Ramadhan Tiba, Berbagai Tradisi Sahur Kembali Semarak Dirayakan

Berbagai tradisi sahur kembali dilakukan bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan. Kehadirannya dirayakan banyak orang dari sejumlah kalangan.

01 Mar 2025 13:25 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Berbagai tradisi membangunkan warga untuk sahur kembali berkumandang saat Ramadhan di sejumlah daerah di Indonesia. Praktiknya boleh jadi sama, tapi diberi nama berbeda.

Di Jawa Tengah, tradisi membangunkan sahur punya beberapa nama. Warga Semarang, misalnya, mengenalnya dengan nama klothekan. Tidak ada alat baku yang menjadi sumber suaranya.

Pelakunya bisa menggunakan alat musik sungguhan atau mengandalkan alat seadanya. Mulai dari galon air, alat dapur, bambu, atau sekadar kentongan kayu.

Serupa, praktik itu juga dilakukan warga Purwokerto, Banyumas. Di sana, namanya disebut thek thek. Sementara di Tegal, tradisi ini dikenal dengan nama koprekan.

Sekumpulan warga menabuh kentongan untuk membangunkan warga di Kelurahan Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, jelang waktu sahur, Minggu (18/4/2021).
Sejumlah remaja berkumpul usai melaksanakan "koprekan" di Kelurahan Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, Minggu (18/4/2021). Tradisi tersebut sudah berlangsung di wilayah pesisir pantai utara Jawa Tengah sejak 40 tahun terakhir.
Sekumpulan remaja menabuh kentungan sambil berkeliling Kelurahan Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, Minggu (18/4/2021).
Koprekan merupakan kegiatan membangunkan warga jelang waktu sahur dengan cara menabuh ketungan keliling kampung. Tradisi tersebut sudah berlangsung di wilayah pesisir pantai utara Jawa Tengah sejak 40 tahun terakhir.

Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik, mengatakan, koprekan merupakan bagian dari rekonstruksi nostalgia warga. Sebagian besar pelakunya adalah anak muda yang pernah merasakan suasana sahur saat kecil lewat berbagai acara.

Sebelum koprekan menjadi tren, menurut Atmo, ada beberapa tradisi sahur yang pernah tumbuh. Dia mencontohkan tradisi meledakkan mercon atau disebut gur di awal 1980-an.

Pertengahan 1980-an, tradisi gur berganti. Muncul tradisi dug dag, yaitu membangunkan sahur dengan cara menabuh beduk. Penabuh terbaik akan tampil dalam acara tabuh beduk saat Idul Fitri.

”Keseruan itu yang mendorong warga bernostalgia. Salah satunya dengan melakukan tradisi koprekan,” kata Atmo.

Di Jawa Barat, tradisi membangunkan sahur juga punya banyak nama. Di Bandung dan sekitarnya, warga mengenalnya dengan nama patrol. Saat melakukan patrol, berbagai alat digunakan untuk memunculkan bebunyian. Ada alat musik tradisional seperti kohkol atau kentongan bambu, rebana, hingga kecrek. Istilah patrol juga dikenal di Jawa Timur.

Para pemuda memeriahkan malam takbiran dengan mengikuti lomba rontek (patrol) di Sirnoboyo, Pacitan, Jawa Timur, Selasa (5/7). Budaya seni rontek biasa dilakukan setiap bulan Ramadhan untuk membangunkan warga untuk saur.

Di pantura Jawa Barat, kegiatan membangunkan sahur akrab disebut obrog. Tradisi mengamen membangunkan warga untuk sahur itu banyak dilakukan di Indramayu dan Cirebon.

Tidak ada bayaran untuk para pelaku obrog ketika beraksi. Namun, biasanya ada semacam THR alias tunjangan hari raya dari warga desa berupa beras atau uang di akhir puasa.

Dulu, alat musik yang digunakan sederhana. Ada dog-dog, sejenis kendang, ditambah kecrek serta gong kecil.

Seiring waktu, musiknya menyesuaikan dengan zaman. Pelakunya, yang sebagian besar adalah petani, memainkan  tarling dangdut khas pantura.

Di Jakarta, tradisi menabuh beduk dinamakan ngarak beduk. Remaja masjid berkeliling kampung memberi tanda saat sahur sudah datang. Daerah yang masih melakukan tradisi itu antara lain Palmerah, Cikini, dan Condet.

Tidak hanya suara beduk,  iring-iringan warga juga memukul galon mineral dan botol kaca hingga membunyikan sirene. Namun, di antara itu semua, kerap kali rombongan mengumandangkan shalawat.

Beragam kesenian khas Betawi memeriahkan acara Lebaran Betawi ke 12  yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (20/7/2019). Lebaran Betawi yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Musyarawah Betawi akan berlangsung hingga Minggu (21/7/2019).  KOMPAS/RADITYA HELABUMI20-07-2019

Lewat ritukan, warga Jawa Timur juga punya tradisi membangunkan sahur. Dalam tulisan ”Ritukan: Tradisi Unik di Desa Pangkah Wetan, Ujungpangkah, Gresik”, Kharisma Puspa Anggraini mengatakan, ritukan adalah singkatan dari ritual ketuk Ramadhan.

Ritukan dilakukan untuk membangunkan warga untuk sahur pada malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan.

Momennya adalah pada malam 23 Ramadhan, malam 25 Ramadhan, dan malam 29 Ramadhan. Ritukan dilaksanakan melalui pawai seni budaya seperti jaranan, pencak, hingga reog. Lantunan shalawat juga mengiringi kegiatan itu.

Di luar Jawa, tradisi ini juga dilakukan warga. Sejumlah daerah di Kalimantan Selatan punya tradisi turun-temurun yang dinamakan bagarakan sahur.

Bagarakan sahur adalah kegiatan rutin di kampung pada bulan puasa. Seperti daerah lain di Indonesia, para pemuda berkeliling membangunkan warga untuk sahur dengan tetabuhan.

Belakangan, tradisi ini bahkan dikemas dalam bentuk festival. Dalam kelompok, pesertanya memamerkan bunyi irama dan kostum terbaiknya.

Para pedagang pasar terapung membentuk formasi jukung barenteng (perahu beruntaian atau berangkaian) dalam Festival Jukung Bungas Indonesia 2017 di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (23/9/2017). Festival yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-491 Kota Banjarmasin tersebut dimaksudkan untuk memperkaya atraksi pariwisata sungai agar semakin menarik bagi wisatawan.

Selain itu, ada bagarakan tanglong atau karnaval lampion. Ini adalah perayaan malam salikuran—malam kedua puluh satu—yang berlangsung hingga akhir Ramadhan.

Lampion-lampion berukuran besar itu juga beragam bentuknya. Ada yang berbentuk masjid, pria yang tengah duduk membaca Al Quran, atau unta dan pohon kurma.

Namun, ada juga yang berkreasi dengan tidak merujuk pada simbol peribadatan. Ada lampion berbentuk pohon angker, hantu pocong, hingga Spongebob.

Tanglong diperkirakan bukan produk asli budaya Banjar, tetapi diserap dari bentuk atau model lampu hias bangsa atau suku lain, seperti masyarakat China. Bagi masyarakat Banjar, tanglong semata-mata merupakan aksesori beranda dan halaman rumah.

Biasanya di halaman juga diletakkan barisan lampu suluh selama bulan Ramadhan, yang membuat kampung-kampung warga Banjar menjadi semarak.

Gorontalo juga punya tradisi koko’o atau ketuk sahur. Warga menggunakan bambu untuk memberi tahu bahwa waktu sahur sudah tiba. Sementara di Riau ada tradisi pengantin sahur. Tradisi ini disebut bermula dari aktivitas masyarakat Desa Pulau Palas di Indragiri Hilir.

Tradisi ini membangunkan warga untuk bersantap sahur dengan mengarak beberapa pasang pengantin keliling desa. Saat diarak, mereka diiringi suara dari alat musik dan perkakas lain. 

Kegiatan membangunkan sahur bersama anak-anak perumahan di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
Tradisi arakan sahur dilangsungkan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Sabtu (1/4/2023). Tradisi Ramadan itu sudah dimulai sejak 1966. di wilayah pesisir timur Jambi. Ribuan orang tumpah di jalan untuk menyaksikan pawai arakan sahur.
Tradisi arakan sahur dilangsungkan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Sabtu (1/4/2023). Tradisi Ramadan itu sudah dimulai sejak 1966. di wilayah pesisir timur Jambi. Ribuan orang tumpah di jalan untuk menyaksikan pawai arakan sahur.

Mengutip laman Unair.ac.id, antropolog sekaligus dosen kebudayaan Islam dan klasik Indonesia, Djoko Adi Prasetyo, mengatakan, tradisi membangunkan warga untuk sahur saat ini adalah adaptasi hal serupa yang dilakukan bangsa Arab.

”Penduduk di sekitar Mekkah memiliki kelompok-kelompok yang bertugas untuk membangunkan orang makan sahur. Bersenjata lentera dan gendang, mereka berkeliling ke sudut kota sambil meneriakkan bahwa waktu sahur telah tiba,” kata Djoko.

Setelahnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat tradisi itu mulai menggunakan alat-alat seperti gendang untuk menghasilkan bunyi. Dari situlah tradisi itu menyebar hingga ke Indonesia dan beradaptasi di setiap daerah.

”Di Sulawesi, tradisi beduk sahur dinamakan dengo-dengo, sedangkan di Jawa Barat juga dikenal dengan ubrug-ubrug. Ini adalah tradisi sahur yang paling umum dilakukan di Indonesia,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti