”Ramuan” Indonesia untuk Atasi ”Virus” Tarif Trump

Kata kuncinya adalah kerja sama, kebersamaan, dan sikap saling percaya. Itulah ramuan untuk bangkit dan itu terbukti.

14 Apr 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

Dengan kebijakan tarif baru impor yang diterapkannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump seolah tengah mengubrak-abrik tatanan global. Dalam sebuah kesempatan, dengan jemawa ia mengatakan, para kepala negara pasti segera menghubunginya, meminta untuk bernegosiasi, meminta ini atau itu, dan ia yakin Washington dengan mudah mendiktekan keinginannya.

Untuk beberapa hal, pada awalnya, dunia bersikap sebagaimana yang Trump inginkan. Akan tetapi, banyak pihak justru bersikap sebaliknya. Uni Eropa, China, dan Kanada membalas. Bahkan, China mengenakan tarif impor lebih dari 100 persen pada produk asal AS.

Situasi ini tentu tidak sehat. Banyak pihak telah menegaskan, perang dagang tidak memberikan keuntungan apa pun, kepada siapa pun.

Menilik jauh ke belakang, Perang Dunia I dan Great Depression, sebuah krisis ekonomi besar yang bermula di AS era tahun 1929, memberi banyak pelajaran. Kala itu, sebagai dampak krisis ekonomi dan trauma pada perang, banyak negara cenderung menutup diri. Namun, kebijakan isolasionisme itu justru tidak banyak memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kemajuan global.

Sebaliknya, merujuk Library of Congress, krisis ekonomi global kala itu justru memicu ketidakstabilan politik di banyak negara. Di Jerman, situasi itu memunculkan Adolf Hitler, veteran Perang Dunia I dan politisi yang banyak kebijakannya turut memicu terjadinya Perang Dunia II.

TOPSHOT - Enthusiasts dressed in replica US Army WWII-era military attire gather in Utah Beach on June 6, 2024, during the "D-Day" commemorations marking the 80th anniversary of the World War II Allied landings in Normandy. The D-Day ceremonies on June 6 this year mark the 80th anniversary since the launch of 'Operation Overlord', a vast military operation by Allied forces in Normandy, which turned the tide of World War II, eventually leading to the liberation of occupied France and the end of the war against Nazi Germany. (Photo by LOIC VENANCE / AFP)

Melewati masa sulit seusai perang, lahir kesadaran bahwa ada kebutuhan bersama untuk memulihkan ekonomi yang hancur. Merujuk sejumlah sumber, seperti Britannica dan laman resmi World Trade Organization, banyak negara melalui General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) sepakat untuk membangun tata perdagangan yang stabil dan setara. Sejumlah batasan, termasuk tarif dan beragam hambatan yang tidak perlu, lantas dihapuskan.

Dalam perjalanannya, kesepakatan yang lahir pada Oktober 1947 itu, di mana AS turut membidani, terus menguat seiring kebutuhan dunia untuk meliberalisasi perdagangan dan menggenjot pertumbuhan global. Lahirnya WTO pada 1995, yaitu sebagai tindak lanjut GATT, menandai lahirnya pasar bebas yang lebih kompetitif, adil, dan stabil. Rezim itu pula yang kemudian melahirkan tatanan ekonomi saat ini.

Sayangnya, tatanan itu mulai ”direcoki” oleh Trump dengan kebijakan yang cenderung mementingkan diri sendiri.

Peluang

Akan tetapi, selalu ada cahaya di ujung terowongan. Ketika pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak manusia, sejumlah negara sepakat membentuk ”ruang terbatas” bersama. Ruang itu diarahkan untuk menjaga perdagangan agar tetap berjalan dan merawat sikap saling percaya.

Langkah awal itu berhasil menjaga rantai pasok global tetap beroperasi, kinerja ekonomi terjaga. Dunia pun perlahan-lahan pulih dari deraan pandemi.

Penari membawakan tari selamat datang dalam pembukaan Presidensi G-20 Indonesia di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (1/12/2021). Indonesia resmi memegang Presidensi G-20 dengan mengusung misi bertema Recover Together, Recover Stronger hingga November 2022. Ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk berkiprah dengan lebih percaya diri di panggung global. *** Local Caption *** Para penari membawakan tari selamat datang dalam pembukaan Presidensi G20 Indonesia di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (1/12/2021). Indonesia secara resmi memegang presidensi G-20 dengan mengusung misi bertema Recover Together, Recover StrongerÓ selama setahun penuh terhitung mulai dari 1 Desember 2021 hingga Konferensi Tingkat Tinggi G-20 pada November 2022. Dalam pidato secara virtual Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia akan terus mendorong negara-negara G20 untuk menghasilkan terobosan-terobosan besar, membangun kolaborasi dan menggalang kekuatan.

Indonesia yang pada 2022 mengampu keketuaan G20 sengaja menggelorakan semboyan ”Recover Together, Recover Stronger” sebagai tajuk presidensi. Semboyan itu seolah ”melawan” kecenderungan yang sempat menguat di awal pandemi, yaitu ”virus” ingin selamat sendiri.

Lewat semboyan itu, Indonesia menegaskan untuk bisa pulih sepenuhnya dari pandemi. Hal yang mutlak diperlukan adalah kerja sama. Dengan semboyan itu, dalam relasi global, Indonesia menegaskan pentingnya multilateralisme.

Indonesia meyakini, dengan metode itu, tidak satu pun negara diabaikan dan ditinggalkan sendiri dalam keterpurukan. Kata kuncinya adalah kebersamaan dan sikap saling percaya. Itulah ramuan untuk bangkit dan itu terbukti.

Meskipun terkesan naif, ”ramuan” yang sama dapat diuji lagi untuk menanggapi tekanan Trump. Kerja sama kawasan dapat dioptimalkan untuk memperkuat nilai tawar, memperlebar alternatif pasar, serta memberi tekanan balik kepada Trump.

Ditempa oleh sejarah, dunia sejatinya tidak perlu gundah. Sebaliknya, dunia bisa melihatnya sebagai peluang.

Sebagaimana diketahui, Asia Tenggara dan Asia Timur kini dipandang sebagai kawasan dengan catatan positif. Selain secara politik stabil, kawasan ini juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, ditandai pula oleh kemajuan investasi dan teknologi.

Ada beragam perangkat yang dapat diandalkan, seperti kerja sama ekonomi ASEAN-China, ASEAN-Uni Eropa, integrasi ekonomi lewat platform ASEAN plus Three (ASEAN, Jepang, China, dan Korea Selatan), hingga CPTPP. Pendek kata, selalu ada jalan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono, Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .