Berlari dapat memicu kebahagiaan seseorang karena dapat menghasilkan hormon endorfin. Dengan rutin berlari, seseorang bisa memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
14 Des 2024 19:12 WIB · Olahraga
Sama halnya dengan aktivitas fisik lainnya, olahraga lari memang melelahkan. Namun, saat ini banyak masyarakat yang mengesampingkan kelelahan itu bahkan rela merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk mengikuti lomba lari dari kategori 5K, 10K, half marathon, hingga full marathon di berbagai daerah, termasuk luar negeri.
Antusiasme dalam berlari dan mengikuti berbagai ajang lomba lari ditunjukkan oleh Andri Maulana (30). Pegawai di salah satu perusahaan swasta di Jakarta ini mulai menggemari olahraga lari dan mengikuti berbagai perlombaan untuk kategori 5K dan 10K sejak tahun lalu.
Awalnya, Andri pertama kali melakukan olahraga lari untuk sekadar keluar dari aktivitas pekerjaan yang menjenuhkan. Selama ini, ia nyaris tidak ada waktu untuk berolahraga karena jadwal pekerjaan yang sangat padat dari pagi hingga malam hari. Sementara waktu senggang di akhir pekan ia gunakan untuk berlibur atau istirahat di kediamannya.
Pada awal 2023, Andri kemudian memutuskan untuk berlari pada malam hari setelah pulang kerja di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Lambat laun, ia mulai membangun kebiasaan berlari sebelum ataupun setelah pulang kerja. Lelah setelah seharian beraktivitas dan bekerja terkadang tak menyurutkannya untuk tetap berlari.
Tiga bulan sejak mulai berlari atau tepatnya pada Maret 2023, Andri untuk pertama kalinya mencoba mengikuti lomba lari Jabar Run 10K di Kota Bogor, Jawa Barat. Berbekal latihan rutin sepulang kerja, ia akhirnya bisa menyelesaikan lari dengan catatan waktu 1 jam 26 menit 38 detik dari batas waktu akhir (cut off time/COT) 2 jam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/3d630a0253265cccaa0d436e972dc0cc-WhatsApp_Image_2024_12_14_at_18.29.25.jpeg)
Saya berlari tidak ingin membuktikan apa pun atau ke siapa pun. Saya berlari dan mengikuti lomba semata-mata karena rasa suka menjalani olahraga ini.
Partisipasi dalam Jabar Run 10K 2023 seolah menjadi pembuka bagi Andri untuk terus mendalami olahraga lari dan mengikuti berbagai perlombaan. Ia bahkan beberapa kali mengikuti lomba lari di luar kota karena terkesan dengan antusiasme masyarakat.
”Mengikuti lomba lari di luar kota pastinya sangat melelahkan. Apalagi besoknya kita masih harus beraktivitas dan bekerja. Akan tetapi, rasa lelah setelah berlari seolah terganti dengan kebahagiaan karena banyak pelari yang juga merasakan hal yang sama,” ujarnya ketika dihubungi, Sabtu (14/12/2024).
Setelah beberapa kali mengikuti lomba lari kategori 5K dan 10K, tahun depan Andri mulai menyiapkan diri untuk ”naik level” ke kategori selanjutnya, yakni half marathon. Ia menyadari pentingnya menyiapkan fisik dan mental karena harus berlari sejauh 21 kilometer.
Ia juga sudah terbayang akan rasa lelah yang siap menghampiri setelah mengikuti half marathon. Namun, Andri meyakini rasa lelah tersebut akan berubah menjadi kebugaran raga dan kebahagiaan jiwa karena ia terpacu untuk mengalahkan diri sendiri.
”Saya berlari tidak ingin membuktikan apa pun atau ke siapa pun. Saya berlari dan mengikuti lomba semata-mata karena rasa suka menjalani olahraga ini. Tidak ada kebahagiaan selain menjalani aktivitas yang kita sukai,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/746ad602-565a-4a7b-8050-00c154318986_jpg.jpg)
Banyak hasil penelitian telah menunjukkan bahwa berlari dapat memicu kebahagiaan seseorang karena dapat menghasilkan hormon endorfin. Endorfin adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh untuk membantu meredakan nyeri, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati atau kebahagiaan.
Salah satu penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti dari Technische Universitat Muenchen dan University of Bonn, Jerman, yang terbit di jurnal Cerebral Cortex pada 2008. Peneliti melakukan analisis citra dan menemukan adanya peningkatan pelepasan endorfin di area tertentu di otak atlet yang melakukan lari santai selama dua jam.
Selain itu, dengan membandingkan gambar sebelum dan setelah dua jam lari jarak jauh, penelitian tersebut dapat menunjukkan ikatan ligan—molekul yang membentuk senyawa kompleks—menurun secara signifikan. Temuan ini mendukung argumen tentang peningkatan produksi opioid secara alami saat melakukan lari jarak jauh.
Sementara hasil penelitian di University of Montreal Hospital Research Centre (CRCHUM), Kanada, yang diterbitkan di jurnal Cell Metabolism tahun 2015 menunjukkan fenomena semangat atau antusiasme dalam berlari juga disebabkan oleh hormon dopamin yang memicu rangsangan motivasi.
”Kami menemukan bahwa efek positif dari aktivitas ketahanan seperti lari dimodulasi oleh leptin, hormon utama dalam metabolisme yang membantu mengendalikan rasa kenyang. Leptin menghambat aktivitas fisik melalui neuron dopamin di otak," kata Stephanie Fulton, peneliti di CRCHUM, dikutip dari Sciencedaily.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/22/5b7d7ab3-65a5-4f02-82a8-4dda3e0b6b81.jpg)
Menurut Fulton, studi sebelumnya telah menunjukkan dengan jelas adanya korelasi antara leptin dan waktu lari maraton. Semakin rendah kadar leptin, semakin baik performa para pelari. Hasil studi ini kemudian menunjukkan bahwa hormon ini memicu rasa puas saat seseorang melakukan latihan fisik, termasuk olahraga lari.
”Kami berspekulasi bahwa pada manusia, kadar leptin yang rendah meningkatkan motivasi untuk berolahraga dan membuatnya lebih mudah untuk meningkatkan semangat dalam berlari,” ucap Fulton yang juga penulis utama studi tersebut.
Hal senada disampaikan pengajar Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ria Lestari. Menurut Ria, olahraga termasuk berlari dapat membuat tubuh memproduksi hormon dopamin, serotonin, dan endorfin.
Dengan rutin berlari, seseorang bisa memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Pikiran pun bisa lebih tajam serta lebih mudah fokus pada suatu hal. Bagi seseorang dengan kepribadian tertutup atau introvert, berlari dapat menjadi cara yang tepat untuk menghabiskan waktu untuk diri sendiri (me time) sambil mendengarkan musik atau sekarang mendengarkan siniar (podcast) dan buku dalam bentuk suara (audiobook) (Kompas.id, 15/11/2023).
Penulis:
Pradipta PanduEditor:
Wisnu Aji Dewabrata