Pasar modal Indonesia cenderung resilien di tengah guncangan ekonomi dan politik global.
30 Des 2024 20:30 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan hari perdagangan terakhir di 2024 melemah dibandingkan posisi pembukaan di awal tahun. Beragam gejolak ekonomi dunia membuat 2024 menjadi tahun yang tidak ideal bagi dunia pasar modal.
Indeks komposit pada perdagangan Senin (30/12/2024) ditutup pada level 7.079 atau naik tipis 0,62 persen dibanding penutupan bursa pada Jumat (27/12/2024). Sejak awal tahun atau year-to-date, posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab 2,56 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengatakan, perjalanan pasar modal Indonesia mencatat berbagai dinamika yang membawa dampak beragam, baik peluang positif maupun tantangan yang mempengaruhi kinerja Pasar Modal.
”Indeks Harga Saham Gabungan sempat menyentuh titik terendah, tetapi juga berhasil mencatatkan beberapa all-time high (di posisi 7.905) sepanjang tahun ini,” katanya dalam sambutan penutupan perdagangan bursa di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/e26c57072a824b6adf98c4c049f197aa-20241230_162647.jpg)
Dinamika di pasar modal sepanjang 2024 tergambar dari kenaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) dibandingkan tahun sebelumnya. RNTH saham meningkat menjadi Rp 12,85 triliun dari Rp 10,75 triliun di 2023 dan RNTH efek berbasis utang dan sukuk naik menjadi Rp 1,04 triliun dari Rp 686 miliar di 2023.
Adapun total nilai transaksi non-saham (waran, derivatif, dan lainnya) cenderung turun menjadi Rp 4,38 triliun dari Rp 8,9 triliun tahun lalu, demikian juga transaksi karbon yang turun menjadi Rp 19,73 miliar dari Rp 30,9 miliar di tahun 2023.
Dari sisi ketersediaan produk, tahun ini, BEI hanya merilis 41 saham baru atau initial public offering (IPO) dengan total nilai penghimpunan dana sebesar Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun drastis dari 79 kegiatan IPO di 2023 yang berhasil menghimpun dana hingga Rp 54,1 triliun.
Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam konferensi pers sebelumnya menilai kinerja pasar modal masih menunjukkan daya saing yang kompetitif dibandingkan dengan bursa global lainnya. ”Saya bangga melaporkan bahwa pasar modal kita tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian global, tetapi juga terus menunjukkan daya saing yang tinggi, baik di ASEAN maupun dalam skala global,” ujarnya.
Ia menunjukkan, data EY Global IPO Trends 2024 menunjukkan BEI berada di peringkat ke-10 negara di dunia dengan penambahan jumlah saham tercatat terbanyak, yang menjadi 941 saham secara tahunan. Nilai kapitalisasi saham per November 2024 yang sebesar 757 miliar dollar AS juga menempatkan pasar modal Indonesia ada di ranking 20 dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/cb26ab098f6cd52f719dfe0824b8ee93-20241230_120204.jpg)
Tim analis dari Sekuritas NH Korindo justru mencatat, kinerja IHSG tercatat sebagai indeks terburuk di ASEAN, di tengah pertumbuhan indeks negara tetangga yang naik dua digit, kecuali Thailand yang tumbuh 3,64 persen.
Catatan ini menjadi penurunan tahunan pertama IHSG sejak 2020 ketika indeks terpangkas hingga 5 persen akibat dampak pandemi Covid-19. Sebelumnya, IHSG berhasil mencatatkan penguatan 6,16 persen pada 2023, naik 4,09 persen di 2022, dan melesat 10,08 persen pada 2021.
Indeks Harga Saham Gabungan sempat menyentuh titik terendah, tetapi juga berhasil mencatatkan beberapa all-time high (di posisi 7.905) sepanjang tahun ini.
”Kinerja IHSG yang loyo mencerminkan tantangan besar yang dihadapi pasar sepanjang tahun, baik dari tekanan global maupun dinamika domestik,” kata tim analis NH Korindo.
Dinamika yang memengaruhi pelemahan kinerja IHSG adalah penurunan suku bunga bank sentral negara utama, terutama Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS), yang tidak sesuai ekspektasi pasar menyebabkan aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/30/f89e713e1be7324f4c35a13acffe0fc6-Screenshot_20241230_194550_Samsung_Internet.jpg)
Kemudian, indeks dollar AS yang cenderung menguat signifikan 7 persen dan meningkatkan tekanan pada mata uang di pasar berkembang, termasuk rupiah, sehingga memengaruhi stabilitas pasar saham domestik. Per 6 Desesember 2024, rupiah termasuk lima mata uang terlemah di dunia dibandingkan dollar AS, berbarengan dengan mata uang riyal Iran, dong Vietnam, leone Sierra Leon, dan kip Laos.
Faktor lainnya, melambatnya ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia, mengurangi permintaan terhadap komoditas ekspor andalan RI, seperti batubara dan minyak kelapa sawit atau CPO.
Konflik global, seperti Israel versus Iran, dan Rusia versus Ukraina, juga turut meningkatkan volatilitas pasar global, yang berdampak pada sentimen investor. Terkini, kekhawatiran akan potensi perang dagang muncul kembali di bawah pemerintahan presiden terpilih AS, Donald Trump, sehing menambah ketidakpastian di pasar global.
Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah imbas penguatan dollar AS, lesunya daya beli masyarakat, perubahan kebijakan pemerintahan baru, dan gejolak politik dalam negeri, turut memengaruhi pergerakan IHSG.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari