TIMUR TENGAH

Rafah Segera Dibuka, Harap-harap Cemas Warga Gaza

Israel segera membuka pintu pelintasan Rafah yang menghubungkan Gaza-Mesir. Akan tetapi, jumlah pelintas sangat dibatasi hanya 50 orang per hari.

29 Jan 2026 12:58 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

GAZA, KAMIS — Pintu pelintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dan Mesir akan dibuka dalam beberapa hari. Warga Palestina di Gaza menanti dengan harap-harap cemas dibukanya jalur penting bagi kehidupan mereka.

Bagi mereka, penyeberangan perbatasan Rafah adalah gerbang menuju dunia. Namun, sejak Israel merebutnya pada Mei 2024, penyeberangan itu telah ditutup.

Kantor berita Associated Press, Kamis (29/1/2026), mengutip pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebutkan, penyeberangan Rafah segera dibuka seiring gencatan senjata Hamas-Israel memasuki fase kedua.

Harapan warga Palestina pun meningkat, terutama mereka yang terluka akibat perang dan ingin mendapatkan perawatan medis di luar negeri. Begitu pula puluhan ribu orang di luar Gaza yang ingin kembali ke rumah.

Namun, mereka mesti berhadapan dengan kontrol ketat dari Israel. Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan Netanyahu, hanya 50 warga Palestina yang akan diizinkan melewati penyeberangan Rafah setiap hari. Di luar itu, tidak ada barang yang akan masuk dari penyeberangan untuk saat ini.

Hanya Rafah yang membuka Gaza ke wilayah luar melalui Mesir. Semua penyeberangan perbatasan Gaza yang lain berada di Israel.  

Sebelum perang, setiap hari ada ratusan warga Gaza melintas ke Mesir melalui penyeberangan Rafah. Hingga Rabu (28/1/2026) sudah 30.000 warga Palestina di Mesir yang mendaftar untuk kembali ke Gaza.

Hamas dalam keterangan tertulis pada Senin menuntut Rafah dibuka tanpa pembatasan jumlah lalu lintas manusia.

Raed Belal (51), warga Gaza, berobat ke Mesir tiga bulan sebelum perang Hamas-Israel pecah pada 7 Oktober 2023. Selama dua tahun terakhir, dia terpisah dari istri dan anak-anaknya karena tak bisa kembali ke Gaza.

Selama itu pula, dia tak berdaya melihat keluarganya satu demi satu menjadi korban serangan Israel. Belal kehilangan anak, keponakan, dan saudaranya. Keluarga Belal harus mengungsi 12 kali selama perang. Ia berulang kali kehilangan jejak keluarganya dan berusaha menjaga komunikasi dengan mereka.

”Ini saat yang saya nantikan. Saya akan kembali bertemu anak-anak. Saya akan kembali ke tanah air walau semua sudah hancur,” kata Belal, yang menyewa sebuah apartemen kecil di Badrashin, Mesir.

Gaza telah ditutup bagi warga Palestina sejak serangan balasan Israel terhadap Hamas pada 8 Oktober 2023. Pada bulan-bulan pertama perang, sekitar 110.000 warga Palestina berhasil meninggalkan Gaza melalui Rafah.

Akan tetapi, penyeberangan Rafah ditutup sepenuhnya pada Mei 2024. Sejak saat itu, orang-orang seperti Belal terjebak di luar negeri, sebagian besar di Mesir. Banyak warga khawatir Israel tidak akan pernah mengizinkan mereka kembali ke Gaza.

(FILES) This picture taken on August 27, 2023 shows a view of the entrance of the Rafah border crossing with Egypt in the southern Gaza Strip. Israel said on January 26, 2026, it would only allow pedestrians to travel through the Rafah crossing between Gaza and Egypt as part of its "limited reopening" once it has recovered the remains of the last hostage in the Palestinian territory. (Photo by SAID KHATIB / AFP)

Jaber, saudara Belal, menuturkan, dirinya mencari pekerjaan di Tepi Barat beberapa hari sebelum perang berkecamuk. Seiring perang, Israel memberlakukan pembatasan gerak di Tepi Barat. Jaber pun pindah ke Mesir.

Di sana dia bergabung dengan Belal. Dia menikah dengan perempuan Mesir. Kini Jaber dan istrinya berencana kembali ke Gaza. ”Gaza rumah kami,” ujarnya.

Di Gaza, Hamed Hamdi (41), seorang insinyur sipil, sedang mempertimbangkan pilihan sulit: meninggalkan Gaza untuk mencari penghidupan lebih baik di luar atau bertahan dan ikut dalam rekonstruksi Gaza.

Selain puluhan ribu warga Gaza yang terjebak di Mesir seperti Belal dan saudaranya, ada ribuan warga Gaza yang harus segera dievakuasi ke luar. Ada setidaknya 20.000 pasien kritis yang harus segera dievakuasi ke luar Gaza untuk mendapatkan perawatan di luar negeri.

