Tanpa gelar juara dan kekalahan pada babak awal telah menjadi hal yang lumrah bagi Novak Djokovic saat ini. Dia tersingkir pada babak kedua Monte Carlo Masters.
10 Apr 2025 10:53 WIB · Olahraga
Tak ada ekspektasi tinggi dari Novak Djokovic dalam turnamen ATP Masters 1000 Monte Carlo yang berlangsung 6-13 April. Namun, kekalahan tetaplah menyakitkan, apalagi ketika tak dapat bermain sesuai harapan.
Saat mengungkapkan semua perasaannya pada konferensi pers setelah kalah pada babak kedua, Djokovic seperti merasakan kehampaan. Dia kalah dari Alejandro Tabilo dengan skor 3-6, 4-6 di Monte Carlo County Club, Monaco, Rabu (9/4/2025) sore waktu setempat atau Rabu tengah malam waktu Indonesia.
Sebelum Djokovic tampil, Carlos Alcaraz yang menjadi unggulan kedua hampir membuat para unggulan teratas habis pada babak-babak awal. Alcaraz bisa menyusul unggulan pertama, Alexander Zverev, yang kalah pada babak kedua, Selasa. Namun, setelah kehilangan set pertama dan berhadapan dengan break point Francisco Cerundolo pada awal set kedua, Alcaraz bangkit, lalu menang 3-6, 6-0, 6-1.
Hasil yang didapat Djokovic setelah menjuarai Monte Carlo Masters 2013 dan 2015 memang tak begitu baik. Dari sembilan penampilan setelah 2015, dia hanya sekali melewati perempat final, yaitu ketika bertahan hingga semifinal pada 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/e8508021fe85ed27ed1a3f8ba5274ea8-wires_photo_2025_04_10T104216.438.jpg)
Djokovic lebih sering tersingkir pada babak kedua atau ketiga, yaitu sebanyak enam kali, termasuk pada 2025. Hasil-hasil tersebut seperti memperlihatkan ketidaknyamannya bermain di Monte Carlo meski dia tinggal di kota tersebut, selain di tanah kelahirannya, Belgrade, Serbia.
Kekalahan dari Tabilo, petenis Chile ranking ke-32 dunia, menjadi kekalahan kedua Djokovic setelah mereka bertemu pada satu pertemuan sebelumnya, yaitu pada babak kedua Roma Masters 2024.
Tabilo menjadi salah satu dari hanya sembilan petenis/mantan petenis yang selalu menang pada dua pertemuan awal dengan Djokovic. Delapan yang lainnya, berdasarkan catatan ATP, adalah Rafael Nadal, Roger Federer, Fernando Verdasco, Olivier Rochus, Nick Kyrgios, Jiri Vesely, Marat Safin, dan Guillermo Coria. Di antara pendeknya daftar itu, Vesely dan Tabilo (berstatus petenis aktif) belum kalah dari Djokovic.
Namun, di balik catatan pertemuan tersebut, Djokovic merasa lebih kecewa karena tak bisa bermain dengan standar kemampuannya saat melawan Tabilo di Lapangan Rainier III. Djokovic kalah pada hampir semua statistik pertandingan, salah satunya dalam perolehan poin dari pengembalian servis. Padahal, pemilik 24 gelar juara Grand Slam ini dikenal sebagai petenis dengan pengembalian servis terbaik. Pukulannya bisa berbalik menekan lawan yang seharusnya bisa mendapat poin gratis dari servisnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/dd08c46f4268a9cf6359416550094e8b-wires_photo_2025_04_10T104120.982.jpg)
Djokovic hanya mendapat tujuh poin dari 37 pengembalian servis pertama (19 persen) dan 11 poin dari 22 pengembalian servis kedua (50 persen). Hal lain yang mencolok dari performanya adalah sebanyak 29 unforced error, hampir dua kali lipat dari 16 unforced error Tabilo.
”Saya memang tak punya ekspektasi tinggi karena tahu akan berhadapan dengan petenis bagus, tetapi saya tak menduga bisa bermain sejelek ini. Performa tadi bagai bencana. Saya minta maaf kepada mereka yang menonton penampilan saya tadi,” kata Djokovic yang tak dapat menyembunyikan kekecewaan pada raut wajah dan nada bicaranya yang pelan.
Performa dan kekalahan pada babak awal di Monte Carlo Masters, salah satu turnamen pemanasan menuju Grand Slam Perancis Terbuka, 25 Mei-8 Juni, menjadi hal yang lumrah bagi mantan petenis nomor satu dunia itu sejak 2024.
Meskipun masih memiliki target tinggi, di antaranya mendapat gelar juara ke-100 dan gelar Grand Slam ke-25, tubuhnya yang berusia 37 tahun kian kesulitan mengimbangi ambisinya. Setinggi apa pun level kemampuannya, kecepatan gerak dan daya tahan fisik Djokovic, kini, tertinggal dari para pesaing yang lebih muda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/2251846f38fd299dadcbbfb783798001-wires_photo_2025_04_10T104131.506.jpg)
Pencapaian dalam 16 bulan terakhir menjadi indikator kondisinya tersebut. Meski meraih medali emas Olimpiade Paris 2024, dia gagal menjuarai Grand Slam untuk pertama kalinya sejak 2017. Dari sembilan turnamen ATP Masters 1000, Djokovic hanya tampil pada empat turnamen dengan hasil terbaik final di Shanghai Masters.
Medali emas Paris 2024 menjadi gelar terakhir bagi satu-satnya petenis ”Big Three” yang masih aktif tersebut setelah Federer dan Nadal pensiun. Djokovic memiliki kesempatan terbesar meraih gelar ke-100 ketika mencapai final Miami Masters, Maret, tetapi dia kalah dari petenis Ceko berusia 19 tahun, Jakub Mensik.
Djokovic menyatakan bahwa target besarnya pada persaingan di lapangan tanah liat, yang berlangsung April-Juni, adalah Perancis Terbuka. Namun, kesulitan yang dihadapi sejak 2024 tampaknya tak akan berakhir di lapangan tanah liat Roland Garros nanti. (AFP/AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .