meski Idul Adha masih sebelas hari lagi, yakni pada 6 Juni 2025. Domba dengan berat 25-30 kilogram laku dijual Rp 2,5 juta per ekor. Pasar hewan terbesar kedua di Jawa barat setelah Purwakarta ini dalam seminggu buka dua kali, yakni Senin dan Kamis. Hari Senin khusus jual beli domba dan kambing, sedangkan hari Kamis jual beli semua hewan kurban mulai sapi, kerbau hingga domba dan kambing.


KOMPAS/AGUS SUSANTO
26-5-2025

Momen Idul Kurban menjadi roda penggerak rezeki kolektif, di mana warung, tukang sablon, hingga penyewaan tenda ikut kecipratan berkah. Ini bukti nyata bahwa tradisi keagamaan bisa menggerakkan ekonomi rakyat jika dikelola dengan semangat pemberdayaan.

Data Kementerian (Koperasi dan) UKM (2023) mencatat peningkatan signifikan. Usaha kemasan daging tumbuh 40 persen, sementara penyewaan tenda dan peralatan pemotongan naik 25 persen. Di sisi lain, lonjakan aktivitas logistik dan transportasi hewan menyerap ribuan pekerja musiman.

Dengan demikian, Idul Kurban bukan sekadar musim panen bagi peternak di NTB, Jawa Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan, yang pendapatannya bisa melonjak hingga 50 persen, melainkan juga momentum pertumbuhan bagi ekosistem ekonomi kreatif dan jasa pendukung di daerah-daerah.

Di wilayah miskin, distribusi daging kurban bukan sekadar soal berbagi, melainkan menjadi intervensi gizi nyata. Bagi banyak keluarga prasejahtera, daging yang biasanya langka mendadak tersedia dalam jumlah cukup, meningkatkan asupan protein, menurunkan risiko stunting, dan memperbaiki kualitas hidup, meski sementara.

Lebih dari itu, momen ini membangun kepercayaan sosial. Warga miskin merasa dilibatkan, dihargai, dan tidak ditinggalkan. Solidaritas yang biasa jadi slogan, saat Idul Kurban menjelma jadi aksi kolektif yang nyata dan bermakna.

Menariknya, kurban kini makin digital, mengubah cara beribadah sekaligus menggerakkan ekonomi. Lewat platform seperti Kitabisa, Dompet Dhuafa, dan Ayopay, masyarakat cukup sekali klik, hewan dibeli, disembelih, dan dagingnya dikirim hingga pelosok Papua atau pedalaman NTT.

Menurut Baznas (2024), nilai transaksi kurban digital diperkirakan tembus Rp 2 triliun. Ini bukan sekadar soal kepraktisan kaum urban, melainkan juga perluasan akses, pemerataan distribusi, dan efisiensi. Kurban digital menunjukkan bahwa teknologi bisa menjembatani niat baik dengan dampak sosial nyata.

Namun, lonjakan transaksi digital ini tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa pengawasan. Tanpa tata kelola yang memadai, digitalisasi filantropi justru bisa menjadi ruang abu-abu, rawan manipulasi harga, kualitas hewan tak terjamin, dan distribusi yang tak tepat sasaran. Di sinilah peran negara, khususnya Kementan, Kemenag, Kemenkomdigi, dan Baznas, menjadi krusial agar inovasi tetap amanah, akuntabel, dan berpihak kepada publik.

Pekerjaan rumah

Untuk mengoptimalkan potensi kurban, dibutuhkan langkah terpadu. Pertama, Indonesia masih bergantung pada impor sapi, padahal potensi lokal belum dimaksimalkan. Pemerintah idealnya tidak lagi hanya sekadar mewacanakan swasembada pangan, tetapi harus hadir nyata memperkuat peternakan rakyat, mulai dari menyediakan subsidi pakan yang terjangkau, pelatihan teknis yang mudah diakses, hingga asuransi ternak agar peternak kecil terlindungi dari gejolak harga dan wabah.

Di sisi lain, koperasi peternak dan BUMDes idealnya didorong menjadi simpul penggerak ekonomi lokal, yang bisa menyatukan rantai pasok, memfasilitasi akses modal, serta menjaga agar keuntungan kurban tidak hanya menetes ke segelintir pemain besar, tetapi betul-betul menghidupi desa. Kurban sebaiknya tidak dimanfaatkan sebagai ladang keuntungan oleh importir, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat kemandirian peternak lokal

Kedua, limbah kurban tak seharusnya berakhir sebagai sampah. Kulit, tulang, hingga darah hewan bisa diolah menjadi produk bernilai, seperti kerajinan, pakan, atau pupuk organik. Sayangnya, potensi ini kerap terabaikan karena minimnya pendampingan dan akses modal bagi UMKM. Padahal, jika dikelola dengan baik, pengolahan limbah bisa membuka lapangan kerja, menekan pencemaran, dan mendorong ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.

Ketiga, kurban perlu diposisikan sebagai instrumen ekonomi yang mendorong keadilan dan inklusi. Lebih dari sekadar ritual tahunan, kurban dapat menjadi sarana distribusi ulang sumber daya. Integrasi dana zakat, CSR, dan pembiayaan seperti sukuk kurban dapat dimanfaatkan untuk memperkuat peternakan rakyat, mendukung UMKM, dan menyalurkan makanan bergizi ke wilayah miskin. Jika dikelola secara profesional dan transparan, kurban tidak hanya simbol solidaritas sosial, tetapi juga instrumen keadilan yang berdampak sepanjang tahun.

Dengan tata kelola yang baik, dukungan kebijakan yang berpihak, dan kolaborasi lintas sektor, baik dari negara, pelaku usaha, maupun masyarakat, potensi kurban dapat dioptimalkan menjadi kekuatan transformasional yang bekerja sepanjang tahun. Lebih dari sekadar ritus keagamaan, kurban menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis gotong royong yang berkeadilan, tidak hanya menyejahterakan, tetapi juga memanusiakan.

Latif Adam; Peneliti Ekonomi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Ketua Yayasan Masjid Asy Syifaa VNI 2-Bojong Kulur, Bogor


Kerabat Kerja

Penulis:

Latif Adam
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul