Langkah Awal Indonesia Jadi Hub Penyimpanan Karbon Dunia

Investasi sebesar Rp 111,46 triliun untuk fasilitas LNG Tangguh di Papua Barat turut mengembangkan fasilitas CCUS dengan daya tampung 15 juta ton karbon dioksida.

27 Nov 2024 16:10 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Perusahaan minyak dan gas multinasional yang berbasis di Inggris, Bp, mengumumkan komitmen investasi akhir di Proyek Tangguh Ubadari CCUS dan Compression (UCC) senilai 7 miliar dollar AS, setara Rp 111,46 triliun. Investasi ini dinilai dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan ambisi Indonesia sebagai hub penyimpanan karbon dunia.

Mengutip situs resmi Bp, investasi tersebut mencakup pengembangan lapangan gas Ubadari, peningkatan perolehan gas melalui penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS), serta kompresi di darat. Proyek ini juga akan memperluas dan memanfaatkan infrastruktur di fasilitas gas alam cair (LNG) Tangguh, Papua Barat.

Dihubungi dari Jakarta, Rabu (27/11/2024), Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengungkapkan sisi menarik dari Proyek Tangguh UCC adalah proyek ini menjadi proyek CCUS pertama yang dikembangkan dalam skala besar di Indonesia.

Quote

Baik pemerintah maupun Bp perlu merumuskan agar ongkos operasi CCUS yang masih sangat tinggi tidak memengaruhi harga produk LNG.

”Dengan kapasitas untuk melakukan sekuestrasi sekitar 15 juta ton karbon dioksida dari emisi Tangguh pada fase awal, kapasitas ini jadi yang terbesar di Indonesia, jauh melebihi kapasitas tampung sumur lapangan Sukowati milik Pertamina sekitar 2.500 ton karbon dioksida,” ujarnya.

Jika berhasil beroperasi, lanjut Fabby, fasilitas CCUS di lapangan gas Ubadari dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan ambisi pemerintah menjadikan RI sebagai hub penyimpanan karbon dunia. Fasilitas CCUS ini juga dinilai penting untuk mengurangi emisi produksi LNG Tangguh yang mencapai 11,4 juta ton per tahun.

”Kalau memang benar tangguh bisa menangkap CCUS, saya kira cukup bagus untuk menurunkan emisi dari produksi LNG. Bisa juga untuk menyimpankan karbon dioksida dari negara lain,” kata Fabby.

infografik Penerapan Teknologi CCS di Sejumlah Negara

Ongkos operasi membengkak

Kendati demikian, baik pemerintah maupun Bp perlu sama-sama merumuskan agar ongkos operasi CCUS yang masih sangat tinggi tidak memengaruhi harga produk LNG yang perannya vital untuk industri ataupun kebutuhan listrik di sejumlah area di Papua Barat.

”Saat ini biaya penangkapan, transportasi, injeksi, dan penyimpanan karbon masih cukup besar. Paling besar adalah biaya transportasi dan injeksi karena membutuhkan bahan bakar dan aliran listrik tinggi,” ujar Fabby.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai biaya operasi LNG Tangguh dengan penggunaan CCUS diperkirakan akan semakin membengkak karena membutuhkan biaya mitigasi risiko, seperti kebocoran dalam penyimpanan karbon di lapisan bawah tanah. Ini perlu mengingat Indonesia dikenal sebagai wilayah yang berada di pusat bencana.

Bhima menjelaskan, teknologi serupa yang diterapkan di negara lain sudah terbukti menimbulkan bencana, seperti yang terjadi di satu desa di Mississippi, Amerika Serikat, pada 2020 akibat kebocoran pipa gas karbon dioksida.

Peristiwa ini menyebabkan 300 orang harus dievakuasi dan 45 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Setelah ditelusuri, kasus ini berkaitan dengan pemanfaatan teknologi CCS/CCUS untuk kebutuhan pembangkit energi dan industri.

”Ini dampaknya sudah jelas, kebocoran pipa karbon dioksida. Jadi, kalau ada yang bilang CCUS akan aman, CCUS tidak akan merusak lingkungan, tidak akan mencemari udara karena karbonnya bisa disimpan, karbonnya bisa ditransfer, dan sebagainya, fakta tidak menunjukkan itu,” jelas Bhima.

LNG Tangguh salah salah satu penghasil gas alam cair Indonesia yang terletak di Kampung Tanah Merah, Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Selasa (13/12). Kompas/Subur Tjahjono (BUR)13-12-2011

Proyek Tangguh UCC ditetapkan sebagai proyek strategis nasional oleh Pemerintah Indonesia dan merupakan kelanjutan dari pengembangan Tangguh setelah penambahan train LNG ketiga yang mulai beroperasi pada tahun 2023 dan meningkatkan total kapasitas likuifaksi LNG menjadi 11,4 juta ton per tahun.

”Tangguh berada di posisi yang strategis untuk mengakses pasar regional bernilai tinggi, dan investasi ini menunjukkan komitmen Bp untuk senantiasa memenuhi kebutuhan energi Indonesia dan kawasan sekitarnya,” ujar CEO Bp, Murray Auchincloss, dalam siaran resmi perusahaan, Kamis (21/11/2024).

Ia juga menyebutkan, suntikan investasi ini menunjukkan keyakinan Bp beserta para mitra terhadap iklim investasi Indonesia yang baik sehingga mereka berkomitmen untuk memperkuat kegiatan bisnis mereka di Tanah Air. Adapun perusahaan memperkirakan produksi lapangan Tangguh UCC dapat dimulai pada 2028.

Murray juga menyebut Proyek Tangguh UCC bertujuan menjadi proyek CCUS pertama yang dikembangkan dalam skala besar di Indonesia, dengan potensi untuk melakukan sekuestrasi sekitar 15 juta ton karbon dioksida dari emisi Tangguh pada fase awal.

Peta proyek CCS yang sedang dikembangkan di Indonesia, 2023. Sumber: Laporan IEA 2023

Pembiayaan alternatif

Saat ini, ​​LNG Tangguh memasok gas ke PT PLN (Persero) untuk membangkitkan listrik di beberapa lokasi di Papua Barat. Deputi Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ervan Maksum menilai Indonesia memang memerlukan pembiayaan alternatif yang berupa modal swasta untuk mencapai target transisi energi di sektor ketenagalistrikan.

Upaya mencapai target transisi energi, lanjutnya, tidak bisa hanya mengandalkan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Untuk itu, pemerintah menyiapkan kerangka regulasi dan kebijakan untuk memobilisasi pendanaan dan investasi swasta tersebut.

”Kolaborasi dengan berbagai perusahaan swasta dan lembaga pemilik modal sangat diperlukan sebagai kewajiban perusahaan untuk menurunkan emisi karbon dari aktivitas bisnis yang dilakukan,” ujar Ervan.

Presiden Prabowo Subianto memenuhi undangan makan siang dengan Wakil Perdana Menteri Inggris Angela Rayner di Lancaster House, London, Inggris, Kamis (21/11/2024).

Diberitakan sebelumnya, dalam lawatan ke Inggris, Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa komitmen investasi sebesar 8,5 miliar dollar AS (Rp 135,35 triliun) setelah bertemu sejumlah pemimpin perusahaan. Komitmen investasi tersebut akan disalurkan untuk sektor energi, infrastruktur, hingga kesehatan.

Dari total investasi 8,5 miliar dollar AS, sebanyak 7 miliar dollar AS merupakan investasi dari Bp yang secara tertutup juga sempat bertemu dengan Presiden Prabowo di London. Sementara investasi 1,5 miliar dollar AS diperoleh dari pertemuan CEO Roundtable Forum yang digelar di Lancaster House, London, pada Kamis.

Dalam siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, melalui proyek UCC Tangguh ini, pemerintah akan lebih fokus kepada peningkatan produksi migas sekaligus mendukung program transisi energi untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan energi sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto.

”Investasi senilai 7 miliar dollar AS ini sangat besar dan turut mendukung produksi migas nasional, juga yang terpenting meningkatkan nilai tambah dan memberikan multiplier effect ekonomi bagi daerah,” ujarnya dalam siaran pers.

Adapun volume cadangan gas dari Proyek Tangguh UCC mencapai 3 triliun kaki kubik (TCF) dan direncanakan berjalan tahun 2028. Adapun CCUS pada Proyek Tangguh UCC diklaim sebagai proyek CCUS skala besar, berpotensi menjadi CCS Hub pertama di Indonesia, dengan potensi kapasitas penyimpanan emisi karbon sekitar 1,8 gigaton.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta, Aufrida Wismi Warastri