Sebagian dari mereka mengalami luka-luka akibat serangan Israel. Sebagian lagi adalah orang-orang yang menderita penyakit kronis seperti kanker.

US actress Angelina Jolie speaks to employees of aid agencies at the Egyptian Rafah border crossing, part of her visit to the North Sinai Governorate to inspect aid entering the Palestinian Gaza Strip, on January 2, 2026, following a two year war that was sparked by Hamas's October 7, 2023 attack on Israel, and which has left the majority of Gaza's 2.4 million people displaced and in need of aid. (Photo by AFP)

Seorang pejabat Israel yang berbicara secara anonim mengatakan, pelintasan Rafah segera dibuka dalam beberapa hari ke depan. Bisa saja dibuka segera pada Kamis ini.

Ali Shaath, pemimpin Komite Harian Palestina di Gaza, pada 22 Januari 2026 mengatakan, pelintasan akan dibuka untuk lalu lintas dua arah. ”Pembukaan Rafah menjadi sinyal Gaza tidak lagi terisolasi dari masa depan dan dunia luar,” kata Shaath dalam video yang ditayangkan Gedung Putih di X.

Shaath dan para anggota Komite Palestina tetap berada di Kairo, Mesir. Mereka menunggu izin Israel untuk dapat kembali ke Gaza melalui Rafah.

Untuk saat ini, evakuasi medis diprioritaskan untuk anak-anak, pasien kanker, dan trauma fisik yang akan dibawa ke Mesir. Sebelum perang, evakuasi medis biasanya dilakukan ke Israel melalui pelintasan Kerem Shalom di Israel selatan.

Para pasien dalam skema pembukaan pelintasan Rafah akan ditemani pendamping. Kali ini, dalam rencana Israel, satu pasien akan ditemani dua pendamping.

Berbagai lembaga akan terlibat dalam pengawasan pelintasan Rafah, termasuk Mesir, Otoritas Palestina, dan Uni Eropa. Akan tetapi, Israel memegang kewenangan menentukan siapa yang boleh keluar-masuk Gaza.

Mesir akan memberikan daftar nama kepada Israel tiap hari. Israel yang memutuskan siapa saja yang disetujui untuk melintas.

Displaced Palestinian Ahmed Jumaa cleans a lions' cage at his temporary residence after the animals were transferred from the Rafah zoo to Deir al-Balah due to the Israel-Hamas war, in the central Gaza Strip, Tuesday, Jan. 20, 2026. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

COGAT, badan militer Israel yang mengawasi bantuan untuk Gaza, akan menyiapkan angkutan bagi warga menuju dan dari Rafah. Para petugas Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa dan Otoritas Palestina akan mengawasi pelintasan. Petugas Otoritas Palestina akan mengecap paspor sesuai dengan fungsi keimigrasian.

Dibatasi sejak lama

Jauh sebelum perang Hamas-Israel pada 2023, warga Palestina di Gaza sudah mengalami berbagai pembatasan oleh Israel sehingga Gaza dijuluki sebagai penjara ruang terbuka terbesar di dunia.

Pada 2022, PBB mencatat adanya 133.000 orang masuk dan 144.000 orang keluar dari Gaza melalui Rafah. Sebagian orang yang sama melintas berulang kali.

Pemerintah Mesir mengizinkan importasi 150 hari dalam setahun dan lebih dari 32.000 truk masuk.

Pembatasan keluar-masuk Gaza menguat sejak Mesir dan Israel memblokade Hamas yang menguasai Gaza pada 2007. Pelintasan Rafah pernah dibuka kembali setelah Revolusi Mesir tahun 2011. Namun, pelintasan ditutup kembali pada 2013, setelah militer Mesir menumbangkan Presiden Mohammed Morsi, tokoh Ikhwanul Muslimin (IM). IM adalah salah satu gerakan pemicu kelahiran Hamas.

Lantaran berbagai pembatasan, warga Gaza dan para pejuang Palestina membuka terowongan untuk menyelundupkan barang keluar-masuk. Jaringan tersebut, menurut Israel, juga digunakan untuk menyelundupkan senjata dan uang.

Seorang tentara Israel memasuki sebuah terowongan di mana tentara mengatakan mayat tentara Hadar Goldin ditahan di Rafah, Jalur Gaza, Senin (8/12/2025). Hamas mengembalikan jenazahnya ke Israel sebagai bagian dari gencatan senjata saat ini.

Tidak dijelaskan dalam pembukaan Rafah kali ini juga diberlakukan bagi lalu lintas truk pengangkut barang dagangan. Padahal, beberapa lembaga bantuan kemanusiaan berusaha menambah logistik yang masuk untuk membantu warga yang kekurangan obat, bahan bakar, dan kebutuhan pokok.

PBB mendesak Rafah dibuka tanpa batasan untuk keluar-masuk bantuan kemanusiaan dan sektor swasta untuk menghidupkan kembali ekonomi Gaza. ”Ini penting untuk pemulihan Gaza,” kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, Rabu (28/1/2026).

(AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji