FAO memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 masing-masing sebesar 38,5 juta ton dan 38,6 juta ton. Proyeksi itu dinilai tidak masuk akal.
21 Jun 2026 13:12 WIB · Ekonomi & Bisnis
DOKUMENTASI BIRO PERS SEKRETARIAT KEPRES
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) meramalkan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun. El Nino dan pengurangan luas areal tanam padi akibat kenaikan biaya produksi menjadi pemicu utamanya. Namun, di tengah situasi itu, FAO justru menyuguhkan ramalan manis atas produksi beras Indonesia.
FAO memperkirakan produksi beras dunia pada 2026/2027 sebanyak 552,4 juta ton. Volume produksi itu turun 1,6 persen dibandingkan produksi beras dunia pada 2025/2026 yang mencapai 561,6 juta ton. Proyeksi itu tertuang dalam FAO Food Outlook Edisi Juni 2026 yang dirilis pada 18 Juni 2026 di Roma, Italia.
Beberapa negara yang diperkirakan mengalami penurunan produksi beras terbesar adalah Amerika Serikat (AS), yakni sebesar 15,2 persen secara tahunan. Berikutnya adalah Brasil yang diperkirakan turun 12,9 persen. Sementara Thailand dan India masing-masing diperkirakan turun 6,1 persen dan 3,6 persen.
Secara umum, potensi penurunan produksi beras itu disebabkan oleh cuaca panas ekstrem akibat El Nino. Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan El Nino tersebut bakal berlangsung mulai Juli 2026 hingga Juli 2027.
Selain itu, khusus di sejumlah negara, penurunan produksi beras terjadi lantaran petani mengurangi luas areal tanam padi. Mereka melakukan hal itu karena kenaikan sejumlah komponen biaya produksi.
USDA memperkirakan biaya produksi beras per musim tanam padi di AS pada 2026 dan 2027 naik masing-masing menjadi 1.411 dolar AS per acre (0,4 hektar) dan 1.427 dolar AS per acre.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/b62dd462de907675c45177d7fea6ab4e-Screenshot_2026_06_20_233543.png)
Di AS, misalnya. Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan biaya produksi beras per musim tanam padi pada 2026 dan 2027 naik masing-masing menjadi 1.411 dolar AS per acre (0,4 hektar) dan 1.427 dolar AS per acre. Pada 2025, biaya produksi beras tersebut hanya 1.337 dolar AS per acre.
Pada 2026, kenaikan biaya produksi itu dipicu oleh kenaikan biaya pembelian pupuk dan penggunaan energi (bahan bakar, oli, dan listrik). Dalam setahun, biaya pembelian pupuk diperkirakan naik 9-13 persen, sedangkan biaya energi 33-41 persen.
Khusus pupuk, proyeksi USDA tersebut sejalan dengan survei terbaru Federasi Biro Pertanian Amerika (AFBF). Dari hasil survei 5.700 petani, sekitar 70 persen responden tidak mampu membeli semua pupuk yang dibutuhkan untuk musim tanam 2026 lantaran kenaikan berbagai biaya input terus membebani keuangan mereka.
Namun, meredanya ketegangan di Timur Tengah baru-baru ini dan berakhirnya konflik AS-Iran dapat memberikan sedikit kelegaan. Harga bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk diperkirakan akan turun pada 2027 seiring dibukanya Selat Hormuz.
Hanya saja, sejumlah komponen biaya produksi yang lain, yakni benih, bahan kimia, dan mesin/alat pertanian; jasa perbaikan dan tenaga kerja; serta sewa lahan, diperkirakan naik pada 2027. USDA bakal memutakhirkan data biaya produksi pertanian pada November 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/085790bc2306142fe59f8bb82fe5471e-COP_Update_Slide_3.png)
Kenaikan biaya produksi itu membuat para petani terus menghadapi margin keuntungan yang ketat. Beberapa petani bermodal kecil terpaksa mengurangi luas tanam padi.
”Kebijakan terbaru AS, yakni bantuan ekonomi bagi petani dan peningkatan jaring pengaman pertanian yang termasuk dalam Undang-Undang One Big Beautiful Bill, memberikan dukungan penting,” kata ekonom AFBF Faith Parum (AFBF, 18/6/2026).
Undang-Undang One Big Beautiful Bill adalah undang-undang rekonsiliasi pajak AS yang ditandatangani dan disahkan pada Juli 2025. Khusus sektor pertanian, UU tersebut mereformasi pajak warisan permanen, percepatan bantuan dampak bencana, dan perluasan keringanan pajak untuk pinjaman.
Di Amerika Latin dan Karibia, FAO mencatat, prospek harga gabah yang buruk di tengah kenaikan biaya produksi menyebabkan petani mengurangi penanaman padi. Hal itu terutama terjadi di Argentina, Brasil, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/15/4a1a3c55-7837-4373-9610-8edb252bcf96.jpg)
Sementara di Asia, pemerintah di kawasan ini melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak El Nino dan kenaikan biaya produksi pertanian. Pemerintah Filipina menggulirkan Paket Terpadu untuk Mata Pencarian, Industri, Pangan, dan Transportasi (UPLIFT) untuk memitigasi dampak krisis Timur Tengah. Di sektor pertanian, paket ini menyediakan bantuan subsidi BBM.
Pemerintah Thailand menggulirkan program Green Flag Fertilizer Plus, yakni pemberian diskon langsung untuk pembelian pupuk dan insentif tambahan bagi petani pemegang kartu tanah atau yang membeli pupuk organik. Adapun Sri Lanka dan Malaysia masing-masing meluncurkan program Peningkatan Subsidi Pupuk dan program Menaikkan Subsidi Solar bagi Petani.
FAO bahkan menyebutkan, kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem di Asia agak teratasi oleh ketersediaan air di sejumlah waduk atau bendungan. Percepatan musim tanam padi dan pengembangan varietas padi tahan perubahan iklim juga dilakukan dan dikembangkan sejumlah negara Asia. Bahkan, banyak negara di Asia, termasuk Indonesia, telah memiliki cadangan beras yang cukup mumpuni.
Kendati begitu, FAO mengingatkan, pada 2026/2027, potensi produksi beras dunia justru lebih rendah dibandingkan potensi konsumsinya yang mencapai 558,1 juta ton. Potensi konsumsi beras dunia pada periode tersebut meningkat 0,7 persen secara tahunan. Sejumlah faktor pemicunya adalah pertumbuhan penduduk serta penggunaan beras untuk pakan ternak dan bahan baku etanol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/33caaed376b2e755434faec6090f59e5-20260421AGS_26.jpg)
Bagaimana dengan produksi beras Indonesia? Pada 2026/2027, FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat setelah India, China, dan Bangladesh. Pada periode tersebut, produksi beras Indonesia diperkirakan 38,6 juta ton atau naik 0,2 persen dibandingkan proyeksi 2025/2026 sebesar 38,5 juta ton.
India berada di peringkat pertama dengan potensi produksi beras sebanyak 146,5 juta ton. Kemudian, China dan Bangladesh menyusul di posisi kedua dan ketiga dengan potensi produksi beras masing-masing 143,6 juta ton dan 41,3 juta ton.
Ramalan FAO atas produksi beras Indonesia ini terbilang manis. Mengapa? Pertama, proyeksi produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 yang diramalkan FAO jauh lebih tinggi dibandingkan target produksi beras Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Kementan RI menargetkan produksi beras nasional pada 2026 sebesar 34,77 juta ton. Adapun pada 2027, produksi beras ditargetkan naik menjadi 34,83 juta ton. Target produksi beras nasional bersebut juga tidak terpaut jauh dari realisasi produksi beras pada 2025 yang mencapai 34,69 juta ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/5f3747d6accfb2b4445ee992b508893c-20260617AGS_46.jpg)
Kedua, Indonesia juga bakal dilanda El Nino yang cukup lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI menyebutkan, sejak akhir Mei 2026, Indonesia sudah memasuki El Nino dengan intensitas lemah.
El Nino tersebut akan terus bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Intensitas terkuatnya diperkirakan terjadi pada Oktober-November 2026.
Ketiga, kala El Nino lemah hingga moderat melanda Indonesia, produksi beras nasional telah diramalkan turun. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan April 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) RI memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau turun 0,35 persen dibandingkan dengan Januari-Juli 2025 yang sebanyak 22,03 juta ton.
Di tengah ramalan manis FAO dan El Nino yang mulai melanda, Pemerintah RI optimistis ketahanan pangan nasional, terutama beras, tetap terjamin. Bahkan, Pemerintah RI menutup pintu impor beras medium untuk keperluan konsumsi.
Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional RI Andi Amran Sulaiman mengatakan, per 18 Juni 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebanyak 5,2 juta ton. Stok beras tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan nasional, termasuk dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga beras kala El Nino melanda.
”Yang terpenting, sejak 2025 sampai sekarang, pemerintah tidak lagi mengeluarkan izin impor beras medium untuk keperluan konsumsi,” ujarnya melalui siaran pers.
Proyeksi terbaru USDA tentang produksi beras Indonesia justru lebih masuk akal dibandingkan FAO.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/cca4edb7115b066091126ea44301b8fa-IMG_20260621_WA0005.jpg)
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Minggu (21/6/2026), menilai proyeksi FAO atas produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 tidak masuk akal. Ia mempertanyakan sumber data yang menjadi pijakan FAO untuk memproyeksikan produksi beras Indonesia.
”Tidak mungkin potensi produksi beras Indonesia mencapai 38 juta pada 2026 dan 2027. Selain tidak sejalan dengan KSA Padi BPS, produksi beras Indonesia pada tahun ini dan tahun depan diperkirakan turun akibat dampak El Nino serta serangan hama dan penyakit,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.
Dwi memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2026 turun sekitar 5 persen dibandingkan produksi beras pada 2025. Dari produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan sebanyak 34,69 juta ton, produksi beras nasional pada 2026 berpotensi turun 1,73 juta ton.
Menurut Dwi, proyeksi terbaru USDA tentang produksi beras Indonesia justru lebih masuk akal dibandingkan FAO. USDA memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 justru turun lantaran benar-benar memperhitungkan data KSA Padi BPS dan dampak El Nino.
Merujuk laporan USDA pada Juni 2026, produksi beras Indonesia pada 2025/2026 dan 2026/2027 masing-masing sebanyak 33,8 juta ton dan 33,4 juta ton. Potensi produksi tersebut turun dibandingkan realisasi produksi pada 2024/2025 yang mencapai 34,1 juta ton.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji