Ramadhan Oase Keberkahan

Hadirnya Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan kesalehan sosial demi keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara.

01 Mar 2025 08:00 WIB · Opini

Oleh Ali Mursyid Azisi

Bulan bertabur berkah menyapa umat muslim di seluruh dunia pada awal Maret 2025. Momentum Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menaikkan level kualitas ibadah spiritual, sosial, dan menjaga alam.

Ketiga elemen ini adalah poros kehidupan yang tidak seharusnya dilewatkan begitu saja.

Ramadhan selalu menjadi bulan yang diidamkan setiap muslim di penjuru dunia. Selain menjadi kesempatan menambah pahala dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, bulan ini juga menjadi momentum meraih pengampunan dosa-dosa hamba-Nya.

Istilah Ramadhan merupakan bentuk mashdar qiyasi dari ramadha-yarmadhu-ramdhan wa Ramadhan. Secara harfiah memiliki makna syiddat al-hurr (panas terik). Lalu, mengapa dijuluki Ramadhan?

Hal demikian karena bulan ini adalah momentum untuk menghapus lelaku buruk dengan melaksanakan puasa. Sebagaimana nukilan teks Qur’an, bahwa Sang Pencipta menyeru orang-orang beriman dalam rangka menumbuhkan ketaatan dan spirit keimanan.

Quote

Momentum Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menaikkan level kualitas ibadah spiritual, sosial, dan menjaga alam.

Aspek selanjutnya adalah menggiring manusia untuk senantiasa meningkatkan ketakwaannya. Suluk (jalan) dalam mencapai ketakwaan tidak melulu melalui habl min Allah, hubungan yang baik dengan Tuhan.

Akan tetapi, hab min al-nass (hubungan baik dengan sesama manusia) dan hab min al-alam (hubungan baik dengan alam) juga perlu ditingkatkan demi memetik keberkahan di bulan Ramadhan.

Jika ketiga aspek ini terjaga dengan baik dalam kehidupan sosial dan bernegara, maka Sang Khalik menjanjikan kebaikan bagi manusia dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat.

Jemaah melaksanakan shalat tarwih perdana 1 Ramadhan 1446 Hijriah di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Sumatera Barat (Sumbar) atau Masjid Raya Sumbar, Kota Padang, Sumbar, Jumat (28/2/2025). Umat Islam di Indonesia mulai melaksanakan puasa Ramadhan pada Sabtu (1/3/2025).

Menghidupkan Tiga Dimensi Ibadah

Bukti kecintaan dan pendekatan diri secara vertikal (spiritual) dapat berupa pengabdian kepada Tuhan dengan memperbanyak ibadah mahdhah. Selain bertujuan mendekatkan diri, Imam Al-Ghazali juga menyatakan bahwa aktivitas ini memiliki manfaat untuk ketenangan hati, mental, ataupun psikologis.

Merujuk hasil riset Asia Care Survey 2024, masalah stress dan burnout menduduki podium tertinggi gangguan kesehatan mental dengan presentase mencapai 56 persen. Pendekatan diri kepada-Nya setidaknya akan mengurangi tekanan mental yang ada.

Kedua, sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari interaksi sosial. George Herbert Mead dan Erving Goffman seorang sosiolog abad-19 memandang bahwa interaksi sosial merupakan bentuk aktivitas individu yang menjadi faktor pembentuk kepribadian setiap manusia. Ini dikarenakan dalam proses interaksi terdapat proses komunikasi timbal balik (interstimulation).

Quote

Interaksi sosial merupakan bentuk aktivitas individu yang menjadi faktor pembentuk kepribadian setiap manusia.

Jika dipotret dalam kacamata Islam, hubungan sosial sejatinya memiliki kedudukan yang mulia. Dalam Qur’an, ayat yang berbicara tentang hukum menurut Ibn Qayyim hanya sejumlah 150 saja. Ayat-ayat selebihnya berbicara tentang persoalan sosial, kisah masa lalu, serta petunjuk sebagai pelajaran.

Upaya meningkatkan hubungan baik dengan sesama manusia pada bulan suci ini dapat berupa sikap/tindakan untuk saling memaafkan, bersedekah, beramal, berinfaq, berbagi harta untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Jika ditarik dalam konteks bernegara, upaya membangun hubungan sosial yang berkualitas ialah dengan saling menerima perbedaan pendapat, menerima kritik, tidak berkonflik, bersikap adil, menjaga moralitas, menjunjung tinggi kemanusiaan, serta menjaga tali persaudaraan (ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah).

Meningkatkan ukhuwah di atas begitu urgen terhadap kualitas kesalehan sosial. Sebagai gambaran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir merilis Indeks Kesalehan Sosial (IKS).

Pada 2020, IKS di Indonesia berada di angka 82,53 persen, 2021 meningkat 83,92 persen, kemudian pada 2022 menjadi 84,55%, sempat turun pada 2023 menjadi 82,59 persen, dan pada tahun 2024 tercatat menjadi 83,83 persen. Meski terbilang cukup baik, namun masih ada celah 16,17 persen masyarakat Indonesia berpotensi berkonflik atau intoleran dengan berbagai motif.

Oleh karena itu, hadirnya Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan kesalehan sosial demi keharmonisan hiduo bermasyarakat dan bernegara.

Siluet salah satu petugas dari tim Hisab Rukyat memantau rukyatul hilal di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Jumat (28/2/2025). Tim Hisab Rukyat Kanwil Kemenag DKI Jakarta memantau hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1446 Hijriah. Di tempat pemantauan ini, hilal tidak terlihat karena tertutup awan mendung. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 28-02-2025

Melestarikan alam

Elemen terakhir yang kadang luput dari perhatian adalah pentingnya menjaga kelestarian ekologi (lingkungan). Puasa sejatinya tidak hanya fokus menahan lapar dan memperbaiki hubungan sosial semata. Lebih jauh, Qur’an memiliki pesan-pesan ekologi (bi’ah) untuk senantiasa dilestarikan dan melarang berbuat kerusakan.

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di Indonesia pada tahun 2024 masih berada di angka 73,07 dari skala 100 poin. Ini menandakan bahwa kualitas upaya pelestarian lingkungan masih jauh dari sempurna.

Lingkungan yang sehat, indah, dan nyaman sejatinya dapat menunjang ibadah. Menifestasi ibadah tidak melulu tentang sholat dan puasa. Menjaga lingkungan juga bentuk ibadah yang kadang luput dari perhatian, tetapi sejatinya bermanfaat secara berkelanjutan.

Quote

Menjaga lingkungan juga bentuk ibadah yang kadang luput dari perhatian, tetapi sejatinya bermanfaat secara berkelanjutan.

Oase keberkahan

Ramadhan itu ibarat genangan air di tengah gurun pasir. Ia seolah magnet bagi makluk hidup yang tengah kehausan untuk mereguk kesejukan air. Oase yang menghidupi berbagai makhluk di sekelilingnya. Ramadhan, adalah oase keberkahan yang tidak semua orang mampu memahami keistimewaannya.

Oleh karena itu, menghidupkan Ramadhan dengan penuh iman, mengharap keberkahan, dan meningkatkan kualitas tiga dimensi ibadah di atas akan mengantarkan seseorang bahkan sebuah bangsa pada derajat yang agung.

Bagi kepahitan problem sosial yang memicu gonjang-ganjing saat ini, Ramadhan dapat menjadi penawar. Aktivitas yang menjernihkan hati ini perlu dihidupkan bersama oleh individu, masyarakat, dan aparatur negara.

Ini sejalan dengan redaksi hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini, ”Siapa yang menghidupkan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala (keberkahan), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

—

Ali Mursyid Azisi - Pengurus LTN NU Jatim 2024-2029 dan Peneliti pada Centre for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation


Kerabat Kerja

Penulis:

Ali Mursyid Azisi
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari