Sejak pertempuran Thailand-Kamboja kembali pecah, luka lama sengketa perbatasan dua negara langsung memanas. Ranjau darat menjadi salah satu isu dalam ketegangan itu.
Bangkok-Phnom Penh telah menyepakati gencatan senjata pada 29 Juli 2025. Akan tetapi, pada Sabtu (9/8/2025), ada insiden lanjutan di perbatasan kedua negara. Salah satu ranjau darat meledak dan melukai sejumlah tentara Thailand. Kamboja-Thailand saling tuding soal siapa yang bersalah dalam insiden itu.
Ranjau tersebar di Kamboja selama puluhan tahun. Sebagian sisa perang masa lalu. Ada ranjau yang dipasang. Ada juga sisa bom yang tidak meledak kala dijatuhkan bertahun lalu. Tiap tahun selalu saja ada orang tewas dan cedera akibat bom dan ranjau itu.
Selain ranjau, kedua tetangga itu sering ribut soal kawat berduri. Saling pasang dan saling geser jadi masalah. Ranjau dan kawat mengganjal kedua negara anggota ASEAN itu.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, sengketa Thailand-Kamboja akan diselesaikan melalui Joint Border Committee (JBC). Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia terlibat dalam komite itu.
Dekan Jurusan Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Mayor Jenderal Oktaheroe Ramsi optimistis mekanisme ASEAN dapat menjadi jalan keluar dalam penyelesaian sengketa Thailand–Kamboja. ”Jalur diplomat hingga para personel militer ASEAN pun bisa menjadi jembatan komunikasi dan mencari jalan keluar damai sesuai Traktat ASEAN untuk selalu mengedepankan cara damai,” ujarnya.
Akademisi sekaligus diplomat senior Singapura, Kishore Mahbubani, mengatakan, sejatinya ASEAN adalah keajaiban. Sebab, meski sangat beragam suku bangsa, agama, dan bahasa, ASEAN bisa menjalin kerja sama dan tumbuh bersama.
Telah berulang kali ASEAN membantu Kamboja-Thailand mengelola sengketa perbatasan. Hal itu antara lain dilakukan Indonesia pada 2011 lewat pertemuan Bali.
Perang masa lalu
Relasi Kamboja-Thailand naik turun. Dulu, kala sebagian Kamboja masih dikenal sebagai Kerajaan Khmer dan Thailand masih dikenal sebagai Kerajaan Siam, ada koalisi militer.
Persekutuan itu menghadapi Kerajaan Cham. Kini, wilayah Cham terpecah menjadi Kamboja dan Vietnam.
Setelah itu, Siam menyerang Khmer. Sampai 1430, Khmer beribu kota di kawasan Angkor. Serangan Siam memaksa Khmer memindahkan ibu kota ke Phnom Penh.
Kala kedua kerajaan itu saling serang, muncul kerajaan baru di sekitar. Burma lahir di barat. Sementara Dai Viet berkembang di timur Kamboja.
Bangsa Dai Viet perlahan-lahan merebut Kampuchea Krom atau Kamboja Bawah dari Khmer. Wilayah tersebut adalah daerah persawahan subur Delta Sungai Mekong di selatan kota Ho Chi Minh. Daerah itu menjadi pusat produksi beras Vietnam.
Sementara Konbaung dari Burma menyerbu Siam sampai menghancurkan ibu kotanya, Ayuthaya pada 1775-1776. Serangan itu memaksa ibu kota Siam dipindahkan ke Rattanakosin. Kota itu juga dikenal dengan nama lebih singkat, Khrung Thep Sri Mahanakorn alias Bangkok.
Pulih dari serangan Konbaung, Siam kembali menyerang Khmer. Di masa pemerintahan Raja Chulalangkorn atau Rama V, Siam menduduki Siem Reap dan Battambang.
Serangan itu mendorong Dinasti Norodom meminta bantuan Paris dan menjadikan Khmer sebagai wilayah perlindungan Perancis. Bersama Laos dan Vietnam, wilayah itu dikenal sebagai Indo-China.
Selepas Perang Dunia II, ganti bangsa-bangsa Indo-China melawan Perancis yang dianggap sebagai penjajah. Perang kemerdekaan dilanjut perang saudara berlangsung puluhan di sebagian Indo-China.
Perang saudara di Kamboja salah satu yang tersengit dan terkejam. Jejaknya diabadikan di berbagai sudut Kamboja. Mantan Perdana Menteri Kamboja yang kini jadi Presiden Senat, Hun Sen, salah satu prajurit lalu panglima dalam perang saudara itu.
Rekaman percakapan telepon Hun Sen dengan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra jadi pemantik baru konflik Bangkok-Phnom Pehn. Hun Sen dilaporkan sangat aktif selama rangkaian pertempuran.
Lama bersitegang
Sejak lama, Kamboja-Thailand bersitegang soal kebudayaan Siam-Khmer. Mereka saling tuding satu sama lain sebagai pengklaim kebudayaan pihak lain.
Rebutan kompleks candi Preah Vihear hanya salah satu wujudnya. Berpegang pada sejarah dan diperkuat hukum internasional, Kamboja menegaskan kepemilikan atas candi Hindu tersebut.
Kompleks itu dibangun Kerajaan Khmer lebih dari 1.000 tahun lalu. Lalu, perjanjian Perancis-Siam 1904 menyepakati kompleks candi itu termasuk wilayah Indo-China. Siam disebut setuju pada perjanjian 1904 dan dilanjutkan pada kesepakatan 1907.
Oleh karena itu, Mahkamah Internasional (ICJ) pada 1962 dan 2013 menyebut kompleks candi bagian dari Kamboja. Setiap kali Bangkok mempersoalkan perbatasan di sekitar candi, Kamboja mengajak Thailand menyelesaikan ke ICJ. Thailand terus menolak dan ingin penyelesaian secara bilateral.
Perang media sosial, di dunia maya, konfrontasi masyarakat dan pendukung Thailand dan Kamboja pun tidak kalah sengit. Pendukung Kamboja menuduh Thailand sebagai ”Thiefland”. Hal itu antara lain merujuk berbagai produk budaya semisal busana Sbai khas perempuan Khmer diakui sebagai busana Thai, hingga sengketa tanah di perbatasan.
Sebaliknya pendukung Thailand menuduh Kamboja sebagai ”Claimbodia”. Julukan itu karena Thailand merasa Kamboja tukang klaim atas identitas budaya hingga kepemilikan tanah di perbatasan.
Padahal, sejak dulu sebenarnya bangsa-bangsa Asia Tenggara saling bercampur kebudayaannya. Contohnya riwayat Panji.
Pada masa Raja Rama IV – Raja Mongkut (1851-1868), diboyong seni pertunjukan Panji Kuda Semirang di Kerajaan Siam. Di sana hingga kini, cerita Panji dari Jawa digemari dan berkembang di masyarakat Thailand sebagai Kisah Inao (pelafalan Thai untuk Inu Kertapati).
Di bidang busana, Museum Ratu Sirikit juga memajang aneka batik terbaik dari Yogyakarta dan Surakarta. Batik-batik itu Rama V dari tiga kali kunjungan ke Jawa.
Sejak pertempuran Thailand-Kamboja kembali pecah, luka lama sengketa perbatasan dua negara langsung memanas. Ranjau darat menjadi salah satu isu dalam ketegangan itu.
Bangkok-Phnom Penh telah menyepakati gencatan senjata pada 29 Juli 2025. Akan tetapi, pada Sabtu (9/8/2025), ada insiden lanjutan di perbatasan kedua negara. Salah satu ranjau darat meledak dan melukai sejumlah tentara Thailand. Kamboja-Thailand saling tuding soal siapa yang bersalah dalam insiden itu.
Ranjau tersebar di Kamboja selama puluhan tahun. Sebagian sisa perang masa lalu. Ada ranjau yang dipasang. Ada juga sisa bom yang tidak meledak kala dijatuhkan bertahun lalu. Tiap tahun selalu saja ada orang tewas dan cedera akibat bom dan ranjau itu.
Serial Artikel
Thailand-Kamboja Sepakat Gencatan Senjata
Gencatan senjata berlaku segera dan tanpa syarat. Menlu dan Menhan Kamboja-Thailand segera bertemu.
Selain ranjau, kedua tetangga itu sering ribut soal kawat berduri. Saling pasang dan saling geser jadi masalah. Ranjau dan kawat mengganjal kedua negara anggota ASEAN itu.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan, sengketa Thailand-Kamboja akan diselesaikan melalui Joint Border Committee (JBC). Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia terlibat dalam komite itu.
Dekan Jurusan Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Mayor Jenderal Oktaheroe Ramsi optimistis mekanisme ASEAN dapat menjadi jalan keluar dalam penyelesaian sengketa Thailand–Kamboja. ”Jalur diplomat hingga para personel militer ASEAN pun bisa menjadi jembatan komunikasi dan mencari jalan keluar damai sesuai Traktat ASEAN untuk selalu mengedepankan cara damai,” ujarnya.
Akademisi sekaligus diplomat senior Singapura, Kishore Mahbubani, mengatakan, sejatinya ASEAN adalah keajaiban. Sebab, meski sangat beragam suku bangsa, agama, dan bahasa, ASEAN bisa menjalin kerja sama dan tumbuh bersama.
Telah berulang kali ASEAN membantu Kamboja-Thailand mengelola sengketa perbatasan. Hal itu antara lain dilakukan Indonesia pada 2011 lewat pertemuan Bali.
Perang masa lalu
Relasi Kamboja-Thailand naik turun. Dulu, kala sebagian Kamboja masih dikenal sebagai Kerajaan Khmer dan Thailand masih dikenal sebagai Kerajaan Siam, ada koalisi militer.
Persekutuan itu menghadapi Kerajaan Cham. Kini, wilayah Cham terpecah menjadi Kamboja dan Vietnam.
Setelah itu, Siam menyerang Khmer. Sampai 1430, Khmer beribu kota di kawasan Angkor. Serangan Siam memaksa Khmer memindahkan ibu kota ke Phnom Penh.
Kala kedua kerajaan itu saling serang, muncul kerajaan baru di sekitar. Burma lahir di barat. Sementara Dai Viet berkembang di timur Kamboja.
Serial Artikel
Gelora Perdamaian dari Negeri Angkor Wat
Kemauan untuk berjalan menuju perdamaian membimbing Kamboja menjemput mimpi menjadi tuan rumah SEA Games. Dahaga 64 tahun yang tertunda akhirnya terbayarkan
Bangsa Dai Viet perlahan-lahan merebut Kampuchea Krom atau Kamboja Bawah dari Khmer. Wilayah tersebut adalah daerah persawahan subur Delta Sungai Mekong di selatan kota Ho Chi Minh. Daerah itu menjadi pusat produksi beras Vietnam.
Sementara Konbaung dari Burma menyerbu Siam sampai menghancurkan ibu kotanya, Ayuthaya pada 1775-1776. Serangan itu memaksa ibu kota Siam dipindahkan ke Rattanakosin. Kota itu juga dikenal dengan nama lebih singkat, Khrung Thep Sri Mahanakorn alias Bangkok.
Pulih dari serangan Konbaung, Siam kembali menyerang Khmer. Di masa pemerintahan Raja Chulalangkorn atau Rama V, Siam menduduki Siem Reap dan Battambang.
Serangan itu mendorong Dinasti Norodom meminta bantuan Paris dan menjadikan Khmer sebagai wilayah perlindungan Perancis. Bersama Laos dan Vietnam, wilayah itu dikenal sebagai Indo-China.
Selepas Perang Dunia II, ganti bangsa-bangsa Indo-China melawan Perancis yang dianggap sebagai penjajah. Perang kemerdekaan dilanjut perang saudara berlangsung puluhan di sebagian Indo-China.
Perang saudara di Kamboja salah satu yang tersengit dan terkejam. Jejaknya diabadikan di berbagai sudut Kamboja. Mantan Perdana Menteri Kamboja yang kini jadi Presiden Senat, Hun Sen, salah satu prajurit lalu panglima dalam perang saudara itu.
Rekaman percakapan telepon Hun Sen dengan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra jadi pemantik baru konflik Bangkok-Phnom Pehn. Hun Sen dilaporkan sangat aktif selama rangkaian pertempuran.
Serial Artikel
Kisah Panji, Ingatan Kolektif Dunia yang Rawan Terlupakan
Meski jauh dari sejahtera, seniman wayang ”wong” dan tari topeng di Cirebon ingin menjaga kisah Panji tetap terjaga.
Sejak lama, Kamboja-Thailand bersitegang soal kebudayaan Siam-Khmer. Mereka saling tuding satu sama lain sebagai pengklaim kebudayaan pihak lain.
Rebutan kompleks candi Preah Vihear hanya salah satu wujudnya. Berpegang pada sejarah dan diperkuat hukum internasional, Kamboja menegaskan kepemilikan atas candi Hindu tersebut.
Kompleks itu dibangun Kerajaan Khmer lebih dari 1.000 tahun lalu. Lalu, perjanjian Perancis-Siam 1904 menyepakati kompleks candi itu termasuk wilayah Indo-China. Siam disebut setuju pada perjanjian 1904 dan dilanjutkan pada kesepakatan 1907.
Oleh karena itu, Mahkamah Internasional (ICJ) pada 1962 dan 2013 menyebut kompleks candi bagian dari Kamboja. Setiap kali Bangkok mempersoalkan perbatasan di sekitar candi, Kamboja mengajak Thailand menyelesaikan ke ICJ. Thailand terus menolak dan ingin penyelesaian secara bilateral.
Serial Artikel
Preah Viehar, Perebutan Candi Hindu di Negara Buddha
Rebutan Preah Viehar hanya salah satu masalah perbatasan di antara anggota ASEAN. Sudah puluhan tahun sebagian besar masalah tak selesai.
Perang media sosial, di dunia maya, konfrontasi masyarakat dan pendukung Thailand dan Kamboja pun tidak kalah sengit. Pendukung Kamboja menuduh Thailand sebagai ”Thiefland”. Hal itu antara lain merujuk berbagai produk budaya semisal busana Sbai khas perempuan Khmer diakui sebagai busana Thai, hingga sengketa tanah di perbatasan.
Sebaliknya pendukung Thailand menuduh Kamboja sebagai ”Claimbodia”. Julukan itu karena Thailand merasa Kamboja tukang klaim atas identitas budaya hingga kepemilikan tanah di perbatasan.
Padahal, sejak dulu sebenarnya bangsa-bangsa Asia Tenggara saling bercampur kebudayaannya. Contohnya riwayat Panji.
Pada masa Raja Rama IV – Raja Mongkut (1851-1868), diboyong seni pertunjukan Panji Kuda Semirang di Kerajaan Siam. Di sana hingga kini, cerita Panji dari Jawa digemari dan berkembang di masyarakat Thailand sebagai Kisah Inao (pelafalan Thai untuk Inu Kertapati).
Di bidang busana, Museum Ratu Sirikit juga memajang aneka batik terbaik dari Yogyakarta dan Surakarta. Batik-batik itu Rama V dari tiga kali kunjungan ke Jawa.