TIMUR TENGAH

Ranjau-ranjau Laut di Selat Hormuz

Dalam simulasi perang laut AS-Iran tahun 2002, Angkatan Laut AS mengalami kerugian besar. Faktor ranjau laut menjadi salah satu senjata Iran dalam melawan agresor.

15 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional

AFP/ROYAL THAI NAVY

Oleh Iwan Santosa

Sudah dua pekan berlalu sejak Amerika Serikat-Israel menggempur Iran pada 28 Februari 2026, kini salah satu dampak terbesar konflik itu adalah terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Selain blokade oleh Iran, selat yang menjadi jalur lintas 20 persen pasokan minyak dunia itu kini kian tidak aman.

Dilaporkan The New York Times pada Jumat (13/3/2026), AS menuding Iran memasang ranjau di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht Ravanchi membantah tudingan Iran sengaja meranjau Selat Hormuz. ”Itu tidak benar,” kata Ravanchi.

Kalaupun akhirnya menebar ranjau, Keputusan Iran kini tak banyak berbeda dengan hampir setengah abad lalu. Pada tahun 1980-an, di tengah perang Irak-Iran, Badan Intelijen Pusat (CIA) menduga Iran menghindari pemasangan ranjau di Selat Hormuz. Menurut sejarawan perang laut AS, Stephen Phillips, Iran waktu itu dinilai khawatir ranjau akan mengenai kapal mereka sendiri atau milik AS.

Ternyata, Iran membuat ladang ranjau di Teluk Persia. Korbannya termasuk frigat AS, USS Samuel B Roberts, yang karam setelah terkena ranjau pada April 1988.

Insiden itu bagian yang disebut sebagai perang tanker. Irak dan Iran sama-sama memasang ranjau laut di Teluk Persia.

Oleh karena itu, ranjau laut di Teluk Persia telah lama dianggap sebagai ancaman serius di sana. Pada Maret 2025, intelijen AS memasukkan ranjau laut sebagai salah satu ancaman paling serius di Selat Hormuz

infografik
AFP
Perang Timur Tengah: Hanya Sedikit Kapal yang Masih Melintasi Selat Hormuz

Sementara pada 2002, AS pernah menggelar latihan bertajuk Millenium Challenge. Dalam latihan dengan skenario AS menyerang Iran tersebut, salah satu ancaman utama yang dibahas adalah bahaya ranjau laut Iran di Selat Hormuz. Keberadaannya membahayakan kapal permukaan dan kapal selam yang melintas di selat sempit tersebut.

Ketika itu latihan tersebut sempat dihentikan. Pemicunya adalah Angkatan Laut AS menderita kerugian sangat besar.

Saat skenario serangan dilakukan, salah satu kapal induk AS menjadi korban. Alutsista strategis itu tenggelam oleh serangan rudal, torpedo, dan tentu saja ranjau laut.

Muncul kembali

Kali ini, dalam pertempuran yang sungguh-sungguh terjadi, isu ancaman ranjau laut di Selat Hormuz kembali diembuskan Washington. Dalam beberapa hari terakhir, Iran, sebagaimana tuduhan AS, telah menabur lusinan ranjau laut di Selat Hormuz. Salah satu sumber yang dikutip kantor berita Reuters mengatakan, sebagian besar lokasi penempatan ranjau-ranjau laut itu tidak diketahui.

Langkah tersebut diduga sebagai strategi Iran untuk menghambat kelancaran lalu lintas niaga. Pada Rabu (11/3/2026), Komando Militer Iran menyatakan, dunia harus siap menghadapi guncangan akibat lonjakan harga migas yang mencapai 200 dolar AS per barel.

Di sisi lain, AS mengklaim, mereka siap menangani ranjau-ranjau itu. Sebelumnya AS mengklaim telah menghancurkan 16 kapal pemasang ranjau yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Iran.

AS mengklaim sudah melumpuhkan kemampuan operasional Angkatan Laut Iran termasuk dalam pemasangan ranjau. Bersamaan klaim AS itu, Presiden Trump mengancam Iran untuk segera menyingkirkan ranjau-ranjau laut yang telah mereka pasang di Selat Hormuz atau Teheran akan menghadapi kemarahannya.

The Independent pada Kamis (12/3) mengutip Institut Kajian Perang Amerika Serikat menyebut, sekurangnya 10 ranjau laut sudah ditanam Iran. Hal itu memperkuat blokade laut. Selain itu, lembaga maritim Inggris UKMTO melaporkan terjadi serangan terhadap 16 kapal di sekitar Teluk Arab dekat Selat Hormuz dan Teluk Oman sepanjang 12 hari serangan AS-Israel berlangsung.

Foto tanggal 11 Maret 2026 memperlihatkan tanker Thailand "Mayuree Naree" yang membawa minyak mentah terbakar setelah terkena serangan saat berusaha menembus Selat Hormuz ke arah Teluk Oman. Sebanyak 20 ABK berhasil diselamatkan. TOPSHOT - This handout photo taken on March 11, 2026 and released by the Royal Thai Navy shows smoke rising from the Thai bulk carrier 'Mayuree Naree' near the Strait of Hormuz after an attack. A Thai bulk carrier travelling in the crucial Strait of Hormuz was attacked March 11, with 20 crew members rescued so far, the Thai navy said. (Photo by Handout / ROYAL THAI NAVY / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / ROYAL THAI NAVY " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS -

Peneliti Institut Hubungan Internasional Prancis (IFRI), Elie Tenenbaum, menyebut Iran memiliki hingga 6.000 ranjau laut. Di gudang Iran antara lain ada juga ”ranjau hanyut”.

Ranjau itu dapat dihanyutkan di permukaan mengikuti arus atau ditambatkan di jangkar. Ketika bersentuhan dengan lambung kapal, ranjau itu meledak."Ini adalah ranjau yang paling sederhana, paling murah, dan ancaman utama di Selat Hormuz," kata mantan perwira Angkatan Laut itu.

Iran juga memiliki ranjau bawah permukaan. Ranjau dapat meledak jika ada kapal besar melintas di atasnya.

Selain itu, ada juga dugaan Iran memakai perahu cepat untuk memasang peledak di lambung kapal. "Iran telah melengkapi banyak kapal kecil Ashoora-nya dengan rel ranjau yang mampu menampung setidaknya satu ranjau,” demikian tercantum di laporan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pada 2019.

Institut AL AS menyebut ranjau laut sebagai senjata paling merusak yang pernah dihadapi AL AS sejak Perang Dunia II. Iran diketahui memiliki aneka ranjau laut untuk menjaga perairan Teluk Persia dan Teluk Oman.

The Wall Street Journal terbitan Rabu (11/3/2026) menyebutkan beragam ranjau laut milik Iran, di antaranya Maham 1, Marham 1, Maham 2, Maham 3, Maham 5, dan Maham 6. Ranjau tersebut ada yang ditambatkan di dasar laut dan ada pula yang ditebar di permukaan laut.

Varian ranjau Maham 1 dan Marham 1 diapungkan di laut sedalam 1-3 meter. Kedua jenis ranjau laut itu merupakan model yang ditambatkan pada rantai.

Ranjau tersebut bisa meledak karena perubahan tekanan air ataupun sensor akustik yang menandai adanya keberadaan kapal yang melintas. Maham 1 memuat bahan peledak hingga 120 kilogram dengan teknologi lawas tahun 1980-an.

Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Sepanews pada Senin (16/2/2026)  menunjukkan target yang terkena tembakan saat latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut Iran di Selat Hormuz.

Varian ranjau Maham 2 bisa ditanam di kedalaman 10-40 meter untuk menyasar kapal selam, kapal permukaan dengan bobot lebih dari 250 ton. Adapun Maham 3 dapat menjejak keberadaan kapal dari jarak 3 meter dari segala arah lalu menentukan posisi sebelum meledakkan diri.

Ranjau Maham 5 dipasang oleh kapal kecil atau ditambatkan di perairan dangkal. Ranjau ini berfungsi menjagai pesisir pantai dan pulau dari kapal pendarat musuh.

Jenis terakhir adalah Maham 6 yang diluncurkan dari kapal lalu terbenam di kedalaman 15 meter. Jenis ranjau ini menyasar kapal selam.

Penebaran ranjau tersebut dapat dilakukan oleh kapal permukaan dan kapal selam. Angkatan Laut AS mengklaim sudah menenggelamkan kapal selam Kelas Kilo milik AL Iran sehingga diyakini membatasi kemampuan Iran menyebar ranjau di Selat Hormuz.

Meski demikian, AS melihat Iran tidak kehilangan akal. AS meyakini Iran menggunakan pasukan katak dan kapal cepat (disamarkan sebagai kapal nelayan) untuk menabur ranjau di Selat Hormuz. Iran memiliki milisi maritim yang membantu tugas-tugas Angkatan Laut dan Garda Revolusi.

Mereka dapat digerakkan untuk turut menebar ranjau tempel. Tipe ranjau-ranjau ini di antaranya ranjau 01 dan Maham 4. Ranjau 01 melekat ke permukaan logam di kapal sasaran, sementara Maham 4 dipasang penyelam ke badan kapal sasaran dengan daya magnet atau dengan paku elektrik.

Direktur Institut Studi Perang dan Diplomasi di Baku, Azerbaijan, Jahangir E Arasli, mengatakan, ranjau laut sangat efektif digunakan Iran dalam Perang Asimetris melawan AS-Israel. ”Sasaran utama Iran adalah mengganggu lalu lintas pelayaran niaga di Selat Hormuz yang akan mengguncang dunia dan mengacaukan agenda AS dan sekutunya,” kata Arasli.

Masalah besarnya saat ini adalah, lima kapal penyapu ranjau yang pernah beroperasi di Teluk Persia telah ditarik. AS menarik seluruh empat kapalnya Januari lalu.

Sementara Inggris lebih dulu secara bertahap empat kapalnya. Kapal terakhir Inggris meninggalkan Teluk Persia pada Desember 2025. Adapun delapan kapal Perancis tak ada satupun di Timur Tengah.

(REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan